Harakatuna.com. Yogyakarta — Dalam upaya memperkuat solidaritas sosial berbasis komunitas, organisasi Mitra Wacana menggelar lokalatih bertajuk “Menyusun Langkah-Langkah Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme (IRE)” di Aula Kelurahan Baciro, Gondokusuman. Kegiatan ini menjadi bagian dari program “Merajut Kolaborasi Lintas Iman”, sebagai respon terhadap meningkatnya potensi konflik identitas di tengah masyarakat yang majemuk.
Sebanyak 30 peserta dari berbagai latar belakang termasuk pemuda, perempuan, tokoh agama, serta perwakilan organisasi lintas iman berkumpul dalam suasana dialogis dan terbuka. Mereka bersama-sama menyusun strategi konkret pencegahan IRE dengan pendekatan partisipatif berbasis komunitas.
“Di era digital ini, pendekatan komunitas menjadi sangat penting dalam menjaga kerukunan sosial. Keterlibatan langsung warga adalah kunci untuk mencegah konflik yang berakar pada perbedaan identitas,” ujar Ruliyanto, Koordinator Program Pencegahan IRE dari Mitra Wacana.
Salah satu hasil utama dari forum ini adalah perumusan alat deteksi dini serta mekanisme pelaporan apabila ditemukan indikasi intoleransi atau radikalisme di lingkungan masyarakat. Forum ini juga menjadi ruang aman bagi warga untuk bertukar pengalaman dan menggali nilai-nilai lokal sebagai fondasi harmoni sosial.
Wiji Nurasih, perwakilan pemuda dari komunitas Gusdurian, menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam menyebarkan pesan damai, terutama di dunia digital. “Sebagai anak muda yang aktif di media dan kampanye komunitas, saya dan teman-teman berusaha menyebarkan pesan perdamaian lintas iman melalui media sosial,” ujarnya.
Ia juga menekankan perlunya berpikir kritis agar tidak mudah terseret narasi kebencian yang marak di platform digital. “Perubahan bisa dimulai dari hal kecil, seperti tidak menyebarkan komentar negatif dan lebih selektif dalam membagikan konten,” tambahnya.
Sementara itu, Lutfiah dari komunitas Perempuan Ahmadiyah mengajak peserta untuk menyikapi perbedaan dengan bijak. Ia menekankan pentingnya membangun kepercayaan antarwarga demi menjaga persatuan. “Kita harus menyikapi kondisi sosial dengan kepala dingin, tidak mudah terpancing. Dengan cara itu, kita bisa menciptakan ruang yang aman dan saling percaya,” katanya. Lutfiah juga mengangkat prinsip komunitasnya, “Love for all, hatred for none”, sebagai nilai yang relevan dalam kehidupan masyarakat majemuk.

Dalam sesi pemaparan, perwakilan dari Densus 88 Antiteror Daerah Istimewa Yogyakarta, Pak Umar, menyampaikan bahwa media sosial menjadi salah satu jalur utama penyebaran ideologi ekstrem. “Lebih dari 60 persen simpatisan ISIS asal Indonesia terpapar pertama kali lewat konten ekstremis di media sosial. Dari sinilah lahir pelaku teror tunggal atau lonewolf yang tidak terhubung langsung ke jaringan radikal, tapi sangat berbahaya,” jelasnya.
Ia menggarisbawahi pentingnya literasi digital dan sistem deteksi dini untuk menangkal penyebaran ideologi kekerasan di dunia maya. Dari sisi masyarakat sipil, Wahyu Tanoto dari Mitra Wacana menekankan bahwa penanganan IRE membutuhkan kerja sama lintas sektor.
“Deteksi dini saja sudah jadi tantangan besar, apalagi penanganannya. Ini bukan tugas satu institusi saja, tapi harus melibatkan semua elemen masyarakat,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa perempuan dan nilai-nilai lokal sangat berperan dalam menjaga ketahanan sosial.
Lokalatih ini menghasilkan sejumlah rencana aksi, mulai dari penyusunan panduan deteksi dini IRE, sistem pelaporan komunitas, hingga pembentukan jejaring respons cepat lintas sektor. “Forum ini penting untuk menghidupkan kembali semangat kolektif di tingkat komunitas. Harapan kami, lahir langkah-langkah konkret yang bisa diterapkan di lingkungan masing-masing,” pungkas Ruliyanto.
Melalui pendekatan berbasis komunitas, kegiatan ini menegaskan bahwa menjaga keberagaman bukan hanya tugas negara, tapi tanggung jawab bersama. Baciro, melalui forum ini, mengirim pesan kuat bahwa harmoni harus dirawat lewat partisipasi, dialog, dan keberanian untuk berpihak pada perdamaian.








Leave a Comment