Kritis dan Analitis dalam Mengakses Media Online; Khilafah Terselubung

Devi Ardiyanti

29/03/2025

4
Min Read
media online

On This Post

Harakatuna.com – Kecanggihan teknologi membuat setiap orang bebas mengakses apa saja melalui gawainya. Kita dijejali oleh ragam pilihan informasi, berita, konten, dan aneka hidangan untuk otak lainnya. Perkembangan zaman ini juga tak jauh dari kemungkinan baik/buruk yang masuk ke kehidupan manusia dan juga tantangan ke depan yang semakin hebat. Jika kita tidak bisa memanfaatkan teknologi dengan baik dan bijak, maka akan mudah sekali tersetir oleh narasi-narasi yang justru membahayakan dan merugikan.

Dewasa ini, media online menjadi salah satu wadah informasi yang penyebarannya sangat cepat. Karena itu, kita perlu hati-hati dalam memilah dan memilih informasi yang akan dibaca dan diproses oleh otak. Kita harus bisa membaca kritis dan melakukan analisis secara mendalam apa yang menjadi konsumsi pikiran selama ini. Jangan sampai kita terjebak dalam propaganda kaum khilafah yang sampai saat ini tidak berhenti mempublikasikan tulisan-tulisan bermakna propaganda antar umat manusia. Mengapa hal ini terus mereka lakukan?

Dilansir dari kemenag.go.id dalam judul artikel Menag: Konsep Khilafah Berfungsi untuk Memelihara Agama dan Mengatur Dunia, dikatakan bahwa:

Konsep khilafah adalah hirasatuddin wa siyasatuddunya atau memelihara agama dan mengatur dunia. Namun demikian, Islam tidak merinci nama dan bentuk pemerintahan tertentu. Dalam Islam juga, khilafah bukanlah sesuatu yang sakral. Yang lebih penting dari itu, adalah hakikat dan tujuannya, yakni untuk menjamin keberlangsungan agama dan kemaslahatan dunia (umatnya).”

Jika kita tidak telusuri secara baik-baik ketika membaca fragmen tersebut maka akan mudah sekali untuk terkecoh dan terprovokasi. Khilafah itu bukan jawaban yang tepat sebagai pengganti Islam moderat. Khilafah bukan menjadi garda terdepan, tetapi justru akan memorak-perandakan Indonesia.

Mana mungkin khilafah bisa mengatur dunia? Sedangkan khilafah memegang teguh terorisme dan kekerasan, diskriminasi dan ketidakadilan, serta penghapusan hak-hak perempuan. Yakin nih mau memimpin dunia dengan segala konsep yang ditawarkan?

Islam itu penuh kedamaian. Islam juga sebagai agama yang rahmatan lil-alamin yaitu rahmat bagi seluruh alam. Artinya, rahmat yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan itu akan terasa kepada seluruh umat di dunia. Hal ini juga dijadikan sebagai nilai sentral dalam ajaran Islam. Adapun sebagai kitab suci, Al-Qur’an berkali-kali menekankan pentingnya hidup dalam sebuah kedamaian.

Salah satunya seperti yang tertuang dalam surah Al-Baqarah ayat 224 yang berbunyi: “Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang dari berbuat baik, bertakwa, dan menciptakan kedamaian di antara manusia. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dan perdamaian juga tercermin dalam surah An-Nisa’ ayat 114  yang artinya “Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali (pada pembicaraan rahasia) orang yang menyuruh bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari rida Allah kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar.”

Apabila di zaman sekarang kita menemui orang-orang yang selalu menggembor-gemborkan konsep khilafah, konten propaganda pemecah-belah umat, atau orang yang mengatasnamakan Islam tetapi perspektifnya tidak menggunakan Islam secara benar, maka mereka hanyalah benalu yang membahayakan dan mengancam kedamaian Islam yang sesungguhnya. Inilah pentingnya berlaku kritis dan analitis dalam mengakses media online.

Mengapa kita masih harus terus berhati-hati dan membentengi diri dengan ilmu agama Islam yang benar? Karena jika lengah, merasa menjadi kaum lemah, sedang mencari jati diri, orang terpinggirkan, maka bisa menjadi sasaran empuk bagi para pengasong khilafah. Apa yang perlu kita lakukan agar tidak terjerumus pada sesat pikir yang dimunculkan pengasong khilafah? Beberapa di antaranya yang bisa diterapkan adalah sebagai berikut:

1. Memeriksa sumber informasi yang didapatkan

Belajarlah untuk melakukan analisis sebelum kita mengonsumsi sebuah konten yang berseliweran. Cari tahu sumber informasi yang kita dapatkan sehingga tahu apakah informasi tersebut valid atau hoaks.

2. Membaca dengan saksama, bukan hanya membaca judul artikel/berita

Berhati-hatilah dalam memilih bacaan sebab konten yang kita konsumsi akan berpengaruh pada cara berpikir hari ini dan ke depannya. Aktifkan sinyal dalam pikiran kita untuk mencerna dengan baik dan usahakan membaca penuh jangan hanya melihat judulnya saja.

3. Berhenti membagikan konten yang membahayakan diri sendiri dan orang lain

Jika kita menemukan konten yang berpotensi memprovokasi, mempropaganda, terindikasi kejahatan, dan framing negatif, maka hentikan hal tersebut. Diperlukan keberanian untuk speak up kebenaran dan lawan dengan narasi yang berdasarkan fakta juga data.

4. Jika menemukan konten yang membahayakan maka segera laporkan

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah melaporkan konten radikal, terorisme, propaganda, agar tidak menyebar ke mana-mana. Lakukan apa yang bisa kita lakukan.

Dengan lebih berhati-hati dan selektif lagi dalam menerima setiap informasi, maka kita tidak akan mudah terprovokasi oleh hal-hal negatif dari luaran. Semoga kita senantiasa dilindungi dari orang yang ingin berbuat keburukan dan sesat pikiran. Wallahu a’lam.

Leave a Comment

Related Post