Memanfaatkan Kultum Ramadan sebagai Kontra-Narasi, Mengapa Tidak?

Ahmad Khairi

10/03/2025

5
Min Read
Kultum Ramadan

On This Post

Harakatuna.com – Apa hal yang paling bikin malas saat tarawih? Sebagian orang boleh jadi akan menjawab: kultum. Iya, kultum, kuliah tujuh menit, itu disampaikan sebelum tarawih di mayoritas masjid di Jakarta. Ia mengejawantah sebagai tradisi intelektual yang menyentuh kesadaran kolektif. Kendati kerap menjemukan karena topiknya monoton, di situ tersembunyi potensi besar: kultum sebagai senjata kontra-narasi. Ide gila macam apa itu?

Jadi, daripada topiknya itu-itu saja, tidak menarik, sebaiknya kultum itu direorientasikan. Bukan saja untuk menyampaikan pesan moral, ia mesti digunakan untuk melawan arus ideologi transnasional yang menarasikan khilafah dan Islam kafah tanpa henti di tengah masyarakat. Pertanyaannya: bagaimana mungkin ceramah tujuh menit mampu menjadi tameng ideologis? Mari bedah dengan kacamata analitis.

Yang jelas, setiap kata yang diucapkan di mimbar masjid adalah performa. Kultum, kendati singkat, adalah panggung di mana narasi dibentuk, diperdebatkan, atau bahkan dihancurkan. Dalam teori komunikasi, durasi tujuh menit justru menjadi keunggulan: pesan harus padat, tajam, dan mudah diingat—mirip soundbite di medsos itu. Bedanya, kultum disampaikan di lokus sakral, di hadapan jemaah yang sedang dalam kondisi psikologis receptive, mudah menerima pesan.

Pada saat yang sama, HTI paham betul kekuatan narasi. Mereka membangun mitos tentang khilafah sebagai solusi magis bagi krisis umat Islam, mengeksploitasi rasa frustrasi terhadap ketidakadilan global, atau bahkan tuduhan kesemrawutan nasional. Namun, narasi itu cacat secara epistemologis sebab mengabaikan kompleksitas realitas politik, ekonomi, dan budaya Indonesia yang plural. Di situlah kultum bisa menjadi antitesis narasi-narasi HTI dan melawannya lewat kultum.

Mainstreaming Kultum untuk Kontra-HTI

Ada dua narasi HTI yang selalu dijajakkan ke umat Muslim tanah air. Pertama, konsep khilafah. HTI bertumpu pada romantisasi sejarah, seolah-olah sistem pemerintahan masa lalu sangat ideal. Padahal, sejarah Islam sendiri juga penuh konflik internal, korupsi, dan ketidakadilan seperti perang saudara hingga pembantaian Dinasti Umayyah. Kultum bisa mengungkap fakta tersebut dengan analogi sederhana: jika khilafah adalah solusi, mengapa ia runtuh berkali-kali? Beres.

Kedua, narasi tentang Islam kafah. Mereka menyempitkan Islam menjadi sekumpulan aturan legal-formal seperti yurisdiksi Islam, sembari mengabaikan esensi Islam sebagai etika universal: keadilan, belas kasih, dan kebijaksanaan. Kultum bisa menjadi momen dai atau imam tarawih menerangkan bahwa Islam kafah seharusnya berarti integrasi Islam ke dalam semua aspek kehidupan, bukan pemaksaan simbol-simbol agama belaka seperti yang digemborkan HTI.

Lantas , bagaimana strategi kontra-narasi yang dimaksud? Framework-nya adalah dari teori ke aksi. Untuk melawan HTI, kultum harus dirancang sebagai counter-framing, pembingkaian ulang. Ini bisa dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu mengganti mitos dengan realitas, memperluas makna jihad, dan memanfaatkan otoritas. Apa maksud dari ketiga pendekatan tersebut? Menarik diuraikan.

Pertama-tama, HTI itu mengoplos khilafah sebagai utopia. Kultum perlu membawa jemaah kembali ke realitas: Indonesia adalah negara dengan 17.000 pulau, 700 bahasa, dan 6 agama resmi. Sistem khilafah yang sentralistis dan homogen ala HTI justru kontradiktif dan akan jadi biang chaos. Kegagalan negara-negara Timur Tengah dan label sebagian negara di sana sebagai failed state mesti jadi pelajaran bahwa teokratisme di zaman sekarang sangat tidak relevan.

Selanjutnya, HTI kerap menggunakan istilah jihad sebagai alat mobilisasi politik. Kultum bisa jadi momen untuk merebut kembali makna asli jihad: jihad melawan kemiskinan dengan zakat, jihad melawan kebodohan dengan pendidikan, atau jihad melawan intoleransi dengan dialog antarumat. Dengan begitu, jihad tidak lagi dimonopoli sebagai perang fisik atau revolusi politik. HTI biasanya menyelipkan bughat pasca-thalabunnushrah. Itu mesti dilawan.

Selain itu, di Indonesia, kiai, ustaz, dan imam masjid memiliki otoritas yang tinggi. Jika mereka konsisten menyisipkan pesan wasatiah dalam kultum, maka pesan itu akan dianggap suara Islam yang autentik, dan propaganda HTI pun akan sirna. Di samping otorisasi tokoh, kultum juga akan efektif sebagai sarana kontra-narasi karena saat Ramadan, emosi keagamaan mencapai puncaknya. Jemaah cenderung terbuka secara spiritual, sehingga pesan apa pun mudah diterima.

Dalam teori psikologi sosial, itu disebut state of suggestibility, kondisi di mana seseorang lebih mudah menerima pesan moral daripada di luar Ramadan. Apalagi, kultum disampaikan dalam format storytelling. Misalnya, dai bisa bercerita tentang seorang pemuda yang ikut HTI karena janji khilafah, tetapi akhirnya sadar setelah melihat kontribusi nyata Muslim moderat dalam membangun sekolah dan rumah sakit. Cerita semacam itu akan membentuk cognitive framework yang anti-propaganda.

Kultum itu Gerakan Kultural

Namun, kultum sebagai kontra-narasi tidak bisa berdiri sendiri. Ada dua tantangan besar: kesenjangan elite agama dengan generasi muda dan mengakarnya politik identitas. Narasi HTI selalu menyasar anak-anak muda melalui medsos secara atraktif. Sementara kultum tradisional cenderung statis dan monolog. Solusinya, dai perlu mengadopsi bahasa populer, menggunakan referensi kekinian, atau bahkan membuka ruang dialog setelah kultum.

Di samping itu, bagi sementara kelompok, khilafah bukan sekadar sistem politik, melainkan identitas. Kultum harus menghindari dikotomi ‘kita vs mereka’, dan lebih menekankan bahwa moderasi bukanlah pengkhianatan terhadap Islam, melainkan bentuk kecerdasan dalam merespons kompleksitas zaman. Artinya, memanfaatkan kultum sebagai kontra-narasi bukan sekadar proyek top-down, tapi gerakan kultural yang harus melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Masing-masing ormas bisa menyusun modul kultum tematik untuk diedarkan ke masjid-masjid. Masih hari kesepuluh, belum terlambat. Anak-anak muda juga bisa diinstruksikan untuk mengampanyekan tagar #KultumModerat di medsos mereka. Dalam konteks ini, kultum Ramadan bukan lagi sekadar ritual—ia adalah pertarungan wacana. Pada intinya, jika HTI menggunakan medsos dan mimbar untuk menyebar khilafah dan Islam kafah, mengapa kita tidak? Lawan!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post