Harakatuna com. Jakarta – Pemerintah Indonesia dinilai berhasil menekan aksi terorisme dalam dua tahun terakhir, dengan mencatatkan nihil serangan teror sejak 2023. Meski demikian, para ahli memperingatkan bahwa ancaman tersebut belum sepenuhnya hilang dan masih bisa muncul dalam bentuk yang lebih tersembunyi.
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Mirra Noor Milla, menegaskan bahwa situasi kondusif saat ini tidak boleh membuat masyarakat dan pemerintah lengah. Ia menekankan pentingnya memperkuat sistem deteksi dini untuk mengantisipasi potensi ancaman sejak dini.
“Ancaman terorisme masih ada, dan kita perlu memperkuat sistem deteksi dini untuk memitigasi potensi serangan sebelum terjadi,” ujar Prof. Mirra dalam keterangan tertulisnya, Minggu (8/6).
Peringatan ini muncul di tengah penangkapan remaja berinisial MAS oleh Densus 88 Antiteror di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 24 Mei 2025. MAS diduga merupakan anggota jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan kelompok teroris ISIS. Ia juga diketahui aktif menyebarkan propaganda ekstremis di sejumlah wilayah, termasuk di Purworejo.
Prof. Mirra menyebut bahwa peristiwa ini menjadi bukti bahwa kelompok-kelompok radikal masih bergerak, meski tidak selalu menampakkan diri secara terang-terangan.
“Apa yang perlu kita lakukan adalah terus mengamati, terus mengobservasi, dan mengidentifikasi untuk mengenali potensi risiko itu, termasuk lingkungan yang mendukung terjadinya serangan terorisme,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa hasil survei Laboratorium Psikologi Politik UI pada tahun 2021 menunjukkan bahwa wilayah yang pernah mengalami konflik memiliki potensi paling tinggi untuk kembali menjadi lokasi konflik serupa. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah agar melakukan upaya mitigasi secara komprehensif di wilayah-wilayah tersebut.
“Perlu mengobservasi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin terjadi di wilayah-wilayah bekas konflik itu,” ujar Prof. Mirra.
Ia juga mewanti-wanti bahwa ketenangan yang tampak dari kelompok teroris saat ini bukan berarti mereka menyerah, melainkan bisa jadi sedang menjalankan strategi “wait and see”.
Sebagai langkah pencegahan, Prof. Mirra menekankan pentingnya membangun lingkungan sosial yang inklusif, agar masyarakat – terutama individu-individu yang rentan – tidak merasa terpinggirkan dan tidak mudah terseret ke dalam lingkaran radikalisasi.
“Sekarang adalah waktu yang tepat untuk fokus pada strategi pencegahan dan membangun daya tahan komunitas,” pungkasnya.







Leave a Comment