Harakatuna.com – Hizbur Tahrir Indonesia (HTI) sebagai organisasi terlarang dan dibubarkan sesuai dengan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 namun dalam beberapa tahun terakhir, dinamika gerakan keislaman di Indonesia menunjukkan pola yang menarik untuk dicermati. Salah satu yang mencolok adalah bagaimana kelompok-kelompok tertentu, termasuk eks-HTI, memanfaatkan momentum-momentum penting dalam kalender Islam untuk kembali menggalang simpati umat.
Dua momentum yang sering dimanfaatkan adalah tarhib Ramadan dan tragedi kemanusiaan di Palestina. Dengan mengusung semangat solidaritas Islam dan perjuangan melawan kezaliman, HTI mencoba kembali merangkul umat, menyusup ke ruang-ruang publik, dan memasarkan ideologi khilafah yang telah dilarang di Indonesia.
Lalu, bagaimana strategi ini berjalan? Mengapa tarhib Ramadan dan isu Palestina menjadi “topeng” yang efektif? Dan apa dampaknya terhadap persatuan umat Islam di Indonesia? Mari kita kupas lebih dalam.
Tarhib Ramadan adalah tradisi menyambut bulan suci dengan penuh suka cita. Biasanya, kegiatan ini diisi dengan pawai, tausiah, doa bersama, hingga aksi sosial. Namun, kelompok eks HTI kerap memanfaatkan tradisi ini sebagai ajang propaganda. Melalui pawai atau tabligh akbar, mereka menyisipkan narasi tentang kebangkitan umat Islam yang, pada akhirnya, bermuara pada ajakan untuk memperjuangkan tegaknya khilafah.
Narasi yang sering digaungkan mencakup seruan tentang persatuan umat yang hanya bisa dicapai melalui khilafah, tuduhan bahwa kehancuran moral dan ketidakadilan adalah akibat absennya sistem Islam global, hingga anggapan bahwa pemimpin Muslim saat ini lemah karena tunduk pada sistem demokrasi yang dianggap bertentangan dengan Islam.
Dalam kemasan tarhib, narasi ini diselipkan secara halus. Misalnya, setelah membahas pentingnya menyucikan hati menjelang Ramadan, pembicara mulai mengaitkan kebangkitan spiritual dengan kebangkitan politik umat. Mereka membangun persepsi bahwa menjadi Muslim yang kaffah tidak cukup hanya dengan ibadah ritual, melainkan harus memperjuangkan tegaknya hukum Islam secara menyeluruh dalam bingkai khilafah.
Isu Palestina sebagai Simpati yang Dimobilisasi
Selain tarhib Ramadan, isu Palestina menjadi senjata lain yang sangat efektif. Tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat Palestina memang membangkitkan simpati global, termasuk di Indonesia yang mayoritas Muslim. HTI melihat ini sebagai peluang emas untuk menghidupkan kembali pengaruhnya di tengah masyarakat.
Mereka mengorganisir aksi solidaritas, mengadakan kajian-kajian bertema “Jihad untuk Palestina,” dan mengajak umat untuk melawan zionisme. Namun, di balik seruan membela Palestina, mereka menyisipkan propaganda yang lebih besar: bahwa solusi satu-satunya untuk membebaskan Palestina adalah dengan menegakkan khilafah global.
Dalam narasi HTI, Palestina dijadikan contoh nyata kegagalan sistem negara-bangsa. Mereka mengklaim bahwa selama dunia Islam terpecah menjadi puluhan negara yang berdiri sendiri, maka umat Islam akan terus tertindas. Satu-satunya solusi, menurut mereka, adalah menyatukan seluruh negeri Muslim di bawah satu pemimpin yang disebut khalifah, yang akan mengerahkan kekuatan militer untuk membebaskan Masjid Al-Aqsa.
Retorika ini sangat menggugah emosi umat, terutama karena Palestina adalah simbol persaudaraan Islam yang sangat kuat. Bagi banyak orang, sulit untuk membedakan antara solidaritas tulus dan propaganda ideologis yang terselubung. Ini menjadi celah yang dimanfaatkan HTI untuk menggalang dukungan tanpa terlihat secara eksplisit mengkampanyekan gerakan yang sudah dilarang pemerintah.
Dalam aksinya, HTI juga kerap menggandeng kaum hawa, baik remaja maupun kaum ibu, untuk memperluas jangkauan gerakan mereka. Perempuan sering kali menjadi wajah yang “lebih lembut” dalam menggaungkan narasi perjuangan. Melalui majelis-majelis taklim dan forum kajian keislaman, HTI membangun pengaruh kuat di kalangan perempuan, yang kemudian menjadi agen penyebaran ideologi khilafah di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar.
Kaum ibu, misalnya, sering dijadikan motor penggerak untuk aksi-aksi solidaritas, baik dalam bentuk penggalangan dana, aksi pawai, hingga kampanye media sosial. Mereka dimotivasi dengan retorika perjuangan untuk masa depan anak-anak mereka, bahwa hanya dalam sistem khilafahlah generasi Muslim bisa tumbuh tanpa ketidakadilan dan penindasan.
Remaja putri juga menjadi sasaran empuk melalui kegiatan-kegiatan yang dikemas menarik, seperti kajian keislaman, komunitas hijrah, hingga acara bertema Muslimah ideal. Melalui pendekatan emosional dan spiritual, HTI berupaya membangun kader-kader perempuan yang militan dalam menyuarakan ideologi mereka.
Mengapa Ini Berbahaya?
Strategi ini berbahaya karena menyusup secara halus ke dalam ruang-ruang keagamaan yang sejatinya netral. HTI menggunakan isu-isu yang dekat di hati umat untuk menyebarkan paham yang bertentangan dengan konsensus nasional dan bahkan merongrong keutuhan NKRI.
Polarisasi umat menjadi ancaman nyata. Dengan membenturkan narasi “khilafah vs demokrasi,” HTI menciptakan dikotomi yang tajam di tengah umat Islam. Mereka yang tidak mendukung gagasan khilafah sering kali dicap sebagai “antek thaghut” atau pendukung sistem kufur. Ini memperlebar jurang perpecahan antar sesama Muslim, yang seharusnya bisa bersatu dalam keberagaman.
Dalam menghadapi kebangkitan kembali HTI dengan strategi semacam ini, peran ulama dan organisasi Islam moderat menjadi sangat krusial. Ulama yang berpengaruh, seperti Tgk. H. Faisal Ali (Abu Sibreh), telah lama mengingatkan umat tentang pentingnya menjaga persatuan dan menghindari gerakan yang berpotensi memecah belah bangsa.
Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah juga perlu memperkuat literasi politik umat, menjelaskan bahwa membela Palestina tidak harus dengan mengorbankan stabilitas nasional. Mereka harus aktif mengisi ruang-ruang dakwah dengan narasi Islam yang ramah, inklusif, dan relevan dengan konteks keindonesiaan.
Tarhib Ramadan dan solidaritas untuk Palestina adalah hal-hal yang positif dan patut dijaga sebagai tradisi umat Islam. Namun, umat juga harus cerdas membaca situasi dan waspada terhadap infiltrasi ideologi yang menyusup di balik momen-momen tersebut. Kebangkitan HTI dengan topeng tarhib Ramadan dan isu Palestina harus menjadi alarm bagi kita semua untuk semakin mempererat ukhuwah islamiah tanpa terjebak dalam agenda tersembunyi yang mengancam keutuhan bangsa.
Beranjak dari uraian di atas, mari kita jadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat iman dan memperbanyak amal kebaikan, tanpa harus terseret ke dalam arus ideologi yang bisa memecah belah umat dan bangsa. Karena sejatinya, Islam adalah agama rahmatan lil alamin, yang mengajarkan perdamaian dan persatuan, bukan permusuhan dan perpecahan.
Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq.








Leave a Comment