Harakatuna.com. Jakarta – Seruan jihad fisik ke Gaza yang dikeluarkan oleh Persatuan Ulama Muslim Internasional (International Union of Muslim Scholars/ IUMS) menuai perhatian dan tanggapan dari berbagai pihak, termasuk pengamat isu politik Timur Tengah, M. Najih Arromadloni.
Menanggapi fatwa IUMS yang menyerukan umat Islam untuk berjihad langsung di Palestina, Gus Najih – sapaan akrabnya – menegaskan bahwa perjuangan membela Palestina merupakan kewajiban yang tidak bisa dibantah, namun perlu dikemas dalam pendekatan yang lebih rasional dan kemanusiaan.
“Membela Palestina adalah kewajiban agama, kewajiban moral, dan juga amanat konstitusi. Konstitusi Indonesia secara tegas menyatakan bahwa penjajahan di dunia harus dihapuskan. Tapi cara kita membela harus sesuai dengan koridor hukum dan kemaslahatan,” ujar Gus Najih dalam keterangannya, Kamis (17/4/2025).
Ia menjelaskan bahwa fatwa jihad bersenjata yang dikeluarkan IUMS tidak muncul tanpa sebab. Sejak serangan besar-besaran pada 7 Oktober 2023, konflik di Gaza telah menewaskan dan melukai hampir 200 ribu warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak. Bahkan, sekitar 11 ribu lainnya dilaporkan hilang dan diduga tertimbun reruntuhan.
Namun demikian, menurut Gus Najih, jihad bersenjata bukanlah solusi yang bisa diambil secara sembarangan oleh individu maupun kelompok non-negara. “Dalam hukum fikih Islam, jihad bersenjata hanya sah bila dipimpin oleh pemerintahan yang sah. Tidak bisa dilakukan oleh perorangan, ormas, atau pihak non-pemerintah. Ini penting untuk menjaga kemaslahatan dan mencegah kekacauan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa apabila seruan jihad tersebut direspons oleh masyarakat sipil secara massif tanpa koordinasi, justru akan menimbulkan lebih banyak mudharat daripada manfaat. “Bayangkan jika masyarakat sipil yang tidak memiliki pelatihan militer berangkat ke Gaza, pasti banyak yang akan jadi korban. Bantuan kemanusiaan bisa terhambat, dan semangat membela Palestina justru jadi bumerang,” jelasnya.
Menurutnya, rakyat Indonesia tetap bisa berkontribusi secara signifikan dalam perjuangan Palestina tanpa harus mengangkat senjata. “Kita bisa berjuang sesuai kapasitas kita masing-masing, misalnya dengan menggalang bantuan logistik, pendidikan, dan kesehatan. Ini bentuk perjuangan yang lebih realistis dan strategis daripada seruan untuk intervensi militer,” ujar Gus Najih.
Ia menambahkan, meski sekecil apapun, doa juga menjadi bentuk dukungan yang tak boleh diremehkan. “Tentu, yang paling minimal adalah mendoakan. Mendoakan terus-menerus untuk keselamatan dan kemerdekaan saudara-saudara kita di Palestina,” imbuhnya.
Gus Najih juga mengingatkan agar semangat membela Palestina tidak disalahgunakan dengan propaganda yang berpotensi merusak stabilitas nasional. “Kita harus hati-hati. Jangan memprovokasi, jangan menyebarkan propaganda yang tidak bertanggung jawab. Kalau banyak warga sipil menjadi Foreign Terrorist Fighter (FTF), justru akan menambah masalah, baik bagi keluarga yang ditinggalkan maupun rakyat Palestina sendiri,” tandasnya.
Ia menutup dengan pesan agar semua pihak tetap mendukung perjuangan Palestina secara cerdas dan bijak, tanpa harus mengorbankan stabilitas dan keamanan di dalam negeri.







Leave a Comment