Memasukkan Moderasi ke Kurikulum Pendidikan Agama Islam SD-PT, Apa Salahnya?

Agus Wedi

16/10/2024

3
Min Read
Buku Moderasi

On This Post

Harakatuna.com – Apa yang salah kalau buku pendidikan memuat moderasi beragama? Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap dan perilaku beragama yang dianut dan dipraktikkan oleh sebagian besar penduduk negeri ini–dari dulu hingga sekarang–dengan meyakini kebenaran agama sendiri “secara mendalam” dan menghargai, menghormati penganut agama lain yang meyakini agama mereka, tanpa harus membenarkannya.

Buku Pendidikan Islam dan Kunci Generasi Toleran

Moderasi beragama dijadikan sebagai salah satu program nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Memasukkan moderasi beragama dalam buku pendidikan tidak bisa dikatakan sebagai solusi yang mutlak. Inisiatif memasukkan moderasi adalah pilihan terbaik yang ada saat ini sehingga perlu dijadikan pijakan baik oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, berbagai instansi, maupun organisasi kemasyarakatan di Indonesia.

Mengapa penting moderasi beragama dimasukkan ke dalam buku pendidikan? Karena penting kiranya anak-anak didik di sekolah mendapatkan pelajaran yang dekat dengan kaidah toleransi dan moderasi. Agar nantinya, anak-anak ini bisa menjadi anak yang moderat dan menjalankan keagamaan yang diperintah oleh Tuhannya, yakni kehidupan-keagamaan moderat.

Secara pribadi, saya setuju jika Kemenag memasukkan ajaran moderasi beragama ke dalam buku sekolah. Kabarnya, Direktorat Pendidikan Agama Islam Kemenag bersama Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) sedang melakukan penilaian terkait 40 naskah buku pelajaran yang memuat moderasi beragama. Naskah ini terdiri atas buku teks utama PAI dan Budi Pekerti untuk siswa, guru, bahkan buku ajar PAI khusus Perguruan Tinggi Umum (PTU).

Dirjen Pendidikan Islam Abu Rokhmad berharap buku ini dioptimalkan agar bisa berdampak pada cara beragama anak-anak di sekolah, yakni cara beragama yang toleran dan moderat. Rokhmad berharap buku ini juga bisa membendung lajunya paham keagamaan yang ekstrem dan intoleran di ranah pendidikan. Dia berharap seperti itu karena sejumlah riset menunjukkan bahwa sekolah dan perguruan tinggi umum menjadi salah satu tempat munculnya kelompok-kelompok intoleran.

Biarkan Mereka Tidak Suka

Sayangnya, hadirnya buku pelajaran dari SD-PT yang sarat muatan moderasi kelompok kanan tidak senang. Mereka melihat, persoalan pendidikan Islam di Indonesia masalahnya bukan berasal dari paham keagamaan, melainkan dari sistem liberalisme dan sekularisme. Menurut mereka Indonesia kini mengidap penyakit liberalisme dan sekularisme sehingga moralitas dan akhlak generasi hancur, katanya.

Lalu selanjutnya mereka menawarkan solusi yaitu khilafah. Bagi aktivis HTI ini, solusi yang umat Islam butuhkan untuk menyelesaikan persoalan generasi adalah akidah Islam, serta penerapan syariat Islam yang menyeluruh dalam sistem Khilafah Islamiyah. Mereka katakan ini sebagai pembingkaian atau jurus pamungkas untuk mendelegitimasi moderasi beragama masuk dalam buku pelajaran sekolah di seluruh Indonesia.

Apakah aneh? Tidak sama sekali. Karena pegiat khilafah ini apa pun akan dilakukan asalkan tujuan mereka tercapai. Terakhir mereka mengatakan bahwa moderasi beragama adalah proyek dari Barat. Mereka katakan, moderasi beragama digaungkan baru pada 2000-an. Sekarang ajaran Islam dipaksa tunduk pada nilai-nilai Barat yang sekuler, seperti HAM, inklusivisme, kesetaraan, pluralisme, toleransi, dan sejenisnya.

Menjadikan Peradaban Maju

Apakah tuduhan mereka benar? Sama sekali salah. Moderasi beragama baru beberapa tahun digagas dan dipopulerkan oleh Lukman Hakim Saifuddin, eks-Menteri Agama RI periode 2014-2019. Karena itu, Lukman Hakim Saifuddin dijuluki sebagai Bapak Moderasi Beragama. Pijakan moderasi beragama merujuk pada dalil naqli dalam QS. al-Baqarah: 143, yakni komitmen kebangsaan, anti kekerasan, sikap toleransi, penerimaan terhadap tradisi lokal, dan lain sebagainya. Bukan seperti yang dituduhkan oleh aktivis khilafah di atas. Sampai sekarang, mereka menolak kenyataan kalau akar dari problem pemuda dan negara adalah radikalisme. Karena itulah mereka menolak moderasi beragama masuk dalam buku dan kurikulum sekolah.

Buku Pendidikan Agama Islam SD-PT memuat ajaran moderasi sangat tepat, kendati bertujuan mencetak generasi muslim yang berkepribadian Islam toleran dan moderat. Kurikulum dan buku/bahan ajar berbasis ajaran moderasi dapat melahirkan generasi hebat dan profesional. Buku Pendidikan Agama Islam SD-PT memuat ajaran moderasi dapat mengembangkan kehidupan anak didik pemimpin peradaban dunia yang maju.

Leave a Comment

Related Post