Harakatuna.com. Brussels – Turki menegaskan bahwa negara tersebut tidak menginginkan konfrontasi dengan Israel di Suriah, meskipun serangan berulang dari Israel terhadap fasilitas militer di Suriah telah mengancam kemampuan pemerintah baru di Damaskus untuk mencegah ancaman dari kelompok teroris, termasuk ISIS. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dalam wawancara dengan Reuters pada hari Jumat, di sela-sela pertemuan Menteri Luar Negeri NATO di Brussels.
Fidan menekankan bahwa serangan Israel terhadap Suriah berisiko memperburuk ketidakstabilan regional. “Kami tidak ingin melihat konfrontasi dengan Israel di Suriah karena Suriah adalah milik warga Suriah,” kata Fidan. Menurutnya, serangan tersebut mengganggu upaya untuk membangun stabilitas di kawasan, yang juga merupakan tujuan utama Turki di Suriah.
Turki, yang berbatasan sepanjang 911 km dengan Suriah, telah menjadi kekuatan penting di negara tersebut, terutama setelah membantu pemberontak yang kini memegang posisi dalam pemerintah baru Suriah. Selama bertahun-tahun, Turki berupaya menggulingkan Presiden Bashar al-Assad, yang dianggap sebagai sekutu kuat bagi Rusia dan Iran. Israel, di sisi lain, menuduh Turki berusaha menjadikan Suriah sebagai protektoratnya, yang menambah ketegangan di kawasan tersebut.
Fidan juga menjelaskan bahwa Turki bekerja dengan mitra regional untuk membentuk platform bersama dengan Suriah guna memerangi ancaman bersama, termasuk ISIS dan kelompok teroris seperti Partai Pekerja Kurdistan (PKK). “Sayangnya, Israel sedang mengeluarkan, satu per satu, semua kemampuan yang dapat digunakan oleh negara baru untuk melawan ISIS dan serangan serta ancaman teroris lainnya,” katanya. Menurut Fidan, jika serangan Israel terus berlanjut, itu bisa menggagalkan upaya stabilisasi kawasan dan berisiko membawa seluruh kawasan kembali ke dalam kekacauan.
Menteri Luar Negeri Turki juga menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan rencana Turki untuk membuat pakta pertahanan bersama dengan Suriah. Fidan menegaskan bahwa jika pemerintah baru Suriah ingin memiliki kesepakatan tertentu dengan Israel, itu adalah urusan mereka sendiri, namun Turki tetap fokus pada upaya untuk membangun kembali Suriah dengan memberikan dukungan politik dan rekonstruksi di platform internasional.
Selain itu, Fidan juga menyebutkan bahwa Turki sangat prihatin dengan kebijakan Israel terhadap Gaza, yang telah menyebabkan ketegangan dengan Ankara sejak 2023. Turki menganggap serangan Israel terhadap Gaza sebagai bentuk genosida terhadap Palestina dan telah mengajukan permohonan untuk bergabung dalam kasus di Mahkamah Dunia melawan Israel, sekaligus menghentikan perdagangan dengan negara tersebut. Israel sendiri membantah tuduhan genosida tersebut.
Mengakhiri pernyataannya, Fidan menegaskan bahwa Turki tidak ingin melihat kelompok-kelompok teroris memanfaatkan ketidakstabilan yang terjadi akibat ketegangan ini. “Kami ingin memastikan bahwa Suriah tidak menjadi tempat berkembang biaknya terorisme yang akan membahayakan seluruh kawasan,” ujarnya.
Sementara itu, Turki terus mendorong agar sanksi Barat terhadap Suriah dicabut agar proses rekonstruksi dapat dimulai. Fidan juga mengungkapkan bahwa pemerintah Turki telah menyampaikan pandangannya kepada sekutu-sekutu Baratnya mengenai pentingnya pendekatan yang lebih berbeda terhadap Suriah yang baru. Dalam konteks hubungan internasional, Fidan menyoroti peran Turki dalam menyelesaikan konflik di Ukraina, di mana Turki mendukung integritas teritorial Ukraina sambil tetap menjaga hubungan baik dengan Rusia.
Dalam menghadapi ketegangan ini, Fidan juga mengungkapkan harapannya untuk mencari solusi diplomatik, termasuk kemungkinan mediasi dalam konflik-konflik regional lainnya, seperti ketegangan dengan Iran dan rencana serangan militer AS terhadap negara tersebut. “Kita perlu mempertemukan Amerika dan Iran untuk melakukan diskusi yang jujur dan tulus. Ini seharusnya menjadi satu-satunya jalan ke depan,” tutup Fidan.








Leave a Comment