Judul: Ketika Kita Punya Kecemasan yang Sama, Penulis: Puthut EA, Penerbit: Shira Media, Cetakan: I, 2022, Tebal: 212 Halaman, ISBN: 978-602-7760-51-6, Peresensi: Fathorrozi, M.Pd.
Harakatuna.com – Kerap sekali, sebagian orang memandang agama Islam sebagai agama yang sulit, rumit, pelik, berat, dan penuh dengan aturan yang mengikat. Pandangan tersebut muncul karena ketidaktahuan atau pemahaman yang keliru tentang esensi ajaran Islam. Padahal, hakikatnya Islam adalah agama yang sederhana, mudah dijalani, dan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam banyak hal, Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kemudahan bagi umatnya. Semisal, dalam ibadah puasa, meskipun dilakukan selama sebulan penuh, Allah Swt memberikan kelonggaran bagi mereka yang sakit, hamil, menyusui, atau dalam perjalanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di kemudian hari. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak menginginkan kesulitan bagi umatnya, tetapi lebih mengutamakan kondisi yang sehat dan mampu untuk beribadah.
Sementara pandangan bahwa Islam adalah agama yang keras dan penuh pemaksaan itu muncul karena penyalahgunaan ajaran oleh sebagian kelompok. Padahal, Islam mengajarkan perdamaian dan kasih sayang. Bahkan, kata Islam tersebut berasal dari akar kata yang berarti kedamaian. Rasulullah Saw mengajarkan umatnya untuk hidup dengan penuh kasih sayang dan menghindari kekerasan dalam segala bentuknya.
Kaitannya dengan hal ini, Puthut EA dalam buku Ketika Kita Punya Kecemasan yang Sama menyitir penuturan Gus Baha’ yang mengisahkan perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw, sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam sebuah hadis riwayat yang sangat kuat.
Suatu hari Nabi Muhammad tengah mengajar di teras masjid, lalu lewat seorang pemuda yang hendak berangkat kerja ke kebun. Salah satu sahabat kemudian berkomentar, alangkah celakanya orang tersebut karena tidak mengikuti kajian yang diajar langsung oleh Nabi Saw.
Mendengar hal tersebut, Nabi Muhammad langsung menegur agar sahabat itu jangan berpikiran buruk kepada pemuda yang akan bekerja ke kebun, karena ia sedang mencari rezeki untuk merawat ibunya yang sedang sakit, dan apa yang dilakukan itu juga termasuk dalam ajaran Nabi.
Di dalam buku ini, penulis juga menuturkan sosok Gus Baha’ dalam menyikapi persoalan dalam ranah keagamaan. Pernah suatu kali, Gus Baha’ didatangi orang yang memberitahu bahwa Ramadan di kampungnya akan dilaksanakan secara meriah, yaitu dengan mengadakan kegiatan setiap saat di masjid agar Ramadan menjadi semakin bermakna.
Namun, Gus Baha’ tidak setuju. Alasan beliau sederhana. Yakni, orang mesti mencari rezeki, dan mencari rezeki adalah juga bagian dari ibadah. Ibadah penting, bahkan wajib. Jangan sampai ada orang yang merasa sedang melakukan ibadah, apalagi ibadah sunah, yang justru menjadikan ibadah yang sifatnya wajib malah jadi batal.
Gus Baha’ pernah pula didatangi sesama kiai. Kiai tersebut mengeluh karena majelis pengajiannya sepi. Dengan nada bercanda, Gus Baha’ berseloroh, jangan-jangan majelis sepi tersebut justru karena orang-orang itu sebetulnya sudah melaksanakan apa yang hendak diajarkan sang kiai itu.
“Lho, kok bisa, Gus?” tanya sang kiai tersebut penasaran.
“Sampean kan memberikan kajian yang intinya mengajak orang untuk beribadah. Melakukan hal yang baik dan meninggalkan hal yang buruk. Sementara orang-orang itu ada yang sedang bekerja mencari nafkah, atau sedang piknik bersama keluarga, atau sedang mencari rumput. Semua itu kan berarti mengerjakan hal yang baik, dan meninggalkan perbuatan buruk. Bukankah itu ibadah?” begitu jawaban Gus Baha’ (hlm. 197).
Kita selama ini sudah terlalu banyak menerima ajakan, bahkan teguran, untuk sedikit-sedikit nyunah, tapi konteksnya masih hal-hal yang masih sebatas itu-itu saja; soal cara berpakaian, memelihara jenggot, dan soal-soal semacam itu. Dipikirnya, sunah itu hanya soal begituan. Tanpa melihat mana yang prioritas. Dan yang lebih buruk lagi, menebar prasangka bahwa apa yang dilakukan oleh orang lain jika tidak sesuai dengan cara pandangnya yang terbatas itu, dianggap tidak nyunah.
Itu semua terjadi karena sengkarut pikiran si pengajak. Pikirannya masih sempit. Dipikirnya apa yang ada dalam hidup ini seolah hanya urusan sunah dan tidak sunah. Orang yang sedang mencari rumput untuk pakan ternaknya, itu juga ibadah. Begitu selalu Gus Baha’ memberi keterangan. Orang yang jadi kuli di pasar, juga sedang beribadah.
Begitu pula dengan orang yang sedang bercengkerama bersama keluarga, momong anaknya yang masih kecil, bahkan ngopi pun bisa bernilai ibadah, jika kontesnya sedang meninggalkan hal yang buruk. Dalam konteks itu pula, tidur memang bisa bermakna ibadah. Baik karena sedang beristirahat karena memulihkan stamina, maupun dalam konteks dengan tidur secara otomatis berarti orang tersebut sedang meninggalkan hal yang mungkar.
Dengan begitu, Islam ingin mempertegas bahwa ia adalah agama yang universal dan fleksibel. Universal yang berarti ajarannya dapat diterima dan diterapkan oleh semua lapisan masyarakat di berbagai belahan dunia. Setiap individu, baik kaya maupun miskin, memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan Allah.
Islam juga fleksibel dan dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dalam banyak hal, Islam memberikan ruang bagi umatnya untuk berpikir, berinovasi, dan beradaptasi dengan perubahan zaman, selama tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran pokok dalam agama.
Banyak aspek dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diatur dengan prinsip-prinsip Islam, seperti tolong-menolong dan menghormati orang lain. Semua ajaran ini sangat mudah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari tanpa membutuhkan tindakan-tindakan yang rumit atau sulit.
Pendek kata, Islam bukanlah agama yang muskil, rumit, pelik, ataupun berat. Sebaliknya, Islam adalah agama yang penuh dengan kemudahan dan kasih sayang, yang memberikan solusi praktis untuk mengatur kehidupan sehari-hari dengan cara yang penuh kebijaksanaan, kesederhanaan, dan keseimbangan. Maka, sebagai umat Islam, sudah seharusnya kita memahami bahwa agama ini adalah jalan yang mudah menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.








Leave a Comment