Harakatuna.com. Jakarta — Untuk pertama kalinya, buku “JI The Untold Story: Kisah Perjalanan Jemaah Islamiyah” dibedah secara terbuka dalam sebuah forum yang mempertemukan berbagai perspektif—dari aparat keamanan, akademisi, hingga mantan anggota Jemaah Islamiyah. Kegiatan ini menjadi ruang dialog penting dalam membongkar narasi tunggal tentang kelompok yang pernah menjadi aktor sentral dalam sejarah terorisme Indonesia.
Acara yang digelar oleh Program Studi Kajian Terorisme, Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia ini menghadirkan sejumlah narasumber kunci dari berbagai latar belakang. Di antaranya adalah Kepala Densus 88 Anti Teror Polri sekaligus penulis buku, Irjen. Pol. Sentot Prasetyo, S.I.K.; antropolog Dr. Amanah Nurish; pakar terorisme Solahudin; dan mantan Amir Jemaah Islamiyah, Mbah Zarkasih.
Kepala Program Studi Kajian Terorisme SKSG UI, Muhamad Syauqillah, menyatakan bahwa acara ini merupakan yang terbesar sejak pandemi. “Ini adalah kali pertama sejak pandemi, acara kami dihadiri lebih dari 200 peserta dari berbagai kalangan,” ujarnya. Ia menambahkan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam membahas isu terorisme. “Meski dalam dua tahun terakhir tidak ada serangan teror di Indonesia, radikalisasi masih menjadi ancaman nyata. Tahun lalu saja, lebih dari 50 orang ditangkap karena keterkaitan dengan aktivitas radikal.”
Wakil Direktur Bidang Keuangan, SDM, dan Kerja Sama SKSG UI, Ir. Maureen Pomsar Lumban Toruan, M.M., menekankan pentingnya pendekatan yang lebih humanis dalam menangani ekstremisme. “Melalui bedah buku ini, kami mengusung pendekatan baru: Countering Terrorism with Conversations. Percakapan yang jujur, terbuka, dan empatik adalah bagian dari strategi jangka panjang membangun ketahanan sosial,” ujarnya dalam sambutan.
Kegiatan ini juga secara resmi dibuka oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Eddy Hartanto S.I.K., M.H. Dalam pernyataannya, ia menyambut positif inisiatif ini sebagai bagian dari kesiapsiagaan nasional. “Acara ini menunjukkan keseriusan negara dalam memahami dan merespons dinamika terorisme. Kami mengapresiasi eks anggota JI yang berani terbuka dan menunjukkan transformasi pemikiran mereka,” katanya. Ia menambahkan bahwa strategi penanggulangan terorisme ke depan akan mencakup pemberdayaan masyarakat, peningkatan literasi digital, penguatan kapasitas aparat, serta pengembangan riset strategis.
Diskusi yang dipandu oleh Tsabita Afifah Khoirunnisa ini membahas berbagai sisi transformasi Jemaah Islamiyah. “Dalam dua dekade terakhir, JI sering dipahami secara monolitik. Padahal, ada transformasi internal yang belum banyak diungkap ke publik,” ungkap Tsabita dalam pengantar diskusi.
Berbagai pandangan disampaikan dalam forum ini. Brigjen Pol. Ami Pridani, S.I.K., M.Si., dari Densus 88 AT Polri menjelaskan pendekatan negara dalam penanganan eks anggota JI secara komprehensif. Solahudin menekankan nilai tambah buku ini bagi kajian akademik tentang terorisme. Sementara itu, Mbah Zarkasih memberikan kesaksian pribadi mengenai proses internal pembubaran JI. Dari sudut pandang antropologi, Dr. Amanah Nurish membahas dinamika sosial di komunitas-komunitas yang terdampak.
Di akhir sesi, Irjen Pol. Sentot Prasetyo berharap buku ini bisa menjadi pelajaran bersama dalam melihat kompleksitas persoalan terorisme di Indonesia. “Buku ini kami tulis dengan semangat untuk menggambarkan satu sisi Indonesia—bahwa kita kaya, kita bhinneka,” tuturnya.
Acara ini mencerminkan arah baru dalam kajian terorisme di Indonesia, yang tidak hanya mengandalkan pendekatan keamanan, tetapi juga membuka ruang dialog yang konstruktif dan transformatif.







Leave a Comment