Kemenag Tingkatkan Pemahaman Moderasi Beragama di Kalangan Mahasiswa Sulut

Harakatuna

09/04/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Manado – Kementerian Agama (Kemenag) terus berupaya untuk memperkuat pemahaman moderasi beragama di kalangan mahasiswa di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Upaya ini dilakukan untuk memastikan generasi muda memahami pentingnya sikap moderat dalam beragama, sejak dini.

Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sulut, Ulyas Taha, dalam keterangannya di Manado pada Selasa (7/4), menegaskan pentingnya pembelajaran moderasi beragama bagi mahasiswa. “Kami menyasar semua kalangan, khususnya mahasiswa, agar sejak usia muda mereka dapat memahami betul makna dari moderasi beragama,” ujar Ulyas.

Menurut Ulyas, saat ini umat beragama menghadapi dua tantangan besar di Indonesia. Pertama, tantangan dari sekelompok kecil yang cenderung memiliki pandangan ekstrem dalam memahami teks-teks agama. Kelompok ini, kata Ulyas, sering kali mengabaikan konteks sejarah dan secara tegas menerjemahkan teks agama hanya berdasarkan pemahaman mereka sendiri, yang akhirnya menyebabkan sikap intoleransi dan ekstrem dalam beragama.

“Tantangan kedua adalah kelompok yang memahami teks agama secara bebas, berdasarkan pengetahuan mereka sendiri, tanpa memperhatikan konteks kesejarahan. Kelompok ini cenderung mengarah pada pemikiran liberal dalam beragama,” tambahnya.

Ulyas, yang juga menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulut, menekankan bahwa kedua kelompok tersebut tidak sejalan dengan ajaran Islam yang moderat, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 143.Lebih lanjut, Ulyas mengingatkan pentingnya semangat kebersamaan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. “Islam mengajarkan kita untuk selalu menjaga ukhuwah, baik ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), maupun ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia),” jelasnya.

Dengan kebersamaan, menurut Ulyas, masyarakat dapat memperkuat persatuan dan menghadapi berbagai tantangan zaman dengan bijak. “Melalui kebersamaan, kita bisa memperkokoh persatuan bangsa dan menghadapi berbagai tantangan dengan cara yang bijaksana,” tutupnya.

Ulyas juga mengingatkan bahwa sila pertama dalam Pancasila, yang diawali dengan kata “Ke-Tuhan-an”, menggarisbawahi bahwa perbedaan iman antarpemeluk agama seharusnya dipahami sebagai sebuah kenyataan yang dapat bertemu pada nilai-nilai ajaran Tuhan yang diyakini oleh masing-masing agama. “Sebab kita yakin bahwa nilai ajaran semua agama memiliki kesamaan dalam mengajarkan kebaikan,” pungkasnya.

Leave a Comment

Related Post