Harakatuna.com. Samarinda – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalimantan Timur, Sufian Agus, menegaskan pentingnya peran organisasi kemasyarakatan (ormas) sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas daerah serta mencegah penyebaran paham radikal di tengah masyarakat.
Hal itu disampaikannya saat membuka kegiatan Rembuk Merah Putih yang diselenggarakan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Timur bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Rabu (4/6).
“Ormas saya anggap sebagai mata dan telinga pemerintah di lapangan. Mereka punya akses langsung ke masyarakat dan bisa memberikan informasi awal jika ada potensi gangguan keamanan,” ujar Sufian dalam sambutannya.
Ia menyebutkan, dari sekitar 3.000 ormas yang tercatat sebelumnya, kini hanya sekitar 1.000 ormas yang terverifikasi aktif dan bergerak di berbagai sektor, seperti sosial, pendidikan, dan kesehatan.
Menurutnya, deteksi dini terhadap radikalisme bisa dimulai dari pengamatan terhadap perilaku-perilaku sederhana di lingkungan sekitar. “Kalau ada warga yang tiba-tiba menutup diri, tidak mau ikut gotong royong, atau menghindar dari interaksi sosial, itu bisa menjadi tanda awal. Dan di sinilah peran ormas penting untuk melaporkan ke RT, kelurahan, atau aparat keamanan,” jelasnya.
Sufian juga menekankan bahwa pencegahan harus diutamakan dibandingkan dengan penindakan. “Kalau kita baru bertindak setelah kejadian, itu artinya kita sudah terlambat. Pencegahan adalah kunci,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya menciptakan rasa aman di daerah sebagai prasyarat masuknya investasi dan percepatan pembangunan. “Investor tidak akan datang ke daerah yang rawan konflik atau tidak aman. Jadi keamanan itu fondasi utama bagi kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan bahwa ideologi bangsa adalah kekuatan yang harus dijaga bersama. Menurutnya, ancaman terhadap Indonesia kini tidak selalu bersifat fisik, melainkan menyerang melalui budaya, ekonomi, bahkan ruang digital yang menyasar generasi muda. “Sekarang serangannya bukan lagi lewat bom, tapi lewat media sosial, tontonan, dan gaya hidup. Karena itu, anak muda harus diberi pemahaman dan dilibatkan dalam menjaga ideologi bangsa,” ujar Sufian.
Acara Rembuk Merah Putih ini diikuti oleh kalangan mahasiswa, santri pondok pesantren, jurnalis, serta perwakilan ormas Islam. Hadir sebagai narasumber, wartawan senior dari Kompas Jakarta, Willy Pramulia, yang memberikan wawasan terkait peran media dalam menangkal ekstremisme.








Leave a Comment