Ketika Medsos Jadi Mimbar Khilafah: Di Mana Islam Moderat?

Ni'am Khurotul Asna

30/04/2025

6
Min Read
Medsos Khilafah

On This Post

Harakatuna.com – Islam secara harfiah berarti keselamatan dan perdamaian. Berdasarkan makna tersebut, Islam merupakan agama yang membawa pedoman kebaikan bagi seluruh umat manusia. Namun, bukan hanya Islam—agama-agama lain pun secara taken for granted juga dipandang sebagai instrumen ilahiah yang mengajarkan nilai-nilai kebajikan.

Pada dasarnya, semua agama berbicara tentang kebaikan dan keluhuran demi menciptakan tatanan kehidupan yang, dalam Islam, disebut sebagai “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”—sebuah negeri yang baik dengan Tuhan Yang Maha Pengampun.

Makna keselamatan dalam ajaran Islam hingga kini ditafsirkan secara beragam, baik dari sudut pandang filosofis maupun praktiknya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak dapat menafikan kenyataan bahwa agama di dunia ini tidak hanya satu. Keragaman agama adalah realitas sosial yang tidak bisa dihindari, apalagi dipaksakan untuk seragam.

Justru ketika pemeluk satu agama merasa paling benar secara mutlak dan menolak keberadaan yang lain, perpecahan menjadi tak terhindarkan. Islam yang secara definisi dekat dengan perdamaian, dalam praktiknya kerap kali berada dalam posisi ambigu: membawa pesan kasih sayang dan harmoni, namun tak jarang menjadi sumber kekerasan atas nama Tuhan.

Kelompok Islam garis keras kerap merasa berhak secara mutlak untuk menarasikan Islam sebagai agama paling sempurna. Mereka melakukan taklid buta terhadap sistem khilafah yang diklaim sebagai warisan langsung dari Rasulullah Saw. Ideologi ekstrem dari kelompok tersebut menyusup ke berbagai ruang dan sektor kehidupan—mulai dari majelis kajian dakwah, medsos, hingga forum-forum keagamaan.

Bahkan, penetrasi pemikiran mereka telah menjangkau berbagai kalangan, dari artis dan orang tua hingga anak-anak muda. Ironisnya, pelaku penyebaran ideologi radikal sering kali adalah mereka yang tampak memiliki kapasitas keilmuan agama yang mumpuni, setidaknya secara simbolik.

Kehadiran mereka di tengah masyarakat dibalut dalam penampilan religius yang membuat banyak orang terpesona oleh kesalehan yang tampak. Namun, sebagai umat beragama, kita tidak boleh memandang fenomena tersebut dengan sebelah mata. Tidak sedikit dari kelompok tersebut terlibat dalam kekerasan, bahkan aksi terorisme, sambil tetap menjalankan ibadah dan mengisolasi diri dari lingkungan sosialnya.

Melihat berbagai peristiwa yang mencederai wajah Islam, umat Islam moderat memiliki tanggung jawab untuk mengimbangi dan melawan arus ideologi kekerasan. Salah satu caranya adalah dengan menggaungkan narasi Islam yang damai dan rahmatan lil alamin. Di era digital yang kian canggih, medsos telah menjadi medan baru bagi kelompok ekstremis menyebarkan paham-pahamnya.

Karena itu, kita perlu lebih awas terhadap konten dakwah yang beredar di dunia maya. Tanpa kesadaran dan pengetahuan yang memadai, sangat mungkin kita atau orang-orang di sekitar kita terseret dalam arus kajian yang bermuatan ekstremisme.

Optimalisasi Media untuk Membangun Narasi Islam Moderat

Medsos memainkan peran krusial dalam penyebaran paham radikalisme di Indonesia. Platform-platform digital telah dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis sebagai sarana memperluas jaringan, melalui penyebaran kajian dakwah yang tampaknya bertema keislaman dan kebangsaan.

Namun di balik itu, tersembunyi agenda ideologis yang menyesatkan. Dalam banyak kasus, Facebook, YouTube, WhatsApp, Telegram, hingga situs-situs milik kelompok ekstremis, menjadi alat yang semakin efektif dalam mewujudkan tujuan besar mereka: membangun sistem negara khilafah.

Konten yang disebarkan bukan sekadar materi dakwah biasa. Mereka mengemas ajaran-ajaran Islam dengan cara yang menarik dan kontekstual, menjadikannya relevan dengan isu-isu sosial yang sedang ramai diperbincangkan. Dengan demikian, pesan-pesan mereka mudah diterima oleh berbagai kalangan, terutama generasi muda.

Sayangnya, di balik kemasan dakwah tersebut kerap tersembunyi gagasan radikal yang mendorong pada ajakan jihad dalam arti yang menyimpang, serta impian pendirian negara Islam versi mereka.

Salah satu figur yang cukup populer di kalangan muda adalah Felix Siauw. Ia dikenal aktif menyebarkan konten dakwah yang dikaitkan dengan isu-isu terkini, sehingga tampak relevan dan relatable bagi banyak orang. Di balik kedekatannya dengan publik, ia kerap menarasikan sistem khilafah sebagai solusi Islam yang ideal, memanfaatkan celah keawaman masyarakat terhadap kompleksitas agama dan negara.

Tidak hanya aktif di medsos, ia juga menulis buku, hadir dalam berbagai podcast, serta diundang dalam banyak acara, menjadikannya figur yang berpengaruh dalam penyebaran gagasan dakwah ideologis tersebut.

Untuk meredam dan meluruskan arus penyebaran ideologi ekstrem, diperlukan upaya serius dalam membangun narasi tandingan melalui konten kontra-narasi dan kontra-propaganda. Narasi Islam moderat menjadi kunci dalam melawan eksklusivisme yang ditawarkan oleh kelompok radikal. Ketika mereka begitu aktif menyebarkan pahamnya melalui medsos dan tulisan, maka respons kita pun harus hadir di ruang digital yang sama, dengan kekuatan pesan yang tak kalah kuat.

Syiar dakwah Islam yang moderat harus digencarkan melalui berbagai bentuk—baik tulisan, berita, ceramah daring, maupun edukasi dari para tokoh agama yang kredibel. Tujuannya adalah menyebarkan pesan keagamaan yang damai, inklusif, dan selaras dengan nilai-nilai kebangsaan.

Penguatan media dakwah berbasis nilai keislaman yang rahmatan lil alamin, serta semangat kebangsaan yang kontekstual dengan keindonesiaan, menjadi langkah preventif yang strategis untuk menandingi dan mengimbangi narasi kelompok ekstremis yang kian masif.

Dengan masifnya penyebaran konten digital, pemerintah dan lembaga terkait seperti BNPT memiliki peluang strategis untuk berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat. Kalangan akademisi, intelektual, tokoh agama, pelajar, hingga santri dapat diajak untuk bersama-sama menggencarkan dakwah Islam yang bercorak rahmatan lil alamin—Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Edukasi keislaman yang kontekstual dan damai dari kalangan Islam moderat harus terus diarusutamakan sebagai konsumsi yang sehat dan aman bagi masyarakat luas.

Tak kalah penting, penyebaran informasi mengenai kelompok ekstremis juga perlu dilakukan secara terbuka dan terstruktur kepada khalayak. Ketidaktahuan masyarakat dalam mengenali wajah ekstremisme kerap membuat mereka tertipu oleh tampilan luar yang tampak religius, tanpa menyadari adanya motif ideologis yang manipulatif di baliknya. Di situlah pentingnya membongkar narasi palsu serta menyajikan fakta yang dapat memperkuat ketahanan nalar publik.

Pembangunan narasi keislaman moderat perlu dilakukan dengan cara yang kondusif dan menyasar berbagai platform medsos secara luas. Sebagai umat beragama, kita tak boleh abai terhadap urgensi pencegahan penyebaran ideologi radikal.

Sebab sering kali, akar permasalahan juga terletak pada sikap pasif dari kelompok Islam moderat sendiri, yang kurang hadir dalam ruang-ruang dakwah dan diskusi keagamaan publik. Kekosongan itu kemudian diisi oleh kelompok yang justru membawa semangat eksklusivisme dan intoleransi.

Karena itu, ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi seluruh elemen umat beragama di Indonesia. Islam yang membawa rahmat dalam konteks kebangsaan tidak akan pernah bersikap menutup diri terhadap budaya lokal maupun keberagaman. Justru dari kenyataan sosial yang majemuk itulah, Islam di Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh sebagai kekuatan yang terbuka terhadap perbedaan, dan menjadi pengikat harmoni serta perdamaian lintas identitas.

Leave a Comment

Related Post