Hijrah Kekinian: Antara Allah, Algoritma, dan Eksistensi

Akhmad Fajri Amirudin

26/05/2025

5
Min Read
Hijrah Algoritma

On This Post

Harakatuna.com – Kata “hijrah” dulu terdengar sakral. Mengingatkan kita pada langkah besar Rasulullah Saw. dari Makkah ke Madinah, sebuah perubahan penuh risiko, pengorbanan, dan visi peradaban. Tapi hari ini, “hijrah” kerap tampil sebagai hashtag, slogan, atau bahkan brand gaya hidup. Hijrah tak lagi hanya soal spiritualitas dan perjuangan, tapi juga soal tampilan, algoritma, dan eksistensi digital.

Hijrah telah berubah bentuk. Dari ruang batin yang sunyi menuju linimasa yang ramai. Dari proses kontemplatif menjadi performatif. Tidak semua tentu saja. Tapi tren ini nyata, dan patut kita renungkan: apakah kita benar-benar berhijrah karena Allah, atau karena ingin tampil beda di mata manusia, dan lebih parahnya lagi, di hadapan kamera?

Fenomena hijrah belakangan ini seperti gelombang. Ia datang cepat, menyebar luas, dan menjangkau siapa saja yang aktif di media sosial. Tiba-tiba, banyak tokoh publik mengenakan gamis, cadar, atau celana cingkrang. Akun Instagram yang dulunya penuh endorse kosmetik, kini berubah jadi dakwah. Feed berubah, caption berubah, followers pun melonjak.

Kita tentu bersyukur. Setiap langkah mendekat kepada Allah adalah hal yang baik. Tapi ketika hijrah menjadi semacam “branding”, kita harus waspada, apakah ini bentuk penghambaan, atau sekadar pencitraan?

Hijrah jadi tren. Tapi ketika tren lebih kuat dari esensi, maka risiko yang muncul adalah hijrah yang dangkal. Hijrah karena ikut-ikutan. Hijrah karena ingin diakui. Hijrah karena ingin tampil berbeda padahal justru terjebak pada keseragaman baru yang tak kalah sempit.

Kita hidup di era algoritma. Media sosial tidak netral. Ia menunjukkan apa yang kita sukai, lalu memperbanyaknya. Kalau kita suka konten dakwah, yang muncul akan itu-itu terus. Tapi algoritma juga menyukai konflik, drama, dan polarisasi. Maka tak heran, banyak konten hijrah yang kemudian berubah menjadi konten perpecahan, siapa yang paling benar, siapa yang paling sesat, siapa yang paling sunnah.

Dakwah menjadi kompetisi konten. Siapa yang paling viral, siapa yang paling menohok, siapa yang paling keras menegur “yang belum hijrah”. Kita berubah karena lingkungan digital memaksa kita berubah, bukan karena kesadaran rohani, tapi karena keinginan untuk tetap relevan di timeline.

Bahkan terkadang, kita tidak sadar, yang kita ikuti bukan lagi Allah, tapi algoritma.

Hijrah seharusnya mengubah hati, bukan hanya hoodie. Tapi hari ini, banyak perubahan yang hanya berhenti di permukaan. Pakaiannya berubah, gayanya berubah, tapi mulutnya tetap tajam, akhlaknya tetap rendah, dan sikapnya tetap keras.

Hijrah menjadi semacam kostum religius. Kita merasa suci karena penampilan, bukan karena pencarian. Kita merasa lebih benar karena lebih taat secara simbolik, tapi lupa bahwa Allah tidak hanya melihat pakaian, tapi juga hati dan perilaku.

Padahal, apa gunanya hijrah yang penuh kebencian pada yang belum “seperti kita”? Apa gunanya menutup aurat kalau mulut tetap terbuka untuk mencaci? Apa gunanya tilawah harian kalau etika bermedsos penuh ujaran kebencian?

Hijrah bukan tentang menghakimi orang lain yang masih di belakang, tapi mengakui bahwa kita juga masih dalam perjalanan yang jauh.

Hijrah itu proses, bukan stempel. Ia tidak bisa diukur dari seberapa panjang gamis kita, seberapa rajin kita unggah video kajian, atau seberapa banyak kita menghindari musik. Hijrah itu gerakan hati, sunyi, pelan, dan penuh jatuh-bangun.

Dan proses itu tidak bisa dibanding-bandingkan. Hijrah bukan kompetisi siapa yang lebih cepat move on dari masa lalu. Karena Allah menilai ketaatan, bukan kecepatan. Setiap orang punya jalan sendiri. Punya waktu sendiri. Dan kita tidak diberi hak untuk merasa lebih tinggi hanya karena memulai lebih dulu.

Sayangnya, di era digital ini, hijrah kerap diberi label cepat-cepat. Seolah begitu ganti profile picture pakai sorban, kita sudah jadi ustaz. Begitu berhenti nonton drama Korea, kita sudah paling benar. Padahal, kita tak tahu. Bisa jadi di balik diam mereka, ada luka dan pertumbuhan yang tak pernah mereka pamerkan.

Maka mari kita tanya diri sendiri, dalam-dalam: untuk siapa sebenarnya kita berubah? Apakah untuk Allah yang Maha Melihat, atau untuk manusia yang hanya menilai dari thumbnail dan caption? Apakah untuk ketenangan jiwa, atau untuk tepuk tangan maya?

Apakah hijrah kita membawa kita pada kedamaian, atau justru mempersempit hidup kita dalam kotak-kotak eksklusivitas yang memisahkan?

Hijrah yang sejati membuat kita rendah hati, bukan tinggi hati. Membuat kita memeluk sesama, bukan mengusir mereka. Membuat kita lebih sadar, bahwa kita tidak tahu isi hati manusia, dan itu sepenuhnya hak Allah.

Mari kita pulihkan makna hijrah. Kembalikan ia pada tempatnya, perjalanan rohani, bukan hanya transformasi visual. Hijrah adalah proses yang terus-menerus. Hari ini kita merasa dekat, besok bisa saja kita lalai. Maka kita terus perbarui niat, terus koreksi motivasi.

Jangan biarkan hijrah kita jadi bahan konten. Jangan sampai ketaatan berubah jadi tontonan. Jangan biarkan ikhlas dikaburkan oleh likes dan validasi.

Karena sejatinya, yang kita cari bukan tepuk tangan dari manusia. Tapi ridha dari Yang Maha Lembut, yang tahu setiap air mata malam kita, dan setiap langkah kecil mendekat meski terseok-seok.

Hijrah bukan tentang menang dari orang lain. Tapi tentang menang dari diri sendiri. Bukan tentang siapa yang paling cepat berubah, tapi siapa yang tetap istikamah di tengah godaan tampil dan dilihat.

Di era algoritma ini, yang paling berharga justru keheningan. Proses-proses yang tidak di-posting, doa-doa yang tidak di-screenshot, dan perubahan yang hanya Allah yang tahu.

Semoga hijrah kita adalah hijrah yang utuh yang tidak hanya mengganti tampilan, tapi juga memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan sesama. Dan semoga, dalam perjalanan ini, kita tidak tersesat oleh gengsi dan algoritma.

Leave a Comment

Related Post