Mualaf Selebgram dan Narasi Islam Digital: Antara Spiritualitas dan Sensasi Algoritma

Zannuba Kanza Azzahro

23/04/2025

4
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Di tengah riuhnya jagat media sosial, agama perlahan menjelma menjadi tontonan. Peristiwa sakral seperti masuk Islam, yang semestinya menjadi momen spiritual paling personal, kini dibalut pencahayaan studio, potongan sinematik, dan audio latar yang menyentuh. Dua tokoh yang baru-baru ini muncul dalam radar keislaman digital adalah Bobon Santoso dan Steven Wongso dua selebgram yang memutuskan menjadi mualaf dan membagikan proses tersebut ke ruang publik.

Publik merespons mereka dengan antusias. Tapi di tengah puja-puji itu, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah ini bagian dari dakwah atau justru produk dari kapitalisasi spiritual? Di sinilah kita perlu berpikir lebih kritis dan tak larut dalam romantisme media sosial.

Bobon, seorang content creator kuliner ekstrem, memutuskan menjadi mualaf dan disyahadatkan oleh Buya Yahya disiarkan langsung oleh kanal YouTube Al-Bahjah TV. Video itu langsung viral, menjaring jutaan views dan komentar. Hal yang sama terjadi pada Steven Wongso, motivator bisnis asal Medan, yang masuk Islam pada Januari 2024 dan menjadi tren topik di X.

Fenomena ini memantik diskusi di berbagai forum: ada yang terharu, ada pula yang curiga. Sebagian kalangan menilai bahwa proses masuk Islam para selebgram ini terkesan terlalu terkonsep, terlalu sinematik, dan cenderung artifisial. Bukan karena niat mereka diragukan, tetapi karena framing media sosial telah mengubah proses spiritual menjadi objek tontonan massal.

Islam Pop: Antara Estetika dan Esensi

Kita sedang menghadapi apa yang disebut para sosiolog agama sebagai gejala Islam Populer yakni bentuk keberislaman yang lebih menonjolkan simbol, gaya hidup, dan narasi identitas, ketimbang kedalaman makna dan ajaran. Masuk Islam bukan lagi dimaknai sebagai titik awal perjalanan iman, melainkan sebagai momen viral.

Menurut Zainal Abidin Bagir, agama di media sosial lebih sering tampil sebagai representasi performatif ketimbang transformatif. Ini selaras dengan temuan PPIM UIN Jakarta (2023) bahwa 67% anak muda Muslim mengakses ajaran Islam dari media sosial, namun hanya 21% yang mengecek keabsahannya melalui rujukan keilmuan.

Dampaknya Bagi Milenial dan Gen Z

Tak bisa dipungkiri, publikasi mualaf selebritas membawa semangat baru. Generasi muda merasa dekat dan terinspirasi. Namun inspirasi yang lahir dari tontonan viral seringkali tak bertahan lama. UNESCO (2022) menyebutkan bahwa jenis konten keagamaan yang paling banyak dikonsumsi anak muda Asia Tenggara adalah kisah mualaf, hijrah, dan transformasi personal. Sayangnya, konten seperti ini cenderung menyederhanakan proses keislaman sebagai perubahan luar semata.

Akibatnya, hijrah dipersepsi sebagai pergantian gaya hidup, pakaian, atau bahkan konten sosial media—tanpa menyentuh aspek teologis, fiqih, atau akhlak. Inilah bentuk spiritualitas instan yang tampak indah di luar, namun rapuh di dalam.

Lebih mengkhawatirkan lagi, hasil survei Katadata Insight Center (2023) mengungkap bahwa 83% Gen Z Indonesia lebih mempercayai influencer dibanding tokoh agama dalam hal pandangan moral. Ini bukan hanya pergeseran preferensi, tetapi juga krisis epistemologis: kebenaran tak lagi dirujuk dari keilmuan, melainkan dari popularitas.

Jika tidak dikritisi, hal ini akan menggeser pusat otoritas keislaman dari para ulama ke para selebritas. Padahal Islam tidak dibangun dari jumlah followers, tetapi dari kedalaman ilmu, adab, dan keteladanan yang konsisten.

Menurut penulis, proses masuk Islam adalah momen yang sakral dan personal, yang tidak seharusnya dikomodifikasi menjadi konten. Memang, niat tulus tak dapat dihakimi dari luar. Namun framing medsos menjadikan pengalaman spiritual sebagai bagian dari logika attention economy di mana yang dinilai bukan esensinya, tapi seberapa banyak engagement yang bisa dihasilkan.

Islam bukanlah proyek visual. Islam adalah proyek hidup. Ia tidak bisa dipercepat oleh algoritma, atau dibentuk oleh likes dan shares. Kita harus kembali menegaskan bahwa dakwah tidak identik dengan viralitas, dan hijrah tidak identik dengan perubahan visual.

Saatnya Islam Digital Lebih Kritis

Fenomena Bobon dan Steven menjadi pengingat bahwa Islam kini tengah berada di dua kutub ekstrem: antara spirit dakwah dan logika viralitas. Kita harus bisa membedakan mana yang benar-benar menyuburkan keimanan, dan mana yang hanya mempermanis tampilan.

Sudah saatnya kita membangun ekosistem literasi Islam digital yang mengedepankan substansi, keilmuan, dan etika dakwah. Islam bukan produk yang harus dijual. Ia adalah jalan yang harus dijalani, meski sunyi, pelan, dan tak masuk algoritma.

Pada akhirnya, Islam bukan sekadar trending, tetapi mendalam. Bukan untuk dibagikan, tetapi dijalani. Dan tugas kita baik sebagai pembaca, penulis, maupun pendakwah digital adalah menjaga agar semangat keislaman tidak kehilangan arah hanya demi angka penonton. Kita perlu terus menegaskan bahwa spiritualitas tidak untuk dipertontonkan, tapi untuk dimaknai dan ditumbuhkan.

Leave a Comment

Related Post