Bahaya Hasad: Telaah QS. Al-Baqarah Ayat 109

Asri Mei Pratiwi

10/04/2025

3
Min Read

On This Post

Harakatuma.com – Salah satu penyakit dari hati yang mampu merusak tatanan kehidupan manusia adalah hasad atau dengki, hal ini telah disebutkan dan tertera dalam Al-Qur’an maupun hadis (Baharin, 2018). Penyakit ini mampu membahayakan siapa saja, baik dirinya sendiri maupun orang-orang sekitar (Baharin, 2018).

Bagi siapa pun jika dalam hatinya terdapat penyakit hasad, maka orang tersebut tergolong ke dalam orang-orang yang merugi disebabkan karena nilai kebaikan-kebaikan yang ada dalam dirinya akan mudah dihapus oleh hasadnya ini (Nurekawati, 2021).

Penyakit hasad mampu mengenai dan mencelakai siapa saja, entah itu orang kaya atau miskin, orang tua atau muda, laki-laki atau perempuan. Penyakit ini mampu membahayakan siapa saja, baik dirinya sendiri maupun orang-orang sekitar (Baharin, 2018).

Bagi siapa pun jika dalam hatinya terdapat penyakit hasad, maka orang tersebut tergolong ke dalam orang-orang yang merugi disebabkan karena nilai kebaikan-kebaikan yang ada dalam dirinya akan mudah dihapus oleh hasadnya ini (Nurekawati, 2021).

Alangkah menjamurnya penyakit hasad ini di tengah-tengah masyarakat yang karenanya mampu menyebabkan terjadinya perselisihan maupun perpecahan kerukunan masyarakat (Fauziah, 2020).

Bagaimana kata hasad diartikan? Dalam kamus al-Munawwir, kata hasad berasal dari kata hasada-yahsudu-hasadatan yang artinya iri hati dan dengki.

Muhammad Amri dalam bukunya yang berjudul “Aqidah Akhlak” mengutip pendapat Imam Al-Ghazali bahwa dengki adalah membenci kenikmatan atau kebahagiaan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin hilangnya nikmat itu dari orang lain. Timbulnya rasa dengki ini berasal dari hati orang yang kurang bersyukur dan merasa kalah dari orang lain, baik itu segi reputasi maupun wibawa (Amri et al., 2018).

Ibn Mandzur mengutip perkataan Al-Azhari dari Ibn al-A’rabi terkait Qasyr bahwa hasad itu menguliti hati seperti kutu menguliti kulit kemudian menghisap darahnya. Hasad membuat orang berharap agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang dan menjadi miliknya. Sebaliknya, al-ghabtu merupakan harapan seseorang terkait nikmat orang lain dan tidak ingin nikmat itu hilang darinya (Asy-Sya’rawi dalam Fauziah, 2020).

Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang membahas terkait penyakit hasad, salah satunya sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 109 sebagai berikut:

وَدَّ كَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِكُمْ كُفَّارًاۚ حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ اَنْفُسِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّۚ فَاعْفُوْا وَاصْفَحُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ  ۝١٠٩

Banyak di antara Ahlulkitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman menjadi kafir kembali karena rasa dengki dalam diri mereka setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka, maafkanlah (biarkanlah) dan berlapang dadalah (berpalinglah dari mereka) sehingga Allah memberikan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir terkait surah Al-Baqarah ayat 109 bahwa Allah mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman supaya tidak melalui jalan orang-orang kafir dari Ahli Kitab. Allah juga memberitahukan terkait permusuhan orang-orang kafir terhadap mereka (orang-orang beriman), baik secara lahiriah maupun batiniah dari berbagai kedengkian yang menyelimuti mereka (orang-orang kafir) terhadap orang-orang mukmin karena kelebihan yang dimiliki dan Nabi mereka (orang-orang mukmin).

Selain itu juga Allah memerintahkan untuk berlapang dada bagi orang-orang beriman dan memberi maaf sampai waktunya Allah mendatangkan pertolongan dan kemenangan. Dalam ayat itu pula menjelaskan bahwa setelah kebenaran terang benderang di hadapan Ahli Kitab dan tidak ada sedikitpun yang tidak mengetahuinya, akan tetapi kedengkianlah yang menyeret mereka kepada pengingkaran.

Karena itu, Allah benar-benar mencela, menghina, dan mencaci para Ahli Kitab. Kemudian menyegerakan untuk Rasulullah dan bagi orang-orang beriman yang teah membenarkan, mengimani, dan mengakui atas apa yang Allah turunkan kepada mereka dan orang-orang sebelumnya (orang-orang mukmin), maka Allah menurunkan kemuliaan, pahala yang besar, dan pertolongan-Nya.

Leave a Comment

Related Post