Hijrah Gen Z: Antara Spirit Moderasi Islam dan Kesadaran Kontra-Ekstremisme

Naila Ilmi Kamila

07/05/2025

6
Min Read
Hijrah Gen Z

On This Post

“Jika imanmu hanya diam saat bangsanya terluka, dapat dipastikan jika hijrahmu belum sampai pada tujuan.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari)

Harakatuna.com – Hadis tersebut bukanlah isyarat diam ketika bangsa membutuhkan suara kita. Itu diperuntukkan bagi mereka tidak mampu berbicara dengan baik, baik dalam aspek keislaman maupun kebangsaan. Di tengah derasnya arus globalisasi dan euforia keagamaan yang terus menggelora, generasi muda Muslim, yang lazim disebut Gen Z, menemukan dirinya dalam pusaran perubahan sosial yang cepat dan kadang membingungkan.

Teknologi digital, medsos, dan keterbukaan informasi telah mempercepat proses pencarian identitas. Namun ironisnya, di tengah berlimpahnya akses pada informasi dan kebebasan berekspresi, Indonesia justru menghadapi persoalan yang lebih mendalam dan struktural: krisis identitas nasional di kalangan sebagian pemuda Muslim.

Sebagai seorang pemuda Muslim Indonesia, saya merasa bangga sekaligus cemas. Bangga karena semakin banyak anak muda yang berani tampil dengan identitas keislaman yang tegas. Mereka tidak malu lagi mengenakan atribut religius di ruang publik, baik melalui penampilan fisik, rutinitas ibadah, maupun pernyataan terbuka di media sosial.

Kelompok-kelompok kajian Islam menjamur, mulai dari masjid hingga ruang digital. Mereka saling berbagi konten dakwah, ilmu agama, dan motivasi spiritual yang menjadi warna baru dalam lanskap keagamaan nasional. Itu jelas merupakan capaian positif, penanda tumbuhnya kepercayaan diri generasi muda dalam merawat dan menunjukkan identitas spiritualnya di tengah kehidupan modern.

Namun, kebanggaan itu tidak luput dari kekhawatiran. Sebab semangat keislaman yang begitu membuncah, jika tidak dibarengi dengan pemahaman yang utuh tentang konteks kebangsaan, bisa menjelma menjadi eksklusivisme yang menutup diri dari realitas sosial yang luas.

Di beberapa ruang, narasi yang berkembang justru menempatkan nasionalisme seolah-olah sebagai konsep yang berseberangan dengan keimanan. Tak jarang, nasionalisme dianggap sebagai doktrin duniawi yang tak layak dipegang oleh seorang Muslim sejati. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai produk Barat yang sekuler dan bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid. Wacana-wacana tersebut meresap ke ruang-ruang diskusi anak muda Muslim, khususnya mereka yang sedang dalam proses hijrah.

Pertanyaannya: benarkah cinta tanah air tidak sejalan dengan keimanan? Apakah menjadi warga negara yang nasionalis berarti mencairkan identitas keislaman? Dan lebih jauh lagi, adakah dasar dalam ajaran Islam yang menegasikan pentingnya tanggung jawab terhadap bangsa dan negara?

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penting kiranya kita kembali menegaskan bahwa identitas Muslim dan identitas kebangsaan bukanlah entitas yang saling menegasikan, melainkan dua sisi dari satu koin yang sama. Pemuda Muslim Gen Z adalah warga negara Indonesia sebagaimana masyarakat lainnya. Mereka lahir, tumbuh, dan mendapatkan hak-hak sipil dari tanah air yang mereka pijak.

Maka sudah sewajarnya pula jika mereka memikul tanggung jawab sosial sebagai bagian dari bangsa. Taat beragama tidak pernah berarti abai terhadap lingkungan sekitar. Sebaliknya, semakin tinggi keimanan seseorang, semakin besar pula dorongan untuk memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.

Nasionalisme bukan sekadar soal simbolik seperti mengibarkan bendera atau menyanyikan lagu kebangsaan. Nasionalisme adalah kesadaran kolektif akan tanggung jawab terhadap kelangsungan bangsa dan masa depan bersama. Ia adalah bentuk penghormatan terhadap warisan sejarah, perjuangan para pendiri bangsa, serta pengakuan atas kebhinekaan yang menyatukan kita sebagai sebuah negara.

Dalam Islam sendiri, mencintai bangsa bukanlah perbuatan yang tercela. Sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, Rasulullah sendiri mencintai Makkah, tanah kelahirannya, dan sangat bersedih ketika harus meninggalkannya. Dalam satu hadis, bahkan disebutkan bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman (ḥubb al-waṭan min al-īmān). Kendati secara sanad hadis tersebut diperdebatkan, maknanya tetap sejalan dengan moderasi Islam.

Identitas nasional, dengan segala kompleksitasnya, adalah hasil dari proses panjang interaksi antarberbagai kelompok sosial. Ramlan Surbakti, seorang cendekiawan politik Indonesia, pernah menuturkan bahwa dalam negara majemuk seperti Indonesia, merumuskan bentuk identitas nasional tidak bisa dilakukan secara sepihak, melainkan melalui kerja keras kolektif seluruh komponen masyarakat.

Pemuda Muslim, sebagai bagian dari elemen sosial bangsa, semestinya menjadi bagian dari proses itu, bukan menjauhinya. Apalagi jika mereka ingin tampil sebagai generasi yang membawa perubahan, maka perubahan itu harus dimulai dari dalam diri sendiri.

Hal itu sejalan dengan firman Allah dalam surah Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” Ayat ini menjadi peringatan bahwa perubahan sosial, politik, dan kultural tidak mungkin terjadi jika generasi mudanya justru pasif dan tertutup.

Sayangnya, sebagian kalangan masih memahami hijrah sebagai sekadar perubahan penampilan dan peningkatan rutinitas ibadah perorangan. Hijrah dianggap cukup jika seseorang mulai mengenakan pakaian syar’i, rajin mengaji, atau mengikuti kajian rutin. Padahal, esensi hijrah yang dicontohkan Rasulullah bukan soal berpindah tempat atau mengubah gaya hidup semata, melainkan tentang membangun peradaban dan memperluas manfaat.

Nabi Muhammad tidak hanya mengajarkan tentang salat dan puasa, tetapi juga memimpin negara, menyusun konstitusi Madinah, membangun sistem ekonomi, dan merawat pluralitas masyarakat. Inilah bentuk hijrah yang paripurna—iman yang aktif, bukan pasif; yang membangun, bukan menghindar.

Generasi Muslim saat ini, khususnya Gen Z, memiliki potensi luar biasa. Mereka tumbuh di era yang memungkinkan ekspresi iman sekaligus kecanggihan teknologi. Mereka melek digital, kritis terhadap isu-isu sosial, dan sangat responsif terhadap fenomena global.

Banyak dari mereka terlibat dalam gerakan-gerakan sosial berbasis keislaman: penggalangan dana kemanusiaan, kampanye anti-korupsi, partisipasi dalam pemilu, atau advokasi lingkungan. Islam dan nasionalisme bukan dua kutub yang bertentangan. Justru dalam diri Gen Z Muslim-lah ada harapan menjembatani antara iman yang kokoh dan logika kebangsaan yang sehat.

Namun untuk itu, diperlukan pembaruan cara pandang dalam memahami Islam. Islam harus dilihat sebagai sistem hukum dan spirit yang menuntun umatnya pada tanggung jawab sosial. Seorang Muslim yang taat seharusnya menjadi teladan dalam kejujuran, kepedulian sosial, keadilan, dan kontribusi terhadap pembangunan bangsa.

Islam merupakan jalan hidup yang memuliakan manusia dan menjaga bumi. Maka tidak cukup seorang pemuda berkata “saya hijrah” jika hijrahnya hanya memutuskan hubungan sosial di luar kelompoknya, menjauh dari ruang publik, dan menutup diri dari realitas kebangsaan.

Kita memerlukan definisi hijrah yang inklusif dan progresif. Hijrah yang bukan saja menjadikan seseorang lebih religius secara individual, tetapi juga hadir secara sosial. Hijrah yang tidak hanya menghasilkan umat yang taat dalam salat, tetapi juga berani bersuara melawan korupsi, ketidakadilan, dan kekerasan atas nama agama. Hijrah yang tidak hanya mengubah tampilan luar, tetapi juga memperluas makna cinta—cinta pada sesama manusia dan cinta pada tanah air. Moderasi Islam di situ berarti merawat keseimbangan antara keyakinan dan kemanusiaan.

Hijrah Gen Z bukanlah tentang memilih antara menjadi Muslim yang taat atau warga negara yang baik. Keduanya bisa bersatu dalam satu jati diri yang utuh: Muslim beriman yang intelektual, sadar sosial, dan peduli pada negeri. Karena Islam sejatinya tidak hadir dalam ruang hampa, tetapi dalam dunia nyata yang penuh persoalan dan memerlukan solusi. Dan siapa lagi yang akan membawa solusi itu, kalau bukan Gen Z itu sendiri?

Leave a Comment

Related Post