Harakatuna.com – Beberapa hari lalu, saat saya membuka media sosial, saya menemukan sebuah postingan poster dari grup kelompok HTI, Muslimah Sriwijaya, yang berisi lima amalan selama bulan Ramadan. Salah satu dari kelima amalannya yaitu menggencarkan dakwah.
Selama bulan Ramadan, kajian dakwah dan ruang diskusi kajian keislaman memang banyak tergelar di berbagai ruang. Namun, tidak semua kajian dakwah keislaman berisi narasi Islam moderat, sebab banyak juga kajian dakwah Islam yang justru menyulut propaganda khilafah. Maka, penting bagi kita untuk selektif memilah dan memilih edukasi dakwah untuk diikuti.
Ramadan tepat menjadi momentum besar bagi kelompok Islam transnasional HTI menyebarkan ideologi mereka. Kajian Ramadan menyiarkan dakwah propaganda khilafah dalam berbagai bentuk; ceramah agama, konten media sosial berupa hikmah dan makna bulan Ramadan, spanduk, juga poster. Bahkan saat Ramadan, kelompok HTI banyak menggelar aksi pawai menyambut bulan Ramadan yang dinamai Tarhib Ramadan sebagai ajakan bentuk ketaatan umat muslim di bulan kemenangan.
Penyebaran konten propaganda khilafah melalui kajian dakwah di media sosial saat bulan Ramadan menjadi kesempatan besar karena momentum banyak orang belajar mengikuti berbagai kajian. Media sosial menjadi ruang paling mudah dan menguntungkan bagi mereka melakukan cara yang sangat halus—menyebarkan narasi ideologi. Penyebaran media sosial dilakukan secara masif yang bisa menyasar berbagai kalangan dan umur, dalil ajaran agama diramu secara tekstualis saja yang berujung pada kepentingan penegakan khilafah islamiah dan Islam kafah.
Melihat Narasi Bulan Suci Ramadan Para Transnasionalis
“Ramadan adalah bulan pembebasan Islam dan bulan masuknya orang secara berbondong-bondong ke dalam Islam. Sejarah menjadi saksi bagi masa keemasan Islam pada saat itu, masa yang tidak pernah disaksikan oleh siapa pun sejak umat Islam menjadi umat terbelakang karena tidak adanya pemerintahan yang menerapkan Islam dan khalifah.”
Narasi di atas merupakan narasi poster yang saya temukan melalui saluran grup Muslimah HTI. Lantas, benar bukan, bahwa kelompok HTI menarasikan secara halus memaparkan makna bulan Ramadan sebagai momentum waktu yang suci untuk mempertebal iman untuk meraih kemenangan dari solusi yang melulu merujuk pada syariat Islam kafah dan negara Islam.
Narasi lain yang selalu digaungkan saat Ramadan juga adalah tentang kejayaan Islam saat peperangan Islam masa silam. Mereka menarik narasi bahwa kemenangan peperangan Islam terjadi saat bertepatan dengan bulan suci Ramadan sehingga umat Islam dapat mengambil makna dari kisah tersebut.
Sehingga dari kisah perjuangan Islam dari peperangan, mereka mengambil makna bahwa persatuan kaum muslimin saat Ramadan dijadikan ajang untuk memperkuat keimanan. Bulan Ramadan bagi mereka adalah momentum untuk istikamah mempelajari Islam, berjuang untuk Islam hingga terwujud penerapan Islam secara kafah.
Dengan beralasan memperbaiki kualitas puasa dan terwujudnya ketakwaan hakiki ditawari dengan cara umat Islam yang harus menjalankan syariat Islam secara kafah dalam institusi khilafah. Isi dakwah semacam ini menjadi kepentingan dan mendukung agenda para aktivis khilafah dengan memanipulasi narasi yang disyiarkan kepada masyarakat.
Kesadaran Diri untuk Selektif
Dakwah bulan Ramadan sekali lagi menjadi sangat penting dan marak penyebarannya karena banyak orang lebih terbuka untuk menerima pesan-pesan agama. Dengan demikian, para juru dakwah di bulan Ramadan lebih dominan akan tampil untuk mengingatkan urusan ibadah dan akhirat. Tapi, mari kita coba membaca kembali rujukan otoritatif Islam pada isi dan makna Al-Qur’an Surat an-Nahl (16: 125).
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Dalam ayat ini seruan konteks dakwah harus direalisasikan dengan cara yang baik. Para aktivis khilafah yang menyiarkan dakwah Islam kafah dapat kita menimpalinya dengan cara yang baik. Maka, penting bagi umat beragama dapat memilah dan memilih kajian dakwah yang menarasikan Islam damai rahmatan lil ‘alamin. Sebab, sebagaimana di tulisan atas bahwa tidak semua juru dakwah yang terlihat apik dalam layar dapat kita terima dan ikuti isi dakwahnya. Kita harus memilah dulu kemudian memahami secara utuh makna dan pesan kontekstual yang selaras dengan zaman.
Sekalipun para aktivis khilafah ini nampak pandai dalam hal kajian dakwah, tetapi coba simak dulu isinya. Dakwah islamiah kelompok khilafah cenderung kaku, ortodoks, dan kolot, bahkan nilai-nilai ajaran yang disampaikan terkesan jumud dan mandeg, tak sesuai dengan dinamika zaman. Penyebutan dalil sebagai pedoman pun tak dikaji secara kontekstual. Dengan itu, Islam kafah yang mereka gemborkan hanya sesuai dengan apa yang mereka benarkan, tanpa mengambil manhaj hukum yang semestinya.
Maka dari itu, kita perlu menghindari kajian dakwah ekstremis dengan memilih kajian dakwah moderat. Media sosial dengan penyebaran kontennya yang beragam nan mudah, perlu untuk kita meningkatkan literasi digital sebagai sarana edukasi untuk mencegahnya. Masyarakat terutama kalangan muda perlu melek informasi dan diedukasi terkait cara mengidentifikasi dan menangkal propaganda ekstremis di media sosial. Pemerintah maupun stakeholder dapat menyediakan akses edukasi.
Masyarakat harus memiliki kesadaran kritis mencerna informasi. Sebab tak menjamin benar meskipun yang tampak seakan selalu benar. Kita perlu kritis dan jeli. Informasi yang beredar perlu disaring dulu dan dicek kebenaran informasi berasal dan isi pesan ajarannya. Edukasi pencegahan penyebaran ideologi khilafah perlu dilakukan bersama-sama terlebih dikenalkan kepada masyarakat bagaimana gerakan transnasionalisme gampang sekali menyebar dan merusak tatanan negara.
Pemerintah perlu memiliki andil serius untuk melakukan pencegahan kepada masyarakat melalui edukasi. Peran media juga penting menciptakan narasi alternatif dengan memproduksi konten-konten perdamaian. Kapasitas generasi muda organisasi Islam arus utama sekalian menjadi keterlibatan penting sebagai tanggung jawab bersama.
Maka, tugas besar kita adalah memiliki kesadaran penuh memilah dan memilih secara kritis informasi keagamaan yang banyak tersebar. Dakwah harus berdampak baik secara signifikan untuk menciptakan kerukunan tanpa kekerasan serta segala tipu daya manipulatif.








Leave a Comment