Harakatuna.com – Pagi ini saya mengikuti kuliah dari tokoh tafsir, Prof. Said Agil Husein Al-Munawwar, mengenai diskursus Al-Qur’an dan tafsir di masa kini. Kuliah dengan beliau memang sangat ditunggu-tunggu, karena pengetahuan beliau tentang Al-Qur’an dan tafsir sangat luas. Belajar darinya ibarat meneguk air dari telaga yang menyegarkan dahaga akan pengetahuan.
Selama mengikuti kuliah Prof. Agil, saya mencatat beberapa hal penting sebagai bekal untuk melangkah ke depan. Pertama, tentang sanad keilmuan. Belajar tidak bisa dilakukan secara sembarangan; penting untuk memperhatikan sanad keilmuannya. Jika guru yang mengajar memiliki sanad keilmuan yang jelas, kita akan terhindar dari kesesatan berpikir. Sebaliknya, jika sanad keilmuan guru tidak jelas, kualitas keilmuannya patut dipertanyakan.
Pentingnya memperhatikan sanad keilmuan ini mirip dengan pentingnya melihat sanad dalam hadis. Sebuah hadis dapat dikatakan shahih, bukan dhaif (lemah), apalagi palsu, jika sanadnya jelas. Dengan sanad yang jelas dan hadis yang shahih, kita bisa menjadikannya sebagai pedoman hidup. Ini berarti informasi yang terkandung di dalamnya benar-benar berasal dari Nabi Muhammad SAW, bukan dari orang lain.
Di era media sosial saat ini, banyak orang yang mengabaikan pentingnya sanad. Generasi sekarang, yang sering disebut Gen Z, cenderung mengutip informasi dari berbagai sumber tanpa memeriksa asal-usulnya. Mereka jarang menanyakan siapa yang menyampaikan informasi tersebut, dari mana asalnya, atau apakah penyampainya memiliki guru yang bersambung sanadnya hingga Nabi Muhammad SAW.
Akibatnya, banyak Gen Z yang terjebak dalam paham radikal yang berbahaya. Mereka terperangkap dalam kesesatan pengetahuan yang diajarkan oleh guru-guru yang mungkin tidak menyadari bahwa mereka sendiri telah tersesat. Dalam ketersesatan itu, mereka kerap memprovokasi orang lain untuk melakukan tindakan tercela, seperti mengumpat dengan kata-kata kafir dan murtad, bahkan sampai pada tindakan terorisme dan bom bunuh diri.
Kedua, ilmuwan Barat dahulu meremehkan kualitas keilmuan ilmuwan Timur. Prof. Agil merespons hal ini dengan mengutip motivasi dari Prof. Quraish Shihab, yaitu bahwa kita tidak perlu banyak bicara, cukup buktikan dengan karya. Maka, tidak heran jika Prof. Agil dan Prof. Quraish Shihab sangat produktif menulis buku. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa cara terbaik dan paling elegan untuk menjawab kritik atau ejekan adalah dengan karya nyata, bukan dengan kata-kata kosong.
Dalam konteks politik, seperti masa kepemimpinan Prabowo-Gibran, pasti masih banyak yang meragukan kualitas mereka sebagai presiden dan wakil presiden baru Indonesia. Bahkan, ada yang tidak percaya bahwa mereka mampu membawa Indonesia maju. Namun, Prabowo-Gibran tidak perlu membalas dengan kata-kata, cukup tunjukkan karya dan kerja nyata, sehingga orang akan melihat bahwa mereka adalah pemimpin yang hebat.
Kerja nyata jauh lebih penting daripada sekadar konsep tanpa praktik. Prabowo-Gibran harus banyak belajar dari pemimpin-pemimpin sebelumnya. Mereka harus melanjutkan hal-hal baik yang belum sempat terealisasi, misalnya jika pemimpin sebelumnya telah berhasil meminimalisir radikalisme, maka Prabowo-Gibran bisa melanjutkan dengan membersihkan sisa-sisa radikalisme tersebut.
Pembersihan sisa-sisa radikalisme sebaiknya dilakukan dengan mempromosikan paham moderat sebagai landasan untuk menyatukan perbedaan pemikiran dan keyakinan di Indonesia. Jika para pengikut radikalisme dapat bertobat, itu akan menjadi salah satu keberhasilan terbesar dalam kepemimpinan Prabowo-Gibran. Dengan demikian, mereka bisa dikatakan berhasil menjalankan amanah besar kepemimpinan.
Sebagai penutup, penjelasan Prof. Agil dalam kuliah ini adalah bekal berharga bagi kita untuk melangkah ke depan. Kita jadi tahu betapa pentingnya sanad keilmuan agar tidak terjebak dalam kesesatan berpikir, seperti paham radikalisme yang memicu ujaran kebencian dan aksi terorisme. Selain itu, kita juga belajar bahwa kerja nyata adalah respons terbaik terhadap kritik. Saya senang bisa belajar dari Prof. Agil, dan ini membuat saya semakin optimis dalam meraih masa depan yang lebih baik.[] Shallallahu ala Muhammad.








Leave a Comment