Harakatuna.com – Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan amanah untuk menjadi juri lomba esai oleh sebuah organisasi eksternal mahasiswa. Saya tidak kaget-kaget banget ketika mengetahui bahwa yang ikut lomba esai tersebut, alias yang mengumpulkan artikelnya, sedikit.
Saya bisa memahami situasi tersebut, bahwa dunia tulis-menulis memang tidak terlalu digandrungi oleh banyak mahasiswa. Namun, ini akan sangat berbahaya jika dibiarkan terus-menerus. Bukankah tugas wajib seorang mahasiswa adalah menulis? Menulis skripsi salah satunya.
Namun sebelum menulis skripsi, mahasiswa harus terbiasa lebih dulu dengan menulis artikel yang lain. Dosen harus mendorong mahasiswanya untuk aktif menulis, baik menulis artikel populer atau artikel ilmiah. Ini supaya mahasiswa juga nantinya tidak kaget ketika disuruh menggarap skripsi.
Budaya menulis harus dibangun di dunia kampus. Karena dari kampuslah, kelak akan lahir para cendekiawan yang bisa mengubah kondisi suatu bangsa.
Namun realitanya, ketika mahasiswa diberi tugas menulis, respons mereka seperti menolak. Menulis, bagi sebagian mahasiswa, seperti binatang buas yang harus dihindari. Hanya beberapa mahasiswa yang mau mengerjakan tugas menulis tersebut dengan sepenuh hati.
Membangun Tradisi Menulis
Tradisi menulis di kampus perlu dibangun. Dalam hal ini, dosen dapat berperan penting menumbuhkan minat baca dan menulis seorang mahasiswa. Pengalaman saya juga dulu seperti itu. Saya seringkali didorong oleh dosen untuk aktif menulis. Hingga pada akhirnya saya mulai terbiasa menulis, dan beberapa orang menilai saya telah punya keahlian di bidang ini.
Menjadi narasumber atau moderator pada acara kepenulisan pun pernah beberapa kali saya lakukan. Bahkan, beberapa bulan lalu, saya menjadi moderator pada sebuah kegiatan kelas menulis yang diadakan oleh komunitas Griya Riset Indonesia (GRI) di Semarang.
Salah satu poin yang saya tangkap dari materi yang disampaikan narasumber, sebut saja namanya Joko, pada acara tersebut adalah soal konsistensi dalam menulis. Intinya, Pak Narasumber mengatakan bahwa menulis itu harus ditradisikan. Dan, saya pun mengangguk-ngangguk sembari mendengarkan dengan seksama penjelasan narasumber.
Pak Joko bukan orang pertama yang bilang seperti itu. Dulu, saat mengikuti Kelas Menulis Online-nya Iqbal Aji Daryono, penulis yang status Facebook-nya selalu ramai, pernyataan serupa juga pernah disampaikan oleh Pak Iqbal.
Begitu pun baru-baru ini, ketika saya mengikuti acara workshop penelitian dan publikasi karya ilmiah di Semarang, narasumber mengatakan bahwa menulis adalah hanya soal kebiasaan. Orang yang belum terbiasa menulis, maka ia harus membiasakan diri untuk menulis, agar mampu melahirkan karya.
Menulis adalah Membangun Tradisi
Betul. Menulis adalah soal tradisi. Menulis adalah membangun kebiasaan. Tidak ujug-ujug baru sekali mencoba menulis, langsung bisa. Kalau toh ada yang baru pertama, atau beberapa kali mencoba nulis langsung bisa, tulisannya bagus, itu tentu tak banyak. Bahkan, penulis yang terkenal sekaliber J.K. Rowling (penulis novel Harry Potter) pun pernah ditolak belasan kali naskahnya oleh penerbit, sebelum menuai kesuksesan seperti sekarang ini.
Saya pun, saat masih S1, tidak banyak menelurkan karya tulis. Tradisi menulis rutin baru saya bangun justru selepas lulus kuliah sarjana. Namun saya sudah tersadar bahwa mahasiswa S1 memang harus menulis, entah opini untuk media massa atau artikel ilmiah untuk jurnal.
Bagi saya, menulis bukan soal mau dipublish di media apa, tapi juga merupakan tentang bagaimana kita mau belajar. Belajar mencari ide atau topik, belajar merangkai kata demi kata, belajar menyusun kalimat dan paragraf, belajar menuangkan gagasan, dan lain sebagainya. Semangat belajar itu yang kemudian membuat saya termotivasi untuk konsisten menulis, meski banyak sekali rintangannya.
Semangat menulis saya makin meningkat signifikan sejak memutuskan kuliah S2 (2021). Sejak itu, selain menulis berita dan opini, saya juga belajar menulis artikel ilmiah. Dan, alhamdulillah, tradisi menulis artikel ilmiah, berita, dan opini, masih terpelihara hingga sekarang. Perasaan kadang nggak karuan jika dalam seminggu saja, saya nggak berhasil menghasilkan minimal satu tulisan.
Menulis Ibarat Mengayuh Sepeda
Menulis ibarat kita mengayuh sepeda. Bersepeda membutuhkan yang namanya keseimbangan dan kekuatan. Dalam konteks menulis, jika kita nggak ingin terjatuh alias jika kita ingin terus produktif, maka kita harus terus mengayuh sepeda itu. Kita perlu mengayuh sepeda itu sampai ke tujuan akhir.
Sembari kita fokus ke tempat tujuan, kita perlu yang namanya modal awal yaitu kemauan dan waktu. Dua hal ini, jika kita tak bisa memenuhinya, maka mimpi mempublikasikan tulisan di media hanya akan menjadi angan-angan saja. Singkatnya, kita harus ada kemauan yang tinggi dan mau meluangkan waktu untuk menulis.
Untuk melahirkan satu tulisan utuh, perlu energi yang kuat dan istiqomah. Maka, bangunlah tradisi menulis dari sekarang, mumpung kita masih bisa berpikir, kita masih memiliki mata, dan kita masih bisa menggerakkan jari-jari kita. Manusia dikaruniai akal oleh Allah salah satunya agar kita bisa berpikir. Dalam menulis, berpikir menjadi suatu keniscayaan.
Tradisi menulis perlu dibangun tidak hanya sebatas wacana. Seseorang harus punya target yang jelas. Misal, dalam menulis opini/esai, saya selalu menargetkan minimal satu minggu satu tulisan artikel populer, atau kalau lagi sibuk-sibuk banget dengan tuntutan pekerjaan aktivitas lain, maka ya, minimal satu bulan dua artikel opini.
Untuk tulisan berjenis artikel ilmiah, saya nggak ada target khusus. Kalau ada kesempatan mengikuti event Call For Paper, konferensi ilmiah, atau agenda lain, ya sebisa mungkin saya kerjakan. Meski nggak pakai target, dalam satu semester setidaknya saya bisa menghasilkan 3-4 artikel yang siap submit.
Selain ibarat mengayuh sepeda, menulis bagi saya juga ibarat seperti menanam padi. Jika kita tanam padi, yang tumbuh tidak hanya padi, tapi juga rumput. Padi maupun rumput, sama-sama bisa kita manfaatkan dan memberi berkah. Begitu pun dengan menulis. Orang yang menanam saja belum tentu panen apalagi yang tidak mau menanam.
Tulisan yang berhasil kita kirim di media dan kita istiqomah melakukannya, kita tidak hanya berbagi ilmu pengetahuan ke khalayak luas. Tapi, kita juga mendapatkan reward lain yang terkadang tidak terduga-duga. Nah, rezeki yang tak terduga-duga tersebut yang saya umpamakan sebagai tumbuhnya rumput ketika menanam padi.







Leave a Comment