Manfaat Riset bagi Seorang Muslimah dalam Menangkal Radikal-Terorisme

Muhammad Farhan

26/01/2025

5
Min Read
Riset Muslimah

On This Post

Harakatuna.com – Ketika kita mendengar aktivitas riset apa yang ada dibenak pemikiran kita? Kita mungkin akan memahaminya sebagai aktivitas kegiatan yang dilakukan oleh seorang ilmuwan. Seperti Albert Einstein, Ibnu Sina, dan tokoh besar ilmuwan lainnya. Ya pandangan itu tidak salah. Sebab tokoh-tokoh besar itu memang menghasilkan pengembangan ilmu tentunya lewat dari aktivitas riset. Namun, pandangan ini rasanya kurang tepat jika kegiatan riset disebut hanya aktivitas kegiatannya seorang ilmuwan. Sebab siapapun bisa melakukan aktivitas ini, tidak terkecuali seorang Muslimah. 

Riset secara prinsip adalah upaya pemecahan masalah dengan menerapkan langkah-langkah sistematis dan bisa dipertanggungjawabkan dalam menjawab masalah. Menurut Leddy (1989), riset adalah sebuah prosedur untuk mencari tahu jawaban atas suatu masalah tertentu secara sistematis dan didukung oleh fakta.

Secara sederhana aktivitas riset adalah kegiatan menjawab sebuah permasalahan secara sistematis berdasarkan fakta. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, riset tidak harus selalu dilakukan di laboratorium. Seorang Muslimah bisa menggunakan pendekatan riset untuk memahami dan menyelesaikan berbagai persoalan sosial, salah satunya dalam menangkal radikalisme.

Dalam tulisan ini, penulis ingin menjelaskan bahwa aktivitas riset bisa menjadi sebuah alat untuk menjawab permasalahan sosial kita hari ini khususnya dalam menangkal pemikiran radikalisme. Kita ketahui bersama bahwa salah tafsir dalam ajaran agama, kurangnya pengetahuan, atau terjebak dalam informasi yang salah sering sekali menjadi penyebab seseorang terjebak pada radikalisme. Apalagi pemikiran radikal sering kali disebarkan dengan cara doktrinisasi yang sarat manipulasi. Tentunya pemikiran radikal ini harus dijawab dengan cara yang berlandaskan ilmu agar kita tidak terpapar pemikiran radikal. 

Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, seorang pengamat militer dan intelijen. Dia mengatakan ada sejumlah alasan mengapa perempuan Indonesia terpapar paham radikal. Faktornya bisa berupa agama, sosial, dan budaya. Selain itu, dia menyatakan bahwa perempuan yang pendidikan rendah akan lebih mudah terpapar pemikiran radikal. 

Kepala BNPT juga menambahkan bahwa saat ini ada kecenderungan wanita untuk menjadi teroris. Studi dari Soufan Center menunjukkan bahwa jumlah wanita yang mendukung teroris meningkat di wilayah Asia Tenggara. Dia mencatat bahwa pada tahun 2015, tiga wanita ditangkap karena kasus terorisme. Namun, dari tahun 2016 hingga 2020, sudah mencapai 40 orang. Hal ini menunjukkan bahwa kaum perempuan sangatlah rentan terpapar oleh radikalisme. 

Maka dari itu, agar seorang Muslimah tidak terjebak oleh radikalisme. Tentu perlu bagi Muslimah menerapkan aktivitas riset dalam kesehariannya. Sebab aktifitas ini adalah kegiatan menjawab masalah berbasis fakta dan ilmu. Dengan menerapkan riset, lantas apa saja manfaat riset yang didapatkan oleh seorang Muslimah?  Artikel ini akan menguraikan beberapa manfaat riset bagi seorang Muslimah dalam menangkal radikalisme. 

Pertama, membentuk pribadi Muslimah yang berpola pikir ilmiah. Riset membantu seorang Muslimah mengembangkan pola pikir ilmiah yang tidak mudah dipengaruhi oleh emosi atau propaganda.  Seorang Muslimah belajar untuk melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang sebelum membuat kesimpulan. Seorang Muslim yang berpola pikir ilmiah, tidak langsung mempercayai informasi yang mengarah pada ajakan ekstrem. Ia akan mencari sumbernya, menyelidiki konteksnya, dan membandingkannya dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Akibatnya, ia tidak hanya melindungi dirinya sendiri dari pengaruh buruk, tetapi juga menjadi teladan bagi orang lain.

Kedua, membentuk pribadi Muslimah yang analitis, kritis, dan objektif. Individu yang tidak memiliki kemampuan berpikir kritis sering menjadi target dari radikalisme. Mereka biasanya menerima informasi secara langsung tanpa mempertanyakan kebenaran informasi tersebut. Seorang Muslimah dapat mengasah kemampuan analisisnya dengan melakukan penelitian untuk membedakan fakta dari pendapat atau propaganda.

Muslimah yang analitis akan mempertimbangkan banyak hal sebelum sampai pada kesimpulan. Tidak mudah untuk dipengaruhi oleh perselisihan atau emosi. Selain itu, ia akan bersikap objektif, melihat situasi tanpa dipengaruhi oleh kepentingan pribadi. Kemampuan ini sangat penting untuk melawan cerita radikal yang sering dipresentasikan dengan cara yang manipulatif.

Ketiga, meningkatkan pemahaman Agama yang Komprehensif. Salah satu penyebab utama radikalisme adalah kurangnya pemahaman agama. Melalui riset, seorang Muslimah dapat menggali ajaran Islam dari sumber-sumber yang otentik, seperti Al-Qur’an, hadits, dan literatur Islam klasik. Pemahaman yang mendalam ini membantu Muslimah melihat Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), bukan agama yang mendukung kekerasan atau ekstremisme.

Misalnya, ketika menemukan ayat-ayat yang sering disalahgunakan oleh kelompok radikal, seorang Muslimah yang melakukan riset mampu memahami konteksnya. Ia dapat menjelaskan bahwa Islam melarang segala bentuk pemaksaan dalam beragama (la ikraha fid din). Dengan pemahaman yang komprehensif, seorang Muslimah dapat menjadi duta Islam yang damai dan toleran.

Keempat, mengembangkan Pemikiran Rasional. Radikalisme sering kali memanfaatkan emosi untuk menarik simpati. Dengan melakukan riset, seorang Muslimah belajar berpikir secara rasional dan logis. Pemikiran rasional membantu Muslimah untuk tidak mudah terpengaruh oleh ajakan-ajakan ekstrem yang menggunakan pendekatan emosional. Sebagai contoh, kelompok radikal sering kali menggunakan isu ketidakadilan untuk membangkitkan kemarahan. Namun, seorang Muslimah yang berpikir rasional tidak akan langsung bereaksi tanpa mencari tahu akar masalahnya. Ia akan memahami bahwa Islam mengajarkan keadilan, tetapi menempuh cara damai untuk mencapainya.

Terakhir, dengan riset seorang Muslimah bisa meluruskan Narasi Radikal di Media Sosial. Di era digital, media sosial menjadi salah satu alat utama penyebaran paham radikal. Seorang Muslimah yang berbekal hasil riset dapat meluruskan narasi radikal yang tersebar di platform digital. Ia dapat menyajikan argumen yang kuat dan berbasis fakta untuk melawan informasi yang menyesatkan. Misalnya, ketika menemukan unggahan yang memutarbalikkan ajaran Islam, seorang Muslimah dapat membuat konten yang menjelaskan kebenarannya. Dengan cara ini, ia tidak hanya melindungi dirinya sendiri tetapi juga membantu orang lain terhindar dari pengaruh radikalisme.

Dari pembahasan ini kita bisa pahami bahwa riset bukanlah aktivitas yang hanya dilakukan oleh para ilmuwan. Sebagai seorang Muslimah, riset dapat menjadi alat yang efektif untuk menangkal radikalisme. Dengan riset, seorang Muslimah dapat mengembangkan pola pikir ilmiah, menjadi analitis dan kritis, serta mampu memecahkan masalah. Selain itu, riset juga meningkatkan pemahaman agama, mengasah pemikiran rasional, dan meluruskan narasi radikal di media sosial.

Sebagai Muslimah, tugas kita ialah menjaga diri dari pengaruh radikal-terorisme, serta menciptakan masyarakat damai dan toleran. Dengan riset sebagai senjata melawan radikalisme, kita dapat menghadapi tantangan ini dengan ilmu dan kebijaksanaan. Islam mengajarkan kita untuk mencari ilmu dari buaian hingga liang lahat, dan riset adalah salah satu cara untuk mewujudkannya. Semoga manfaat dari aktivitas riset ini bisa menjadi alat bagi seorang Muslimah dalam melawan dan terjauhi oleh pemikiran radikal. Aamiin ya rabbal alamin.  

Leave a Comment

Related Post