Harakatuna.com. – Cerita ini bermula dari Nabi Zakaria yang mengadu kepada Allah perihal keadaan dirinya yang tulangnya (fisiknya) mulai melemah dimamah usia; uban mulai memenuhi kepalanya; dan istri tidak bisa mengandung. Nabi Zakaria mulai gelisah dengan keadaannya, terlebih dia belum dikaruniai seorang anak. Kondisi inilah yang membuatnya khawatir tidak ada sosok yang bisa meneruskan dakwahnya.
Meski kondisinya yang sedemikian rupa, Nabi Zakaria tidak pernah kecewa saat berdoa kepada Allah (19: 4). Nabi Zakaria berdoa kepada Allah agar dikaruniai seorang anak yang bisa melanjutkan perjuangan dakwahnya. Sekalipun memiliki kerabat, disebutkan oleh Al-Qur’an bahwa Nabi Zakaria khawatir dan tidak percaya kepada mereka. Hal ini disebabkan karena kerabatnya itu bukan orang baik-baik dari golongan Bani Israil.
An-Nasafi saat menafsirkan QS. Maryam [19]: 5 menjelaskan bahwa saudara-saudara dan anak-anak paman Nabi Zakaria adalah orang-orang jahat di antara Bani Israil. Hal ini membuat Nabi Zakaria khawatir mereka akan mengubah-ubah ajaran dan tidak mampu memimpin umat dengan baik (Tafsir an-Nasafi, 2: 326). Kondisi inilah yang mendorong Nabi Zakaria berdoa agar dikaruniai seorang anak yang bisa melanjutkan dakwahnya.
Allah kemudian memberikan kabar gembira kepada Nabi Zakaria bahwa dia akan dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Yahya. Allah sendiri yang memberi nama Yahya dan tidak ada satu manusia pun sebelumnya yang bernama Yahya (19: 7).
Allah berfirman:
يٰزَكَرِيَّآ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ ِۨاسْمُهٗ يَحْيٰىۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا
(Allah berfirman), “Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.” (QS. Maryam [19]: 7)
Saat menafsirkan ayat ini, al-Qurthubi menjelaskan bahwa salah satu anugerah yang diperoleh Nabi Yahya adalah tidak menyerahkan penamaan Yahya kepada kedua orang tuanya, jadi praktis nama tersebut langsung dari Allah (Tafsir al-Qurthubi, 11: 83). Dari ayat inilah kemudian dipahami ternyata Nabi Yahya adalah manusia pertama yang bernama Yahya.
Penulis: Fahrudin.








Leave a Comment