Harakatuna.com – Radikalisme sebagai ideologi transnasional memiliki spirit utama untuk merubah tatanan sosial dan sistem politik melalui kekerasan dan gerakan secara brutal menimbulkan dampak yang tidak sederhana. Misalnya masih terbayang dalam ingatan masyarakat Indonesia bagaimana sadisnya tragedi bom Bali, bom Sarinah Jakarta dan bom di gereja Surabaya.
Para peneliti dan akademisi setidaknya telah memetakan beberapa faktor yang menjadikan paham radikal ini bisa menyebar di kalangan masyarakat, di antaranya adalah disebabkan oleh faktor kemiskinan, pemahaman keagamaan secara literal, pengaruh media digital, institusi pendidikan, dan labilnya psikologis kaum muda.
Beberapa temuan ini telah direspon oleh pemerintah dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan bekerja sama dengan para stakeholder untuk melakukan upaya-upaya preventif termasuk di lingkungan institusi pendidikan. Namun, penanaman cinta tanah air dan ideologi Pancasila melalui sikap nyata dengan berbasis budaya lokal pada peserta didik sejak usia dini belum menjadi perhatian serius.
Orientasi pendidikan yang lebih menitikberatkan pada aspek kognitif dan mengkesampingkan aspek afektif dan psikomotorik menjadi dasar bahwa karakter cinta tanah air belum sepenuhnya ditanamkan pada institusi-institusi pendidikan, telebih pada anak usia dini.
Oleh karenanya, diseminasi cinta tanah air dengan berbasis budaya lokal pada anak usia dini menjadi bagian penting dalam membentengi generasi muda bangsa, karena di usia tersebut anak mengalami perkembangan fisik, motorik, intelektual, dan sosial yang sangat pesat. Untuk itu, karakter cinta tanah air penting kiranya untuk diinternalisasikan kepada anak usia dini dan menjadi perhatian serius oleh para guru dan orang tua.
Karakter Cinta Tanah Air Pada Anak Usia Dini
Kurikulum pendidikan nasional sebetulnya telah memasukkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air dalam salah satu nilai karakter yang harus ditanamkan dan dimiliki oleh peserta didik, karena kondisi dan eksistensi suatu bangsa ditentukan oleh karakter masyarakatnya terutama pada aspek cinta tanah air.
Karakter secara sederhana dapat diartikan sebagai sifat, watak atau budi pekerti yang melekat pada diri seseorang. Meskipun demikian karakter tidaklah bersifat hereditas, tetapi dipengaruhi oleh lingkungan sosial, orang tua dan institusi pendidikan dimana siswa belajar.
Institusi pendidikan menjadi unsur penting dalam membentuk dan mewarnai karakter yang dimiliki siswa termasuk kecintaan terhadap tanah air. Anak yang telah memiliki karakter cinta tanah air dan berideologi Pancasila tidak akan mudah menerima dan terpapar oleh ideologi lain, termasuk paham radikal yang terus berupaya merongrong keutuhan NKRI.
Cinta tanah air berupa rasa bangga, rasa memiliki dan rela berkorban untuk menjaga dan melindungi bangsa dan negara Indonesia tidaklah cukup hanya ditanamkan secara teoritis pada saat proses pembelajaran berlangsung, tetapi perlu dilatih dan ditunjukkan melalui aktivitas konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Lingkungan dan iklim sekolah harus dibentuk sedemikian rupa agar siswa terbiasa dan karakter cinta tanah air benar-benar melekat para diri siswa, begitu pula guru dan tenaga kependidikan yang ada harus mampu memberikan keteladanan pada diri siswa.
Budaya Lokal Sebagai Basis Penanaman Karakter
Indonesia dengan jumlah masyarakatnya sebanyak 283.487.931 jiwa memiliki 1.340 suku bangsa memiliki khazanah dan kebudayaan yang berlimpah. Kekayaan ini perlu digali dan dilestarikan dalam rangka memperkuat NKRI dan menambah kecintaan terhadap tanah air Indonesia.
Di antara budaya yang kita miliki adalah saling gotong-royong, toleran terhadap perbedaan dan bersikap sopan santun terhadap sesama. Budaya ini perlu ditanamkan kepada para generasi muda bangsa sejak usia dini melalui perilaku atau tindakan riil.
Hal ini perlu menjadi perhatian serius, karena selama ini tolak ukur keberhasilan pembelajaran dalam institusi pendidikan hanya dilihat dari aspek kognitif; pemahaman cinta tanah air secara teoretis saja. Budaya sekolah dan keteladanan seorang guru juga sangat penting dalam mempengaruhi sukses tidaknya penanaman karakter cinta tanah air dalam diri peserta didik.
Melalui diseminasi berbasis budaya lokal dengan tolak ukur pada aspek afektif (perilaku) ini selain dapat menjadi benteng dalam menghadapi pengaruh paham radikal, juga dapat memperkuat dan melestarikan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Budaya lokal mengandung nilai luhur yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak lama. Nilai-nilai tersebut, seperti gotong-royong, toleransi, dan cinta tanah air, merupakan modal sosial yang kuat dalam membangun ketahanan bangsa terhadap paham radikal. Dengan mengintegrasikan budaya lokal ke dalam pendidikan dan kegiatan komunitas, masyarakat dapat lebih memahami dan menghargai jati diri mereka sebagai bagian dari Indonesia.
Misalnya, tradisi Sedekah Laut yang dilakukan oleh komunitas pesisir bukan hanya ritual adat, tetapi juga simbol harmonisasi manusia dengan alam dan solidaritas sosial. Mengangkat nilai-nilai seperti ini dalam narasi kebangsaan dapat menjadi alat ampuh melawan ideologi destruktif yang memecah-belah masyarakat.
Seni tradisional dapat menjadi media diseminasi cinta tanah air yang kuat. Pertunjukan wayang kulit, misalnya, dapat dimodifikasi dengan menyisipkan cerita tentang perjuangan bangsa dan pentingnya persatuan. Lagu-lagu daerah yang dipadukan dengan pesan-pesan anti-radikalisme juga dapat menarik perhatian generasi muda.
Selain itu, festival budaya lokal dapat menjadi ajang mempererat kebhinekaan. Dengan menghadirkan berbagai seni dan tradisi dari seluruh penjuru negeri, masyarakat dapat melihat bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan ancaman. Hal ini sekaligus menguatkan rasa memiliki terhadap Indonesia sebagai rumah bersama.
Generasi muda memiliki peran strategis dalam menyebarkan pesan-pesan cinta tanah air berbasis budaya lokal. Melalui platform digital, mereka dapat mempromosikan budaya lokal dengan cara yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Konten-konten seperti vlog perjalanan budaya, tutorial seni tradisional, atau diskusi virtual tentang kearifan lokal dapat menjadi alternatif narasi yang menginspirasi.
Program-program seperti “Kampung Digital” yang memadukan pelatihan teknologi dan pengenalan budaya lokal dapat menjadi jembatan untuk memberdayakan pemuda. Dengan memahami budaya mereka sendiri, generasi muda dapat menjadi benteng pertama dalam menangkal pengaruh radikalisme.
Keberhasilan diseminasi cinta tanah air berbasis budaya lokal memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, dan tokoh budaya. Pemerintah dapat mendukung dengan kebijakan yang memprioritaskan pelestarian budaya lokal, seperti pendanaan untuk seni tradisional dan pengembangan pusat-pusat budaya.
Lembaga pendidikan juga memiliki peran penting dengan mengintegrasikan muatan lokal dalam kurikulum. Sementara itu, tokoh agama dan budaya dapat menjadi mediator dalam menyampaikan pesan-pesan kebangsaan yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan dan tradisional.








Leave a Comment