Judul Buku: Membangun Politik Ber-Etika, Merawat Demokrasi Bermakna, Penulis: Dr. Yosminaldi, SH. MM, Penerbit: Diva Pustaka, Tahun Terbit: Mei 2024, Jumlah Halaman: 281 halaman, ISBN: 978-623-8619-05-4, Peresensi: Tejo Lumaksono Adi, SE.
Harakatuna.com – Di tengah keriuhan demokrasi prosedural yang sering kali terjebak dalam permainan kuasa dan kalkulasi elektoral, hadir sebuah karya yang tak sekadar berseru, tetapi juga mengajak pembaca menyelam lebih dalam: menelisik akar-akar etis dari bangunan demokrasi yang kini mulai kehilangan ruhnya.
Buku Membangun Politik Ber-Etika Merawat Demokrasi Bermakna karya Dr. Yosminaldi, SH, MM—atau yang akrab disapa Bang Yos—bukanlah sekadar kumpulan artikel opini, melainkan sebuah refleksi panjang atas kegelisahan moral seorang intelektual yang merasa terpanggil untuk menjernihkan kembali arah peradaban politik bangsa.
Sebagai karya kedua dari penulis yang memiliki latar belakang hukum dan birokrasi, buku tersebut menjelma menjadi semacam “catatan perenungan publik” yang menyodorkan pemikiran tajam, disampaikan dengan kesadaran etis yang mengakar kuat dalam kebudayaan nusantara.
Setiap artikel yang termuat di dalamnya tidak saja merekam fenomena, tetapi juga menyulamnya dengan keberanian moral dan panggilan nurani: bahwa politik seharusnya bukan sekadar soal menang atau kalah, bukan tentang siapa menguasai siapa, melainkan ihwal bagaimana nilai dijaga, etika ditegakkan, dan martabat manusia tetap menjadi poros.
Dalam pengantar dan pembukaannya, Bang Yos tidak serta-merta menyalahkan institusi atau individu tertentu. Ia lebih memilih jalan sunyi para pemikir: mengajak pembaca untuk berkaca. Baginya, demokrasi yang dijalankan tanpa kerangka etika adalah demokrasi yang pincang, demokrasi yang hanya menghasilkan keterpilihan tanpa kebermaknaan.
Politik kehilangan akarnya ketika norma-norma sosial, moralitas publik, dan tata krama peradaban didepak demi efisiensi, elektabilitas, dan kalkulasi suara. Kritiknya tidak pernah ditulis dengan nada marah, tetapi dengan ketegasan yang tenang—sebuah ekspresi dari kedewasaan berpikir yang lahir dari pengalaman panjang dalam dunia kebijakan dan hukum.
Sebagai karya reflektif, buku ini mendapatkan pengakuan dan respons dari sejumlah tokoh nasional. Pandangan-pandangan mereka tidak menjadi penghias belaka, namun penegas bahwa Bang Yos mengangkat tema yang sangat relevan dan mendesak. Profesor Bomer Pasaribu, misalnya, mengingatkan bahwa generasi tua memiliki warisan etis yang harus ditransmisikan sebagai keteladanan, agar bangsa ini tidak terantuk oleh batu yang sama untuk kedua kalinya.
Sementara itu, Profesor Mahmuddin Yasin menghadirkan dimensi filosofis melalui kutipan klasik Descartes, “Aku berpikir maka aku ada,” seakan ingin menegaskan bahwa berpikir—apalagi berpikir etis—merupakan jalan untuk mewujud sebagai manusia paripurna dalam ruang politik.
Adapun Profesor Bachtiar Aly menyoroti keberanian dan kejernihan tulisan Bang Yos yang dinilainya membumi, jujur, serta mengandung ajakan untuk introspeksi—sesuatu yang semakin langka dalam narasi politik kontemporer yang cenderung menyalahkan liyan.
Dalam struktur penyusunannya, buku ini terdiri dari sejumlah artikel yang menyasar berbagai aspek, dari problematika hukum hingga dinamika politik elektoral, dari fenomena tokoh hingga krisis moral elite, dari budaya kekuasaan hingga tantangan demokrasi substansial. Tema-tema seperti manipulasi hukum untuk kepentingan politik, kegagalan penegakan keadilan, hingga munculnya kembali politik dinasti dibedah tanpa amarah tetapi dengan ketelitian.
Ia mengangkat kasus-kasus konkret seperti dugaan intervensi politik dalam kasus Johnny Plate, ketidakpastian arah sistem pemilu, kontroversi Al Zaytun, hingga inkonsistensi Mahkamah Konstitusi dalam menangani UU Cipta Kerja. Semua itu dikemas tidak sebagai berita, tetapi sebagai cermin besar yang memantulkan wajah demokrasi kita hari ini—keruh, rapuh, dan kerap terseret kepentingan jangka pendek.
Namun, kekuatan buku ini bukan sekadar pada identifikasi masalah. Bang Yos secara konsisten menyelipkan tawaran: sebuah pergeseran paradigma menuju politik yang legal secara prosedural dan legitimate secara moral. Ia menyoroti bahwa krisis terbesar bangsa ini bukan hanya krisis institusi, tetapi krisis adab.
Ketika elite politik kehilangan empati—seperti dalam kasus pamer kemewahan di tengah penderitaan rakyat, atau abai dalam tragedi sosial seperti konflik agraria di Rempang—maka yang tengah hancur bukan hanya demokrasi, namun juga kemanusiaan itu sendiri.
Buku ini juga menjadi catatan penting mengenai pergeseran peran masyarakat dalam demokrasi. Bang Yos menegaskan bahwa rakyat tidak boleh sekadar menjadi objek, tetapi harus menjadi subjek yang aktif dan etis. Ia menolak cara-cara berpolitik yang memanipulasi suara publik dengan janji gombal, populisme palsu, dan retorika kosong.
Sebaliknya, ia mengajak masyarakat untuk mendasarkan pilihan dan ekspresi politiknya pada gagasan rasional, pertimbangan moral, serta kehormatan budaya. Dalam salah satu artikel, ia bahkan menyentuh tema spiritualitas: bahwa hidup ini hanya sekali, dan akan ada pertanggungjawaban setelahnya. Sebuah penegasan bahwa politik bukan ruang bebas nilai, tetapi ruang suci yang menentukan nasib banyak jiwa.
Kritik terhadap praktik politik dinasti juga menjadi benang merah yang menguat dalam beberapa bagian. Penunjukan Gibran sebagai cawapres, misalnya, dibaca Bang Yos bukan sekadar keputusan hukum, tetapi sebuah pembelokan terhadap semangat demokrasi. Ia mengingatkan bahwa keberadaban politik tidak hanya dilihat dari prosedur, tetapi dari esensi: apakah keputusan itu membawa kita lebih dekat pada keadilan, atau justru memundurkan kita ke era kekuasaan yang diwariskan secara feodalistik.
Secara keseluruhan, Membangun Politik Ber-Etika Merawat Demokrasi Bermakna adalah sebuah karya penting yang menolak untuk menjadi sekadar tontonan pemikiran. Ia hadir sebagai tuntunan. Gaya bahasa Bang Yos yang lugas, tanpa jargon akademik yang berlebihan, menjadikan buku ini bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat—dari akademisi, aktivis, pejabat publik, hingga masyarakat awam yang peduli pada arah bangsa.
Buku ini tidak berpretensi menjadi solusi final, tetapi jelas merupakan sumbangan intelektual yang signifikan dalam ikhtiar kolektif untuk membangun demokrasi yang lebih adil, bermartabat, dan manusiawi.
Barangkali, justru dalam kesederhanaan penulisannya, buku ini menemukan kekuatannya. Ia tidak menggurui, tetapi mengajak berpikir. Ia tidak menyalahkan, tetapi mendorong refleksi. Dan yang terpenting, ia tidak menyerah pada keputusasaan, tetapi tetap memelihara harapan—bahwa di tengah kebisingan politik, masih ada ruang untuk suara nurani.
Bang Yos menulis bukan karena ingin terkenal, tetapi karena ia tidak ingin diam. Dalam setiap kalimatnya, tersirat pesan bahwa memperjuangkan etika dalam politik bukanlah kemewahan, melainkan keharusan. Bahwa demokrasi yang sejati bukan dibangun dari konsensus elite, melainkan dari keberanian untuk berkata benar, bersikap adil, dan bertindak bermoral.
Dan untuk itu, buku ini layak menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang masih percaya bahwa politik bukan tentang kekuasaan saja, tetapi tentang tanggung jawab moral untuk menjadikan hidup bersama lebih baik.








Leave a Comment