Hari Santri Nasional 2024: Menjadi Santri, Siap Menjaga NKRI

Agus Wedi

22/10/2024

4
Min Read
Santri dan NKRI

On This Post

Harakatuna.com – Hari santri penting bagi umat Islam. Karena itu, pada 22 Oktober 2015 diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Hari santri dirayakan, khsususnya bagi kalangan pesantren, sebagai rasa syukur memperdalam ajaran agama Islam di pondok pesantren dan di tempat yang lebih luas.

Gambaran Menjadi Santri

Ada banyak catatan baik untuk membaca santri. Pertama, santri dianggap sebagai pemilik karakter pengabdi, yakni kepasrahan seorang santri dalam belajar di pesantren dan secara totalitas mengabdikan dirinya secara terus-menerus kepada sang kiai.

Kedua, memiliki etos kerja yang theocentric, yakni segala upaya dan aktivitas keseharian didasarkan sebagai ibadah kepada Allah Swt, untuk kepentingan hidup ukhrawi (Mastuhu, 1994: 62). Baginya, dunia dipandang sebagai cara total untuk melakoni kehidupan keagamaan.

Ketiga, memiliki sikap kesederhanaan. Sikap ini terbukti dari semua pakaian, makanan dan tempat tinggal santri. Tidak ada perbedaan tempat dan makanan para santri. Semuanya sama. Bukan tidak mampu, tetapi lebih pada cara bagaimana membentuk kepedulian dan karakter kesederhanaan santri. Tidak ada ceritanya santri hidup bermewah-mewah.

Tantangan Santri

Di luar gambaran di atas, masih ada banyak tantangan bagi santri. Tantangan pertama adalah ketidakcakapan dengan digital. Fakta keberadaan santri susah beradaptasi dengan digital menyiratkan perbedaan lingkungan di pesantren dan luar pesantren. Sementara digital seringkali diproduksi oleh orang yang memang cakap dalam dunia digital luar pesantren. Hal ini bisa kita lihat pada saat pandemi. Babak belur lulusan pesantren saat menangani proses pembelajaran di pesantren atau madrasah, sehingga mereka memilih meliburkan diri.

Tantangan kedua, santri tidak melek ekologi. Ada ribuan pesantren tidak bisa menangani sampah yang diproduksi (penghasil sampah) sendiri. Sehingga jangan heran jika ada pesantren gambarnya mulus di media sosial, tetapi faktanya pesantrennya kotor berkelit sampah. Jangan heran pula jika santri-santrinya langganan mendapati penyakit gatal dan penyakit lainnya, sebagai akibat hidup di dalam ruang kotor sampah. Dan jangan heran pula jika Indonesia menjadi penyumbang sampah terbesar kedua setelah Cina.

Ini terjadi karena kesadaran pesantrennya yang tidak terpenuhi. Tidak ada pengajaran tentang bagaimana menjadi santri-santriwati yang bersih, bukan tubuh dan pakaiannya, tetapi juga alamnya, lingkungannya, tempat tinggalnya. Pembiasaan sadar lingkungan kadangkala tidak diurus di pesantren. Padahal tiap malam dan siang, ia menjadi manusia paling sadar isi kitab, yakni berwudu, bersuci.

Ketiga, santri juga tidak terlalu peka dengan bahaya laten paham radikalisme dan terorisme. Dalam medium yang paling kecil, rasanya masih susah untuk melihat santri vital mewaspadai tindak terorisme. Gambaran ini jelas terlihat ketika para santri ikut masuk dalam lingkungan atau gerbong para sindikat terorisme.

Bahkan, banyak santri yang memilih pesantren radikal sebagai tempat belajar dan bernaung hidup. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut ada 198 pondok pesantren yang terafiliasi dengan jaringan terorisme. Dan masing-masing pesantren ini banyak peminatnya. Maka wajar jika para santri ini nantinya menjadi tangan panjang dari terorisme.

Pada tahun-tahun 2000-an, bahkan ada pesantren yang dicap sebagai sarang teroris. Ini karena, salah seorang buronan kasus ledakan bom bunuh diri di Kota Solo disebut-sebut sebagai alumni pondok pesantren.

Lebih jauh, para santri ini ternyata meneruskan langkah kaki dan tertarik dengan paham radikal. Para santri ini berangkat ke Afghanistan. Setelah sampai di Afghanistan, ia bertemu langsung dengan Osama bin Laden, dan ikut berperang bersamanya.

Santri Menjaga NKRI

Menurut penuturan Noor Huda Ismail, santri ini cenderung cocok dengan fatwa-fatwa Osama, pemimpin Al-Qaeda itu. Hal demikian terjadi karena dulunya terselubung dengan kurikulum dan lingkungan radikal. Huda menyebut, karena frame of reference (referensi akademis), dan kedua, karena pengalaman yang membentuk cara pandang santri itu sendiri.

Di dalam momen hari santri ini, kita berefleksi diri bagaimana menggarap tantangan di atas. Keinginan memberantas terorisme sampai ke akar-akarnya (untuk kalangan santri), menjadi tantangan tersendiri. Selama ini, pemerintah Indonesia telah berusaha memutus mata rantai terorisme, dengan menggunakan soft approach atau hard approach, meski aksi-aksi terus masif.

Sudah begitu lihai para teroris dalam melakukan metamorfosis gerakan dan strategi, baik di dalam dunia digital maupun di dalam organisasi. Karena itulah santri harus melek digital dan literasi. Santri tidak perlu takut. Santri adalah ujung tombak melawan penyebaran ideologi radikal terorisme. Hanya santri yang memiliki nilai kebangsaan kuat, serta pandangan moderasi dan toleransi yang kokoh, yang nantinya bisa menjadi garda terdepan menjaga NKRI. Siap menjadi santri, wajib siap menjaga NKRI!

Leave a Comment

Related Post