Menelaah Nasionalisme Religius dalam Pemikiran Ali Hasjmy

M. Nur Faizi

08/06/2025

5
Min Read
Nasionalisme

On This Post

Judul Buku: Nasionalisme Ali Hasjmy, Penulis: Mukhtar Amiruddin Ahmad & Zulkifli Abdurrahman Usman, Penerbit: Bandar Publishing, Tahun Terbit: 2025, Halaman: vi + 296 Hlm, ISBN: 978-623-4495-89-8, Kota Terbit: Banda Aceh, Peresensi: Muhammad Nur Faizi.

Harakatuna.com – Buku Nasionalisme Ali Hasjmy yang ditulis oleh Mukhtar Amiruddin Ahmad dan Zulkifli Abdurrahman Usman menghadirkan sebuah kajian mendalam tentang tokoh penting dari Aceh yang kiprahnya dalam membangun kesadaran nasionalisme Indonesia patut mendapat tempat dalam diskursus intelektual kebangsaan. Dengan pendekatan historis-politik, buku ini tidak hanya mendokumentasikan perjalanan hidup dan pemikiran Ali Hasjmy, melainkan menempatkannya sebagai salah satu figur sentral dalam proses perumusan identitas nasional yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Dalam suasana kontemporer yang sering mempertentangkan nasionalisme dan agama, buku ini menjadi penting karena menghadirkan model sintesis antara keduanya melalui pengalaman dan pandangan seorang tokoh bangsa. Ali Hasjmy merupakan pribadi yang kompleks. Dia seorang pejuang kemerdekaan, politisi, sastrawan, sekaligus pemikir Islam. Kombinasi inilah yang menjadikan narasi dalam buku ini kaya akan dimensi, mulai dari aspek spiritualitas, etika publik, hingga strategi politik kebangsaan.

Penulis berhasil menggambarkan bagaimana Ali Hasjmy tidak memandang nasionalisme sebagai sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Ia meyakini bahwa cinta tanah air merupakan bagian integral dari iman, sehingga perjuangan membela bangsa dan negara dapat disejajarkan dengan ibadah. Pemikiran ini terasa relevan dan kontekstual, terutama ketika sebagian masyarakat masih terjebak dalam dikotomi antara agama dan nasionalisme.

Melalui berbagai kutipan, analisis dokumen, dan interpretasi wawancara sejarah, buku ini menjabarkan bagaimana Ali Hasjmy memandang Pancasila bukan sebagai musuh dari nilai-nilai Islam, melainkan sebagai representasi dari prinsip-prinsip etis universal yang selaras dengan ajaran agama. Perspektif ini mencerminkan sikap inklusif dan progresif seorang pemikir yang mampu menjembatani nilai-nilai lokal dan nasional tanpa kehilangan akar identitas kultural dan religiusnya. Oleh sebab itu, karya ini tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga tawaran konseptual yang penting bagi pembangunan bangsa di masa kini.

Nasionalisme ala Ali Hasjmy

Salah satu bagian paling menarik dari buku ini adalah bagaimana Ali Hasjmy mengonstruksi nasionalisme dalam koridor keislaman yang tidak sempit, tetapi justru inklusif dan terbuka terhadap keragaman. Nasionalisme bagi Ali Hasjmy bukanlah semata-mata ideologi modern yang lahir dari Barat, melainkan bentuk kecintaan terhadap tanah air yang tumbuh secara organik dalam kesadaran umat Islam.

Dalam pandangannya, Islam tidak pernah melarang umatnya mencintai tanah kelahiran, bahkan menempatkannya sebagai bagian dari akhlak mulia. Nasionalisme, dalam kerangka pemikiran Ali Hasjmy, bukanlah lawan dari iman, melainkan ekspresi dari tanggung jawab sosial seorang Muslim.

Penulis buku ini menyoroti bahwa gagasan nasionalisme religius Ali Hasjmy lahir dari pengalaman historis dan kontekstual Aceh yang sejak lama memiliki semangat perlawanan terhadap penjajahan. Ali Hasjmy tumbuh dalam tradisi yang mengajarkan bahwa membela tanah air adalah kewajiban spiritual. Dalam perjuangannya, ia menekankan pentingnya integrasi antara nilai-nilai Islam dan semangat kebangsaan, sehingga tidak ada ruang bagi ekstremisme ideologis yang memecah-belah umat dan bangsa.

Buku ini menunjukkan bahwa pendekatan Ali Hasjmy berakar pada prinsip tawassuth (moderat), tasamuh (toleransi), dan ta’awun (kerja sama), yang menjadi pilar penting dalam membangun Indonesia yang plural dan demokratis.

Gagasan tersebut diwujudkan dalam berbagai aktivitas politik dan sosialnya, termasuk ketika ia menjadi Gubernur Aceh dan aktif di berbagai organisasi kebudayaan dan keislaman. Ia tidak pernah berhenti menekankan pentingnya menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta, bukan alat kekuasaan yang memaksakan kehendak. Di tengah meningkatnya radikalisasi yang mengklaim kebenaran tunggal, pandangan Ali Hasjmy menjadi semacam penyeimbang yang menghadirkan perspektif alternatif bahwa Islam dan nasionalisme dapat berjalan berdampingan secara harmonis.

Penulis menunjukkan bahwa keberhasilan Ali Hasjmy tidak hanya diukur dari jabatan politiknya, tetapi lebih pada warisan pemikiran yang terus relevan hingga kini. Ia menekankan pentingnya pendidikan sebagai sarana untuk menanamkan nilai kebangsaan yang berakar pada keimanan. Dalam konteks ini, buku ini berperan penting sebagai media edukasi yang membuka cakrawala berpikir pembacanya, khususnya generasi muda yang sedang mencari identitas dalam keragaman nilai dan ideologi.

Relevansi Pemikiran Ali Hasjmy

Buku Nasionalisme Ali Hasjmy tidak berhenti pada eksplorasi sejarah, tetapi secara implisit mengajak pembaca merefleksikan kondisi kebangsaan Indonesia hari ini. Ketika isu nasionalisme kerap dipolitisasi dan dibenturkan dengan sentimen keagamaan, warisan pemikiran Ali Hasjmy muncul sebagai inspirasi yang mencerahkan. Ia menunjukkan bahwa nasionalisme tidak harus eksklusif atau sekuler dalam arti yang kaku, tetapi dapat tumbuh dari nilai-nilai religius yang menekankan cinta, tanggung jawab, dan keadilan sosial.

Penulis mengajak pembaca untuk meninjau kembali posisi umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pandangan Ali Hasjmy yang menekankan sinergi antara nilai-nilai Islam dan Pancasila sangat relevan untuk menjawab tantangan polarisasi sosial dan politik yang menguat dalam satu dekade terakhir. Ia tidak hanya berbicara dari posisi ideologis, tetapi dari pengalaman empiris sebagai bagian dari elite politik yang pernah berkuasa. Buku ini menampilkan bagaimana integritas, ketulusan, dan visi kebangsaan dapat menjadi kekuatan untuk merawat keutuhan bangsa di tengah kompleksitas zaman.

Gaya penulisan yang digunakan dalam buku ini bersifat akademik, namun tetap komunikatif. Struktur naratif yang rapi memudahkan pembaca untuk mengikuti alur pemikiran dan perjalanan hidup tokoh yang dibahas. Penulis berhasil menyeimbangkan antara penyajian data faktual dan refleksi teoritik, sehingga buku ini dapat dinikmati baik oleh kalangan akademisi maupun masyarakat umum yang tertarik pada isu kebangsaan dan keislaman.

Buku ini pantas dibaca oleh siapa pun yang ingin memahami bagaimana semangat nasionalisme dapat tumbuh dari spiritualitas dan nilai-nilai agama yang luhur. Di tengah dunia yang terus berubah, pendekatan seperti yang ditawarkan oleh Ali Hasjmy menjadi alternatif yang menjanjikan dalam membangun peradaban bangsa yang beradab, inklusif, dan berkelanjutan. Pembacaan terhadap karya ini tidak hanya akan memperkaya khazanah intelektual, tetapi juga memberikan inspirasi moral untuk terus merawat Indonesia dalam bingkai persatuan dan keberagaman.

Leave a Comment

Related Post