Harakatuna.com – Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam pola komunikasi sosial-keagamaan di Indonesia. YouTube, Instagram, TikTok, hingga WhatsApp menjelma mimbar baru penyampaian pesan agama. Namun, kemudahan juga membuka celah penyebaran ideologi radikal yang kerap menyusupi ruang-ruang dakwah digital. Di tengah arus informasi yang deras dan tak selalu tersaring, upaya kontra-radikalisasi memerlukan pendekatan yang segar, kreatif, dan mampu menjangkau audiens luas. Salah satunya: humor.
Fenomena terbaru menunjukkan peningkatan penyebaran konten radikal menjelang tahun politik. Menurut laporan BenarNews (2024), sejak Januari 2022 hingga Oktober 2023, tercatat 526 sebaran hoaks terkait pemilu. Banyak di antaranya dimanfaatkan kelompok radikal untuk menyebarkan disinformasi dan memperkuat pengaruh ideologis mereka.
Meme, potongan video, dan konten visual juga dipelintir agar tampak lucu namun sarat kebencian. Target utama mereka adalah generasi muda yang akrab dengan medsos namun belum memiliki fondasi literasi digital dan agama yang kuat.
JI secara aktif mengeksploitasi algoritma medsos untuk menyebarkan intoleransi dan ujaran kebencian. Mereka membalut narasi ajakan membenci kelompok tertentu atau delegitimasi pemerintah dengan gaya yang seolah informatif, bahkan menghibur. Di situlah ruang dakwah digital menjadi rentan, tumbuh tanpa pagar epistemik yang ketat. Siapa pun bisa jadi “ustaz dadakan” dengan bermodalkan kamera depan dan keyakinan kuat, bukan pengetahuan mendalam.
Menanggapi itu, muncul gelombang baru gerakan kontra-radikalisasi berbasis humor. NU Garis Lucu dan Muhammadiyah Garis Lucu hadir sebagai bentuk perlawanan kultural terhadap narasi ekstremis. Lewat satire, mereka menyentil logika sempit kelompok radikal sekaligus memperkuat semangat moderasi dan toleransi. Humor digunakan bukan untuk menertawakan agama, tapi untuk mengolok-olok pemelintiran agama demi kepentingan politik dan kekuasaan.
Studi Khalimatu Nisa (2021) dari UIN Sunan Ampel Surabaya mengungkap, NU Garis Lucu menggunakan humor sebagai strategi dekonstruksi terhadap otoritas pseudo-keagamaan yang dibangun kelompok radikal. Meme dan cuitan mereka sengaja membenturkan absurditas pemahaman radikal dengan realitas sosial, membangun kesadaran publik bahwa ajaran Islam tidak identik dengan kekerasan, intoleransi, atau anti-demokrasi. Humor yang dikemas ringan ternyata ampuh untuk membuka ruang diskusi yang sebelumnya kaku dan penuh kecurigaan.
Bagaimana Konten Humor Jadi Kontra-Narasi?
Tentu saja, efektivitas pendekatan tersebut tidak datang begitu saja. Ada proses panjang membangun kelompok, kepercayaan, dan narasi tandingan yang konsisten. Humor menjadi sarana soft resistance, perlawanan halus tapi tajam terhadap arus ekstremisme. Ketika narasi radikal mengancam lewat amarah dan ketakutan, humor justru menenangkan dan mengajak berpikir. Ia tidak frontal menyerang, tapi menyisip dalam keseharian.
Pendekatan humor juga menunjukkan relevansi besar dalam konteks psikologi media. Teori “inoculation” (penyuntikan vaksin informasi) menyebutkan bahwa paparan terhadap versi ringan dari argumen menyesatkan, misalnya lewat satire, bisa membuat seseorang lebih kebal terhadap propaganda sungguhan. Humor juga memfasilitasi penerimaan pesan karena tidak memicu resistansi langsung. Maka, strategi ini berpeluang besar dalam kampanye kontra-radikalisasi di kalangan muda.
Namun demikian, penting pula untuk mencermati batas antara humor kritis dan olok-olok yang bisa menyinggung keyakinan. Efektivitas humor dalam kontra-radikalisasi harus disertai dengan sensitivitas sosial dan budaya. Tidak semua bentuk satire bisa diterima dengan lapang, terlebih jika menyinggung aspek teologis secara vulgar. Di situlah pentingnya aktor-aktor humoris digital memiliki pemahaman keagamaan dan sosial yang baik.
Negara juga perlu hadir dengan pendekatan represif terhadap konten radikal, sekaligus dukungan terhadap inisiatif kontra-narasi yang kreatif. BNPT, misalnya, dapat menggandeng komunitas meme moderat, influencer Islam progresif, dan akademisi untuk membangun ekosistem digital yang sehat. Literasi digital yang bersifat partisipatif dan membumi akan lebih efektif daripada sekadar blokir sepihak.
Penting pula memasukkan pendekatan kontra-radikalisasi berbasis budaya pop dan humor dalam kurikulum digital literacy. Pelajar perlu dikenalkan pada cara-cara cerdas membaca informasi keagamaan di medsos, membedakan konten moderat dengan ekstrem, serta dibekali kemampuan berpikir kritis dan empati terhadap perbedaan. Humor dapat menjadi jembatan yang menjinakkan isu serius ke dalam bahasa yang lebih ramah Gen Z.
Perlawanan terhadap radikalisme digital adalah soal ideologi, narasi, dan daya tarik. Jika kelompok radikal bisa menyebarkan ajarannya lewat video pendek, meme, dan kampanye daring, maka kontra-narasi pun harus tampil dengan daya tarik serupa—tanpa kehilangan nilai substansial. Humor jadi alat yang mampu merangkul, mengedukasi, sekaligus menggugah. Di balik tawa yang sederhana, tersimpan kritik tajam dan harapan besar akan ruang digital yang damai, toleran, dan inklusif.
Jika kita ingin memenangkan pertempuran narasi di era digital, maka jangan hanya mengandalkan ceramah panjang dan regulasi, tapi rangkullah pula kekuatan satire, parodi, dan meme. Karena kadang, senyum kecil yang tulus bisa lebih ampuh membungkam kebencian ketimbang debat berjam-jam.








Leave a Comment