5700 KM Menuju Surga (Bagian XXIII)

Harakatuna

21/06/2018

7
Min Read

On This Post

SELAMA 30 HARI TERBAKAR SINAR MATAHARI TANPA KEJELASAN KAPAN VISA AKAN TURUN

Senad kembali menanyakan ke Fahd A el Zeid kapan sekiranya kepastian visa hajinya akan turun. Hari demi hari dengan penuh kesabaran ia menunggu, hari ketiga sudah berlalu tanpa ada kabar, minggu pertama, kedua, bahkan ketiga bulan Ramadhan pun telah terlewati, namun sampai detik ini tidak ada sama sekali kepastian dari pemerintah Arab Saudi kapan visanya akan keluar.

Semua janji manis Fahd yang dahulu terdengar indah di telinga Senad kini seakan berbalik-balik menusuk-nusuk hatinya. Memilukan. Janji-janji Fahd membuatnya begitu sedih dan kecewa. Ia sangat sulit menerima kebenaran bahwa pemerintah Arab Saudi sama sekali tidak merasa iba dan kasihan kepadanya, sesudah ia melewati perjalanan yang begitu berat; didera rasa letih, haus, lapar, dikejar-kejar anjing, dirampok oleh penjahat, melewati bentangan gurun pasir yang tandus dan melintasi hampir tujuh negara dan kini sesudah sampai di perbatasan Arab Saudi, pemerintah Arab Saudi seakan-akan tidak menghargai sama sekali semua jerih payah dan pengorbanannya.

Dalam kesedihan itu, ia seakan ingin bercerita kepada dunia, memberitahu semua umat Islam di dunia mengenai kejadian yang begitu membuat hatinya miris dan kecewa. Biarlah seisi planet ini tahu apa yang saat ini dirasakannya. Ia sudah kadong kecewa, bahkan sangat kecewa dengan perlakuan pemerintah Arab Saudi terhadap dirinya. Orang miskin yang datang berjalan kaki dari Bosnia dengan hanya berbekal bendera, al Qur’an, dan peta sebagai petunjuk agar tidak tersesat yang ingin menunaikan ibadah haji karena Allah dan rasul-Nya tapi kenapa sesampai di perbatasan Arab Saudi pemerintah Arab Saudi seakan tidak melihat kedatangannya sama sekali. Mereka seakan benar-benar mengacuhkan dan tidak memedulikannya.

Sudah hampir hari ketiga puluhi Senad terbakar di bawah sinar matahari, diselimuti kelelahan, rasa penat, bingung, dan berbagai kejenuhan yang melanda. Selama ini ia kesulitan untuk makan, sehingga sepanjang Ramadhan ia berjuang melawan rasa lapar baik siang mau pun malam karena ia harus pandai mengatur persediaan makanan, bagaimana selama ini ia kesusahan ketika ingin minum, sehingga ia harus menahan dahaga siang dan malam. Bagaimana ia selama ini seperti terpanggang di dalam oven karena harus bertahan di dalam tenda kecil dengan suhu udara 50 derajat cesius dengan debu-debu gurun yang setiap hari seperti menghujaninya. Pernahkah mereka berpikir bagaimana selama ini merasakan berbagaimacam kesuliatan hanya untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan sederhana saja semisal mandi dan berwudhu.

Senad hanya bisa pasrah kepada Allah, Tuhan yang karenaNya ia datang ke negeri ini. Biarkanlah Allah yang menilai apa yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi terhadap dirinya. Ia tidak mengharapkan apa pun dari pemerintah Arab Saudi, ia hanya meminta agar diperbolehkan masuk ke Arab Saudi dan membiarkannya ‘menemui’ Kekasihnya; Allah dan Muhammad rasulullah.

Setiap hari, usai ibadah yang dilakukannya Senad termenung. Pikirannya mengembara ke mana-mana. Dalam kesedihan itu ia terkadang teringat bagaimana Arab Saudi menyetujui visa untuk 5 juta orang yang ingin menunaikan ibadah haji dari berbagai penjuru dunia setiap tahunnya. Sedangkan Senad, yang berjalan kaki melalui tujuh negara tanpa makanan, berpuasa pada suhu 50 derajat celsius, ia yang selama ini merasa dirinya menjalankan shalat lima waktu dengan baik dan mempelajari al-Qur’an selama 20 tahun, dibiarkan terlunta-lunta dan tanpa kejelasan menderita di perbatasan.

Ia menarik nafas panjang, sambil matanya menerawang ke langit-langit tenda yang lusuh itu, ia berusaha untuk menerima dengan ikhlas segalanya. Ia yakin semua ini adalah suratan takdir ilahi yang harus dilaluinya dengan kesabaran dan keikhlasan. Ia mencintai Allah. Ia yakin semuanya adalah pemberian Allah. Sesaat ia bisa melupakan segala kesedihan dan penderitaan selama hampir 30 hari di tengah gurun pasir yang kering dan tandus. Akhirnya laki-laki kurus itu terlelap dalam dekapan mimpi yang sedikit mengistirahatkan pikiran dan hatinya dari deraan kesedihan yang ia rasa selama ini. ***

AKU TIDAK AKAN MENYERAH BIAR PUN AKU MATI DI PERBATASAN ARAB SAUDI

Malam itu petala langit begitu cerah dihiasi butiran-butiran bintang yang terlihat berserekan. Angin berhembus begitu lembut tatkala suara adzan maghrib berkumandang bertalu-talu. Semesta menutup siang untuk kemudian dipeluk oleh jubah malam yang gelap.

Senad menengadahkan kepalanya ke langit sambil berdoa kepada Allah SWT sebelum melakukan buka puasa terakhir selama dia berada di perbatasan Arab Saudi. Diteguknya segelas air putih, yang selama ini menjadi menu sahur dan bukanya setiap hari. Begitu air itu mengaliri tenggorokannya, ia merasakan seluruh tubuhnya begitu segar. Segar sekali rasanya.

Dari kejauhan sana, sayup-sayup suara takbir berkumandang begitu lembut seakan memenuhi petala langit dengan kesyahduannya. Namun entah kenapa setiap lengkingan suara takbir itu meninggalkan kesedihan yang menyayat-nyayat di hati Senad. Berlebaran seorang diri, tanpa ada makanan yang bisa dinikmati, kue yang bisa dikunyah, bahkan tanpa segelas air teh sekali pun yang bisa ia teguk.

Semua keterbatasan itu harus ia terima dengan ikhlas. Mungkin ia ditakdirkan untuk berleberan sendirian di tengah gurun pasir yang tandus dengan hanya berteman desiran suara angin malam.

Ia terpekur sendiri sambil mulutnya bergerak-gerak mengikuti sayup-sayup suara takbir yang terdengar dari mikrofon-mikrofon masjid. Hatinya meluruh dibaluti kerinduan dan kesedihan,

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,” gumannya pelan. Bibirnya bergetar ketika wajah orang-orang yang dicintainya berkelebatan di pelupuk mata. Tiba-tiba ia teringat perayaan Idul Fitri bersama ayahnya Mevda, ketika ia masih kecil dulu. Ayahnya senantiasa mengajaknya ke masjid di malam Idul Fitri untuk sama-sama mengumandangkan takbir sesudah ia dipakaikan pakaian-pakaian indah oleh sang ayah. Senad kecil waktu itu begitu antusias, bersama anak-anak kecil lainnya dia berbaur di masjid itu bertakbir dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan.

Usai mengumandangkan takbir bersama teman-temannya, ia pulang bersama ayahnya untuk kemudian disambut dengan pelukan dan ciuman oleh ibunya tercinta, Mevla sambil mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri kepadanya. Kenangan itu begitu melekat di relung hati. Indah. Indah sekali gumannya di dalam hati.

Kelebat wajah isteri dan anak-anaknya makin membuat hati Senad rintik. Matanya mulai menghangat. Makin lama suara takbir itu berkumandang makin kuat kerinduannya kepada isteri dan anak-anaknya. Andai ia di rumah, tentu ia sedang mengumandangkan takbir bersama anak-anaknya di masjid yang tak begitu jauh darinya. Membagi-bagikan zakat fitrah dan berkumpul bersama keluarga tercinta.  Senad tak kuasa membendung kerinduannya kepada anak dan isterinya, tiba-tiba air matanya meleleh ditingkahi suara isak memilukan bagi yang mendengarnya. Senad pun menangis sesenggukan di tengah kesepian, kondisi tidak menentu, rasa lapar, dan kondisi mengenaskan seumpama seorang tuna wisma.

Dalam ratapan tangis itu Senad berdoa kepada Allah,” Ya Allah aku tidak akan menyerah dengan kondisi ini biar pun aku harus mati di perbatasan Arab Saudi sampai aku bisa mendapatkan visa haji dari pemerintah Arab Saudi.” Ucapnya pelan.

Buliran-buliran air mata makin deras menetesi wajahnya ketika ia merasa semua orang diam dan tak ada satu pun yang menanyakan apakah dia lelah? Apakah Senad haus? Ia begitu kecewa dengan perhatian kedubes Bosnia di Arab Saudi yang ia nilai seakan tidak perduli dengan keberadaaan dirinya. Dia membeli bendera Bosnia dengan memakai uang yang seharusnya ia pakai untuk membeli makanan. Tapi kedubes Bosnia yang ada di Arab Saudi, sama sekali tidak berusaha membantu menyelesaikan kesulitan yang dihadapinya.

Hatinya begitu miris, isak tangisnya makin kuat dan derai air mata makin deras membasahi pipi, Senad berpikir Arab Saudi terlalu tega memperlakukannya seperti ini, menunggu tanpa ada kejelasan sedangkan Senad dalam keadaan berpuasa di tengah gurun pasir yang terik. Dan selama itu Arab Saudi tak pernah memberikan Senad walau segelas air pun untuk diminumnya.

Masyarakat Arab lebih suka duduk-duduk di mobil-mobilnya, menghabiskan waktu di resto-resto, di bawah bayangan pohon yang sejuk, di rumah-rumah, makan daging giling, dan mengirim pesan singkat yang bodoh kepada Senad, “Sampai di manakah Senad?” ***

Ikuti penulis di:

Wattpad:birulaut_78

Instagram: mujahidin_nur

Leave a Comment

Related Post