Harakatuna.com – Sayyid Quthub dan Taqiyuddin an-Nabhani merupakan dua orang tokoh pergerakan Islam terkemuka di Arab era pasca kolonial. Mereka berdua mempunyai banyak kesamaan. Sama-sama pemikir, penulis dan aktivis yang pengaruhnya masih terasa sampai ke Indonesia hingga sekarang.
Sayyid Quthub orang Mesir asli. Kelahiran 1906. Lulusan Darul Ulum. Dikenal sebagai pemikir Ikhwanul Muslimin setelah Hasan al-Banna. Sedangkan an-Nabhani orang Palestina asli. Kelahiran 1909. Lulusan Al-Azhar. Ideolog dan pendiri Hizbut Tahrir. Quthub lebih tua tiga tahun dari an-Nabhani.
Karena ketokohan mereka berdua, cerita tentang pertemuan mereka jadi menarik untuk diangkat. Setidaknya ada tiga riwayat yang sampai ke kita. Satu dari kalangan Ikhwan. Dua dari kalangan Syabab HT. Kalangan Ikhwan meriwayatkan bahwa pertemuan tersebut pernah terjadi. Quthub mengatakan, “biarkan saja mereka, mereka akan berhenti pada titik seperti awal ikhwan” (Dr. Shadiq Amin, Ad-Da’wah al-Islamiyah Faridhatun Syar’iyah wa Dharuratun Basyariyah, penerbit dar at Tauzi’ wan Nasyr al Islamiyah tt, hal.101. Dikutip dalam buku WAMY hal. 93).
Hafidz Abdurrahman dari kalangan Syabab HT dalam pengantar buku Perubahan Mendasar Pemikiran Sayyid Quthb (2001) mengatakan bahwa, pertemuan itu pernah terjadi di al-Quds pada tahun 1953. Pertemuan tersebut kemungkinan besar sebelum bulan November, sebab pada bulan November 1953 an-Nabhani berpindah ke Damaskus dan menyebarkan dakwah di sana (Hizb at-Tahrîr al-Islâmiy, ‘Aradh Târikhiy wa Dirâsah ‘Âmah, ‘Awniy Judû’ al-‘Abîdiy, Dar al-Liwa’ li as-Shahafah wa an-Nasyr. 1993).
Dalam pertemuan tersebut terjadi dialog yang menyebabkan Sayyid Quthub mendukung perjuangan Taqiyuddin an-Nabhani dan partainya. Terjadi perubahan mendasar pemikiran Sayyid Quthub yang ditulis oleh Abdullah ath-Thalablusi dalam bukunya, At-Taghyir al-Judhuri fil Fikr al-Syahid Sayyid Quthub yang diterbitkan Dar al-Bayariq Beirut, 1993. Penulis buku ini adalah seorang anggota HT.
Akan tetapi pada tahun 2006 Thalib Awadallah anggota senior HT menerbitkan buku memoar yang diterjemahkan oleh Yahya Abdurrahman (anggota HTI) dengan judul “Kekasih-kekasih Allah”, menolak keshahihan riwayat tentang pertemuan Sayyid Quthub dengan Taqiyuddin an-Nabhani.
Beliau mengatakan, “saya ingin tegaskan di sini ketidahsahihan riwayat yang ada di beberapa buku individu al-Ikhwan al-Muslimun yang menunjukkan bahwa utusan al-Ikhwan al-Muslimun dari Mesir adalah asy-Syahid Sayid Quthub.” Menurutnya, utusan Ikhwan yang bertemu dengan Taqiyuddin an-Nabhani adalah Said Ramadlan menantu Hasan al-Banna.
Saya bertanya kepada Ust. Nuim Hidayat yang meneliti dan menulis buku tentang Sayyid Quthub soal perbedaan riwayat ini. Kata beliau, mungkin keduanya shahih.
Jika keduanya shahih, menurut saya mungkin konteks pertemuannya yang berbeda. Dari buku memoar Thalib Awadallah terkesan konteks Said Ramadlan bertemu Taqiyuddin an-Nabhani sebagai utusan resmi Ikhwanul Muslimin yang ingin “membujuk” Taqiyuddin an-Nabhani agar mengurungkan niat mau mendirikan HT. Sebaiknya bersatu dengan Ikhwan.
Sedangkan dari buku Abdullah ath-Thalablusi seolah-olah konteks pertemuan Sayyid Quthub dengan Taqiyuddin an-Nabhani bersifat pribadi antara dua orang intelektual Islam. Pertemuan shilah ukhuwah dan shilah fikriyah. Tidak berhubungan dengan harakah Islam yang mereka geluti. Cuma, konteks ini terganjal oleh kutipan komentar yang bernuansa negatif dari Sayyid Quthub tentang HT dalam buku yang ditulis oleh Dr. Shadiq Amin seorang tokoh Ikhwanul Muslimin Yordania.
Wallahu a’lam bish shawab.








Leave a Comment