Harakatuna.com – Sebentar lagi, bangsa Indonesia akan menyaksikan peristiwa yang cukup penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Pada tanggal 20 Oktober 2024 akan ada pergantian kepemimpinan atau presiden. Sebagai warga negara, tentu kita berharap pemimpin yang akan dilantik nanti bisa bersikap amanah dan adil dalam menjalankan tugasnya. Dalam syariat Islam sendiri, pemimpin yang adil memiliki kedudukan luhur di sisi Allah Swt.
Allah sendiri dalam Al-Quran memerintahkan manusia yang diberi mandat menjadi pemimpin untuk bisa bersikap amanah dan adil.
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa ayat 58)
Adapun di antara luhurnya kedudukan pemimpin adil di sisi Allah adalah ia akan menjadi satu dari tujuh orang yang berhak mendapatkan naungan dan pertolongan Allah.
لُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابُّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقُ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابًا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةً ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.
Artinya: “Ada tujuh orang yang dinaungi Allah dengan naungan-Nya pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu: pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya, orang yang hatinya terpaut di masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya pula, dan seorang laki-laki yang diminta berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, tetapi ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seorang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi, lalu matanya mengucurkan (air mata).” (HR Bukhari)
Selain itu, luhurnya kedudukan pemimpin adil di sisi Allah akan dijadikan sebagai sebagai manusia yang paling dicintai Allah. Selain itu pemimpin adil juga dijadikan manusia yang memiliki kedekatan luar biasa dengan Allah di hari akhir kelak.
إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَقْرَبَهُمْ مِنْهُ مَجْلِساً إِمَامُ عَادِلٌ وَإِنَّ أَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَشَدَّهُ عَذَابًا إِمَامُ جَائِرٌ
Artinya: “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah Azza Wajalla dan yang paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, sedangkan manusia paling dibenci oleh Allah dan paling jauh tempat duduknya di hari kiamat adalah pemimpin yang zalim.” (HR Tirmidzi)
Dari sini bisa disimpulkan bahwa kedudukan luhur pemimpin adil di sisi Allah adalah ia akan dijadikan orang yang mendapatkan naungan. Dan juga akan dijadikan orang yang paling dicintai Allah. Wallahu A’lam Bishowab.








Leave a Comment