Harakatuna.com – Amatlah sering rasanya didapati jawaban, atau sejenis saran, agar banyak membaca ketika ada tanya tentang bagaimanakah cara menjadi penulis. Sepintas, jawaban demikian memang terasa benar; dan tidak mutlak keliru pula. Akan tetapi, ketika dicermati lebih teliti, akanlah didapati, jawaban demikian lebih mengandung serangkaian persoalan; dibanding jawaban final.
Sebagai contoh, yang agaknya bisa jadi sejenis penjelasan lanjutan, dapatlah dibayangkan pararelnya begini. Ketika ada seseorang yang ingin jadi pelukis, adakah yang getol menyarankan agar rajin-rajin datang ke pameran atau rajin-rajin melihat lukisan pelukis lain?
Atau, ketika ada yang ingin jadi aktor-penampil, adakah yang getol mengharuskan agar rajin datang ke pertunjukan-pertunjukan? Membaca tentu baik, dan memang baik; termasuk juga dalam konteks seni lain: datang ke pameran atau pertunjukan. Akan tetapi, tentu, membaca bukan hanya satu-satunya cara bila seorang hendak menjadi penulis.
Atau, andaikan serangkaian contoh barusan masihlah terasa ganjil, dapatlah ditarik pada soalan yang lebih dekat dan karib: olahraga, misalnya. Andaikan ada seorang yang mau menjadi atlet sepak bola, bukankah amat janggal ketika dia hanya menonton pertandingan dan pertandingan? Bukankah amat lumrah, ketika seorang tadi, seminimalnya, membeli atau meminjam bola, dan mulai berlatih dari hal paling sederhana, seperti mengiring dan menendang?
Dan bukankah amat lumrah, sekalian orang, bahkan pemain profesional, akan menyarankan seorang tadi agar masuk ke lingkaran-lingkaran, formal ataupun kultural, agar bisa bermain bola dengan baik. Lantas, kenapa kerja menulis puisi, cerita, atau apa pun adanya, hanya dipijakkan pada kerja membaca karya-karya yang telah ada saja?
Menulis, seperti halnya kerja kesenian lain, atau bahkan kerja pertukangan sekalipun, tetaplah berpijak pada ilmu, teknik, dan juga latihan-latihan—dan tentu saja kritik dan evaluasi. Sebab itulah, pertanyaan yang mestinya diajukan di mula, salah satunya adalah bagaimanakah cara berlatih.
Atau, bila hendak sungguh serius, pertanyaan yang amat mendasar pun bisa menjadi pijakan: apa itu tulisan? Karenanya, dalam batas tertentu, seseorang tadi akanlah bisa menguji kerjanya sendiri: apa aku sungguh benar menulis, sungguh benar melakukan kerja menulis—atau hanya “coret-coret” saja? Dan dalam hal ini, membaca muncul menjadi hal yang penting. Dari membaca, minimalnya, seseorang tadi akan menemukan pijakan atas tanya tentang tulisan tadi, meski tetaplah harus diuji dan diuji.
Sebagai perbandingan kembali, ketika kawan-kawan seni rupa berlatih dengan membuat sketsa atau sejenisnya, atau ketika kawan-kawan penampil teater maupun tari, atau bahkan penyanyi, berlatih dengan olah tubuh dan latihan vokal, lantas apa latihan bagi seorang penulis, baik itu penyair, pengarang, atau penulis non-fiksi? Amatlah lekas, latihan yang muncul di muka adalah menulis itu sendiri.
Dan dalam hal ini, amatlah banyak penulis, yang telah banyak jam terbang, dalam sesi berbagi atau pelatihan, menganjurkan menulis setiap hari. Saran demikian memang bisa dikata baik; dan mungkin memang baik. Akan tetapi, tetaplah mesti dikritisi. Sekali lagi, apabila diambil pararelnya, maka seorang atlet mestilah tahu takaran latihannya dan tujuan apa yang hendak dicapai atas latihan itu.
Dalam kasus menulis, bila yang dikejar adalah konsistensi dan ide-lekas, maka tentulah menulis setiap hari dengan jumlah kata tertentu bisa menjadi opsi. Akan tetapi, ketika takarannya adalah kedalaman dan upaya mencari gaya ungkap lain, tentulah latihan yang mesti diambil jugalah lain.
Adapun, hal yang bisa lekas tergambar dalam soalan semacam ini adalah berlatih membuat metafor yang kuat, narasi yang kokoh, deskripsi yang baik dan argumen benar, dan lain sebagainya; juga bagaimana memakai semua itu di dalam tulisan yang dikerjakan.
Dan, seperti pembelajaran teknik atau kecakapan apa pun, tentulah ada tingkatan-tingkatannya. Amatlah janggal, meski sah-sah saja, seorang langsung menggambar anatomi tubuh manusia, sedangkan ia memuat bidang datar pun belum genap terkuasai. Atau amatlah janggal seorang mau berlatih jurus tingkat lanjutan sedang kuda-kuda pun belum kokoh. Maka, mesti ditelusuri serangkaian tahapan-tahapan.
Meski demikian, saran yang disampaikan penulis kebanyakan, agar tulis saja dulu, bukan juga mutlak kekeliruan; sebab yang mesti diperhatikan, sekali lagi, adalah takaran atas hasil itu: sudahkah sesuai? Dan kembali, untuk bisa menjawab tanya yang semacam itu, membaca pun menjadi penting: menjadi punya pijakan yang lebih kokoh!
Karenanya, esai ini tidaklah hendak menolak kerja banyak membaca. Akan tetapi, esai pendek ini hendaklah memantik kembali tanya: bagaimanakah membaca yang tepat? Atau bila hendak menjadi lebih spesifik, maka dapatlah diajukan tanya: bagaimana seorang penulis membaca? Dalam kerangka pertanyaan inilah, esai-esai penulis atau catatan penulis berkait proses kreatif bisa menjadi pijakan, bisa menjadi jembatan menelisik; bahkan perkataan ataupun cerita-cerita yang melingkupi penulis akan menemukan nilainya.
Amatlah mungkin, dan agaknya memang demikian, buku-buku yang dibaca penulis tertentu memberi efek dan bentuk latihan tersendiri; atau amat mungkin, pekerjaan yang membersamai kepenulisan itu memberi corak dan metode latihan yang sesuai bagi penulis tersebut.
Dan di bagian ini, esai ini hendak menyatakan, latihan dan metode tersebut tentu berbeda-beda dan cocok-cocokan; bahkan dapat sama sekali lain—meski memiliki rujukan yang sama. Bukankah meski sama-sama membangun massa otot, tapi metode latihan dan makanan yang dikonsumsi seseorang yang sedang berproses bisa berbeda? Dan faktor-faktor pembeda itulah yang mestinya ditelusuri pula oleh tiap orang yang ingin jadi penulis.
Dan sebagai sejenis akhir, sebab esai ini memanglah hendak memijakkan diri pada catatan atau surat upaya yang pendek, esai pendek ini hendaklah menegaskan lagi, bahwa banyak membaca tidaklah buruk bagi seorang yang mau belajar menulis. Namun, mestilah dibersamai dengan pertanyaan dan laku: seperti apa membaca yang tepat?
Esai pendek ini pun tak hendak menolak metode yang umum, seperti metode “Amati-Tiru-Modifikasi”. Akan tetapi, sekali lagi, esai ini hendak mematik suatu tanya dan keisengan kembali menelisik tentang apa dan bagaimana juga kenapa. Ambillah contoh: sejauh apa orang yang berlatih menulis harus mengamati, bagaimana cara mengamati yang benar dan sesuai, dan kenapa mengamati dengan cara A dan bukannya cara B.
Dan amat mungkin, esai pendek ini tak genap menjawab; sebab memang dimaksudkan guna menyulut dan mengusik—bahkan bagi penulisnya sendiri. Karenanya, apabila Anda bisa terusik dan tersulut guna menelusuri, sungguh bisa dikata esai ini berhasil: meski bisa jadi esai ini adalah esai yang belum baik. []







Leave a Comment