FKPT Tegaskan Komitmen Pencegahan Terorisme Lewat Sinergi Lintas Sektor

Harakatuna

20/03/2025

4
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Surabaya – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) menegaskan komitmennya untuk memperkuat upaya pencegahan terorisme di Indonesia melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Dalam Forum Group Discussion (FGD) pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) FKPT 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama perwakilan FKPT dari 36 provinsi dan dua kabupaten baru, Jepara dan Lebak, membahas strategi dan program kerja yang akan dijalankan sepanjang tahun.

Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Dr. Harianto, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya kerjasama lintas sektor dalam menghadapi ancaman terorisme yang semakin kompleks. “Pencegahan terorisme bukan hanya tugas pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama. Kami terus memperluas jangkauan kerja sama dengan berbagai lembaga, ormas keagamaan, komunitas pemuda, hingga media untuk membangun daya tangkal masyarakat terhadap paham radikal,” ujar Dr. Harianto dalam Rakernas yang berlangsung pada Rabu (19/03/2025).

Lebih lanjut, Dr. Harianto menjelaskan bahwa FKPT akan mengadopsi model pentahelix, yaitu kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, dan komunitas. “Tantangan kita semakin kompleks. Untuk itu, pendekatan yang melibatkan berbagai unsur ini menjadi kunci agar upaya pencegahan lebih efektif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” jelasnya.

Program Strategis FKPT 2025

Dalam Rakernas kali ini, sejumlah program strategis FKPT 2025 dipaparkan, di antaranya program “Pitutur Cinta”. Program ini bertujuan untuk membekali penceramah lintas agama dengan pemahaman keagamaan moderat guna menangkal narasi ekstremisme. “Kita ingin membangun narasi perdamaian melalui para penceramah yang memiliki wawasan kebangsaan yang kuat. Mereka akan menjadi agen perdamaian di komunitas masing-masing,” ungkap Dr. Harianto.

Program lainnya, “Goresan Cinta”, juga dihadirkan sebagai upaya meningkatkan literasi media. Program ini melibatkan insan media muda dalam memproduksi konten jurnalistik anti-radikalisme. “Media memiliki peran besar dalam membentuk opini publik. Kami ingin memastikan bahwa jurnalis, terutama di daerah, memiliki pemahaman yang kuat tentang cara melawan propaganda radikal,” tambah Dr. Harianto.

Selain itu, FKPT juga merancang program berbasis budaya yang bertujuan mencegah infiltrasi ideologi ekstrem di kalangan anak muda. Program “Laskar Cinta”, misalnya, mengajak generasi muda untuk melestarikan seni dan budaya lokal sebagai benteng dari radikalisme. “Seni dan budaya adalah kekuatan bangsa. Jika anak muda kita aktif dalam kegiatan budaya, maka mereka memiliki benteng yang kuat terhadap ideologi kekerasan,” ungkapnya.

Survei dan Kolaborasi untuk Pencegahan yang Lebih Tepat Sasaran

Dalam rangka memahami dinamika potensi radikalisasi di Indonesia, FKPT juga berencana untuk melakukan survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) dan Indeks Risiko Terorisme (IRT). Dr. Harianto menjelaskan, “Data yang akurat sangat penting. Dengan survei ini, kita bisa memahami daerah mana yang memiliki potensi lebih tinggi terhadap radikalisme dan merancang program pencegahan yang lebih tepat sasaran.”

Kolaborasi dengan berbagai lembaga dan organisasi masyarakat juga menjadi agenda utama FKPT. “Kami bekerja sama dengan banyak pihak, mulai dari Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan, TNI, Polri, hingga organisasi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah. Sinergi ini sangat penting agar program-program kami bisa berjalan dengan maksimal,” kata Dr. Harianto.

Tantangan Efisiensi Anggaran Tidak Menjadi Penghalang

Meskipun menghadapi tantangan dalam efisiensi anggaran, FKPT tetap optimis bahwa program pencegahan terorisme bisa dilaksanakan dengan baik. Dr. Harianto menegaskan, “Kami menyadari bahwa ada keterbatasan, tapi itu tidak mengurangi semangat kami untuk terus bekerja. Dengan kerja sama yang erat dan inovasi dalam pelaksanaan program, kami yakin bisa tetap mencapai tujuan yang diharapkan.”

Hal senada disampaikan oleh Ketua FKPT Jawa Timur, Prof. Dr. Hj. Husniyatus Salamah Zainiyati, yang menegaskan pentingnya sinergi dalam pelaksanaan program meski ada keterbatasan dana. “FKPT Jawa Timur akan terus menjalin sinergi dengan berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah daerah dan lembaga lainnya. Kolaborasi ini menjadi kunci utama dalam menjalankan program-program pencegahan intoleransi, moderasi, serta inisiatif lain yang berkaitan dengan pencegahan terorisme,” ujar Prof. Husniyatus Salamah.

Ia juga menambahkan, “Keberlanjutan program bukan hanya bergantung pada anggaran, tetapi juga pada komitmen dan kreativitas dalam menjalankan program di tengah keterbatasan. Dengan kerja sama yang solid dan strategi yang tepat, FKPT optimis dapat tetap menjalankan program pencegahan terorisme secara efektif dan berkelanjutan.”

Dengan berbagai inisiatif tersebut, FKPT berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat daya tangkal masyarakat terhadap radikalisasi dan terorisme di Indonesia, serta memastikan bahwa semua lapisan masyarakat terlibat dalam upaya pencegahan yang lebih efektif.

Leave a Comment

Related Post