Harakatuna.com. Tel Aviv – Sekitar 40.000 warga Israel turun ke jalan-jalan Tel Aviv pada Selasa malam, 18 Maret 2025, untuk memprotes keputusan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang melanjutkan perang di Jalur Gaza. Protes besar ini dimulai di Habima Square, pusat kota Tel Aviv, dan segera menyebar ke jalan-jalan sekitar seperti Rothschild dan Ben Zion, yang menyebabkan kemacetan parah di kawasan tersebut.
Menurut laporan Jaridah Al-Quds, aksi serupa juga terjadi di berbagai kota lainnya, seperti Yerusalem, Sha’ar Hanegev, Beersheba, Haifa, dan daerah-daerah lain di Israel. Para demonstran menggema dengan slogan-slogan yang keras menentang kelanjutan perang dan mendesak agar Netanyahu segera menghentikan operasi militer di Gaza.
Sebagian besar pengunjuk rasa menganggap bahwa Netanyahu melanjutkan perang dengan pertimbangan politik demi mempertahankan kekuasaannya. Selain itu, mereka juga menuntut kesepakatan internasional yang dapat membebaskan semua sandera Israel yang ditahan oleh Hamas. Para demonstran menilai bahwa perang tidak akan menyelamatkan para sandera, sebaliknya justru mengancam keselamatan mereka.
Dalam aksi tersebut, hadir pula tokoh-tokoh penting yang memiliki pengaruh besar di dunia keamanan Israel. Di antaranya adalah mantan Komisaris Polisi Roni Alsheich, mantan Kepala Mossad Tamir Pardo, serta keluarga-keluarga sandera yang terdampak langsung oleh konflik ini.
Salah satu momen yang menonjol adalah pernyataan emosional dari Einav Tsengauker, seorang ibu yang anaknya menjadi sandera di Gaza. Dalam orasinya, Tsengauker menyerukan agar para demonstran bergabung dalam protes keluarga tahanan yang digelar di Begin Street, tepat di seberang markas besar Kementerian Pertahanan Israel.
“Netanyahu telah membuka gerbang neraka bagi para sandera, bukan bagi Hamas. Mereka hanya bisa diselamatkan melalui satu kesepakatan komprehensif. Perang tidak akan membawa mereka kembali, perang akan membunuh mereka,” kata Tsengauker, dengan penuh emosi.
Ia juga mengajak para demonstran untuk mengambil tindakan lebih tegas. “Jika puluhan ribu warga Israel mendirikan tenda di sekitar markas besar Kementerian Pertahanan di Tel Aviv, Netanyahu tidak punya pilihan selain mengakhiri perang dan memulangkan para sandera,” ujarnya.
Protes besar ini menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjuangan warga Israel yang menginginkan penghentian segera terhadap konflik yang telah menelan banyak korban jiwa, baik di pihak Israel maupun Palestina.








Leave a Comment