Harakatuna.com. Jakarta — Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang tahun ini mengusung tema “Bangkit Bersama Wujudkan Indonesia Kuat”, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menjadi tuan rumah sebuah acara reflektif dan edukatif: Bedah Film dan Diskusi bertajuk “Kembali ke Titik”. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Detasemen Khusus 88 Antiteror, serta Kepolisian Republik Indonesia.
Acara yang berlangsung pada Selasa (20/5) ini dihadiri oleh kepala madrasah dan sekolah dari berbagai wilayah di DKI Jakarta. Tujuannya tak hanya untuk memperingati momen historis kebangkitan nasional, tetapi juga untuk menanamkan nilai-nilai moderasi beragama dan membangun kesadaran kolektif dalam menangkal radikalisme, khususnya di kalangan pelajar.
Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta, Nur Pawaidudin, dalam sambutannya menekankan bahwa moderasi beragama merupakan kunci utama dalam menjaga persatuan bangsa di tengah tantangan zaman. “Moderasi beragama bukan hanya tanggung jawab Kemenag. Kita semua harus berperan agar pemahaman terhadap agama tidak berkembang menjadi radikal,” ujar Nur.
Ia menambahkan bahwa terdapat sejumlah indikator penting untuk mengukur moderasi beragama, antara lain komitmen terhadap NKRI sebagai harga mati, toleransi atas kebebasan keyakinan orang lain, penerimaan terhadap tradisi lokal, keharmonisan dalam keluarga, serta kewaspadaan terhadap penyebaran paham radikal di media sosial.
Diskusi dalam acara ini turut menyoroti bahaya laten ekstremisme yang kian masif menyusup lewat media digital. Perwakilan dari Detasemen Khusus 88, melalui staf Prayogo Cahyono, menyampaikan bahwa literasi media menjadi senjata penting untuk membentengi generasi muda dari pengaruh paham ekstrem. “Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kritis kepada siswa melalui literasi dan media, agar mereka mampu mengenali dan menangkal pengaruh negatif paham ekstremisme,” jelasnya.
Puncak acara diisi dengan pemutaran film dokumenter “Kembali ke Titik”, karya sutradara Ridho Ristiyanto. Film ini mengangkat kisah nyata Masykur Hadi, seorang mantan narapidana kasus terorisme, yang berjuang kembali ke masyarakat setelah menjalani masa hukuman.
Kisah Hadi menggambarkan refleksi mendalam atas kesalahan masa lalu, serta peran sentral sang istri dalam proses rehabilitasi dan reintegrasi sosialnya. Melalui narasi yang jujur dan menyentuh, film ini membuka perspektif baru tentang pentingnya pendekatan keluarga dalam menangani eks napiter. “Pendekatan seperti yang dilakukan oleh istri Hadi bisa jadi lebih efektif dibandingkan pendekatan hukum atau penjara semata,” ujar salah satu peserta diskusi yang enggan disebut namanya.
Melalui kegiatan ini, semangat Hari Kebangkitan Nasional dipadukan dengan upaya konkret dalam membangun ketahanan sosial melalui pendekatan humanis dan preventif. Pesan penting yang ingin disampaikan adalah bahwa menjaga keutuhan bangsa dari ancaman ideologi kekerasan membutuhkan peran aktif semua pihak, mulai dari lembaga pemerintah hingga keluarga sebagai unit terkecil masyarakat.
Dengan semangat kebangkitan, acara ini mengajak semua elemen bangsa untuk bersatu melawan radikalisme dan ekstremisme demi Indonesia yang kuat dan damai.
Hingga saat ini, pihak berwenang belum memberikan informasi lebih lanjut mengenai barang bukti yang disita maupun peran A dalam jaringan teroris tersebut. Penyelidikan mendalam masih terus dilakukan oleh Densus 88 di Jakarta.







Leave a Comment