Perencana Teror di Masjid Singapura Ditangkap

Harakatuna

05/04/2025

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Singapura – Seorang remaja berusia 17 tahun di Singapura telah ditangkap karena diduga berencana melakukan aksi terorisme yang mengancam nyawa 100 orang di lima masjid. Remaja tersebut, yang terinspirasi oleh penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada Maret 2019, memiliki rencana untuk membunuh sedikitnya 100 Muslim yang pulang salat Jumat, sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.

Menurut laporan yang dilansir dari The Straits Times pada Kamis (3/4/2025), remaja tersebut telah mengidentifikasi lima masjid sebagai target potensial di wilayah Jurong West, Clementi, Margaret Drive, Admiralty Road, dan Beach Road pada Juni 2024. Namun, rencana tersebut berhasil digagalkan oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri Singapura (ISD), yang kemudian mengeluarkan perintah penahanan terhadapnya berdasarkan Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (ISA) pada Maret 2025.

ISD juga mengungkap bahwa remaja ini merupakan salah satu dari dua individu muda yang teradikalisasi yang tengah ditangani oleh pihak berwenang. Remaja lainnya, seorang perempuan berusia 15 tahun, diketahui ingin menikahi seorang pejuang ISIS dan memulai keluarga pro-ISIS. Perempuan tersebut menjadi remaja pertama dan orang termuda kedua yang dikenai tindakan hukum berdasarkan ISA, dengan rencana untuk bertempur di Suriah dan mati sebagai martir.

Penyelidikan terhadap remaja berusia 17 tahun ini dimulai setelah ISD mengidentifikasi keterlibatannya dengan Nick Lee, seorang pria berusia 18 tahun yang ditahan berdasarkan ISA pada Desember 2024. Lee dan remaja tersebut diketahui saling bertukar materi ekstremis, termasuk konten Islamofobia dan ideologi sayap kanan melalui media sosial. Meski keduanya teradikalisasi secara terpisah dan tidak saling mengetahui rencana masing-masing, keduanya memiliki pandangan yang sangat mirip terkait kebencian terhadap Muslim.

Remaja tersebut, yang mulai terpengaruh oleh materi ekstremis sejak 2022, membenci Islam dan etnis Melayu, serta sering memposting konten yang bertujuan untuk menambah kebencian terhadap Muslim. Ia juga terinspirasi oleh Brenton Tarrant, pelaku penembakan masjid di Christchurch, yang dianggapnya sebagai pahlawan. Pemuda ini mengungkapkan kekagumannya terhadap tindakan Tarrant dan ingin meniru aksi tersebut dengan menyerang masjid-masjid di Singapura menggunakan senapan serbu AK-47.

Pada November 2023, remaja tersebut menonton video penembakan Christchurch dan mendalami manifesto dari Tarrant serta beberapa teroris sayap kanan lainnya, seperti Stephan Balliet dan Payton Gendron. Ia juga mengadopsi teori “Penggantian Besar” yang mengklaim bahwa populasi Eropa kulit putih sedang digantikan oleh imigran non-Eropa. Pemuda itu bahkan menyarankan adanya individu seperti Tarrant di Singapura untuk menghentikan dominasi orang Melayu dan Muslim di negara tersebut.

Meski telah mencoba beberapa kali untuk memperoleh senjata, upaya remaja ini gagal karena kesulitan mendapatkan senjata dan biaya yang tinggi. Meskipun demikian, rencana terorismenya gagal berkat tindakan cepat dari pihak berwenang Singapura yang berhasil mengidentifikasi dan menahannya sebelum rencana tersebut bisa dilaksanakan.

Leave a Comment

Related Post