Harakatuna.com – Bulan puasa sudah memasuki hari kedua puluh, apa yang sudah kita amalkan selama dua pertiga Ramadhan ini? Masjid-masjid mulai kosong, shaf tarawih mulai lengang. Sepuluh hari terakhir memang kerap ditinggal jemaah; umat mulai sibuk dengan aktivitasnya, hingga tak jarang melupakan satu momen penting di bulan ini, yaitu Lailatul Qadar—malam yang keutamaannya melebihi seribu bulan.
Bulan Ramadhan memang selalu hadir dengan nuansa sakral yang mengalir lembut dalam setiap helaan nafas kehidupan umat. Di tengah perjalanan waktu yang terasa begitu cepat, Ramadhan menawarkan kesempatan bagi jiwa untuk berhenti sejenak dan merenung, menyelami kedalaman makna serta mencari keseimbangan antara dunia dan akhirat. Lantas, bagaimana membawa Lailatul Qadar dalam spirit moderasi?
Dalam gelapnya malam, seolah terselip pesan-pesan Ilahi yang mengajarkan, keagungan tak harus dicapai dengan mengabaikan aktivitas keseharian, namun melalui keikhlasan yang menyatu dengan prinsip moderasi. Spirit wasatiah senantiasa mengingatkan bahwa kehidupan harus dijalani dengan seimbang dan bijaksana. Tujuannya, agar fadhilah Ramadhan-nya dapat, dan target duniawinya juga tergapai.
Lailatul Qadar mengundang setiap insan untuk menyucikan hati dan membersihkan pikiran dari segala beban dunia. Di balik setiap doa yang terucap dan setiap bisikan harapan yang menghiasi langit malam, tersimpan pelajaran mendalam ihwal pentingnya tidak terjerumus dalam radikal-terorisme, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan sosial. Spirit wasatiah mengajarkan, keberagamaan ialah tentang menemukan harmoni Ilahi dan realitas dunia.
Begitu juga, wasatiah atau jalan tengah adalah prinsip menjaga keseimbangan kehidupan. Semangat wasatiah tampak dalam bagaimana umat Islam diajak untuk berpuasa dengan tidak berlebihan dalam menahan diri, tidak ekstrem dalam menghindari dunia, dan tetap menjalankan kehidupan sosial secara proporsional. Ramadhan bukan soal menahan lapar-dahaga saja, namun juga tentang penyeimbangan spiritualitas dan relasi sosial.
Lailatul Qadar, yang diyakini terjadi sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya di malam-malam ganjil mengajarkan, puncak keberkahan didapat dari konsistensi dan keseimbangan ibadah dan menjalani kehidupan sehari-hari. Rasulullah Saw. sendiri mencontohkan intensitas ibadahnya di sepuluh malam terakhir tanpa meninggalkan kewajiban sosialnya. Itulah wasatiah yang laik diteladani.
Dalam realitas kehidupan modern, wasatiah di bulan Ramadhan menemukan relevansinya. Di tengah arus radikalisme di satu sisi dan sekularisme di sisi lain, Islam menawarkan jalan tengah bahwa keberagamaan yang sehat adalah keberagamaan yang tidak melampaui batas. Ramadhan menjadi momentum eskalasi spiritualitas dan kemanusiaan; tidak terlalu sibuk dengan dunia hingga melupakan akhirat atau sebaliknya.
Lailatul Qadar yang penuh misteri juga mengajarkan nilai keikhlasan. Tak ada yang tahu pasti kapan ia tiba, tetapi justru dalam ketidaktahuan itu tersimpan hikmah besar. Umat didorong untuk terus beribadah sepanjang Ramadan, tidak saja di satu malam tertentu, karena Rahmat-Nya tak terbatas satu malam. Itulah esensi moderasi dalam ibadah—bahwa ibadah itu soal membangun kebiasaan berkelanjutan.
Di tengah kehidupan berbangsa-bernegara yang penuh ketidakpastian, utamanya dengan kabar korupsi gila-gilaan hari-hari ini, Ramadhan dan Lailatul Qadar menawarkan jeda untuk merenungkan nilai wasatiah dalam kehidupan. Keseimbangan antara kerja dan ibadah, antara kepentingan pribadi dan sosial, antara materi dan spiritual, bahkan antara berbangsa dan bernegara itu sendiri. Mari menunggu Lailatul Qadar; mari menjadi manusia moderat.
Lantas, apakah spirit wasatiah tersebut dalam dibawa ke dalam spirit kesiapsiagaan nasional? Jawabannya: bisa. Spirit wasatiah memiliki relevansi yang mendalam dalam konsep kesiapsiagaan nasional untuk menghadapi ancaman dan membangun fondasi kokoh menghadapi tantangan kebangsaan. Itulah landasan bagi kesiapsiagaan nasional yang tangguh serta berorientasi jangka panjang.
Spirit wasatiah, yang mengajarkan keseimbangan individual dan kolektif dapat jadi prinsip utama merancang strategi kesiapsiagaan nasional yang bertumpu pada kekuatan militer atau hukum, juga pada pendekatan yang humanis. Negara yang siap menghadapi tantangan bukanlah negara yang hanya memperkuat aspek pertahanan fisik, namun juga yang mampu membangun masyarakat secara intelektual, emosional, dan spiritual.
Faktanya, dalam menghadapi radikal-terorisme, wasatiah menjadi solusi utama dalam membangun ketahanan sosial. Spirit wasatiah dalam kesiapsiagaan nasional berarti membangun masyarakat yang memiliki kesadaran kolektif untuk resisten dengan radikal-teroris dan segala tetek bengeknya. Misalnya, ada moderasi dalam pemanfaatan SDA, mitigasi bencana, serta kebijakan pembangunan yang ekoteologis-oriented.
Kesiapsiagaan nasional yang berlandaskan wasatiah akan menciptakan harmoni masyarakat dan memastikan resiliensi bangsa dalam menghadapi segala bentuk tantangan, baik dari dalam maupun luar. Dalam cahaya Lailatul Qadar yang membawa keberkahan dan harapan, spirit wasatiah memberi inspirasi bahwa keseimbangan adalah kunci utama untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.








Leave a Comment