Judul Buku: Islam itu Rahmatan Lil ‘Alamin Bukan untuk Kamu Sendiri, Penulis: Emha Ainun Nadjib, Penyunting: Tofik Pram & Ahmad Najib, Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publika), Tahun Terbit: 2019, Tebal: 262 Halaman, ISBN: 978-623-242-091-5, Peresensi: Ahmad Miftahudin Thohari.
Harakatuna.com – Sebagai negara mayoritas Islam, kita sungguh merindukan dakwah Islam yang sejuk dan damai. Apalagi, di tengah-tengah kerumunan orang-orang maupun kelompok Islam yang sibuk menuding sana-sini dengan arogansi yang masyaallah itu, kerinduan tersebut semakin menjadi-jadi. Dakwah, kok, memaksa! Dakwah, kok, banyak klaim yang tidak menyejukkan hati! Begitulah keresahan kita bersama, kira-kira.
Sebagaimana ditegaskan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu diutus tidak lain adalah untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin (QS. Al-Anbiya’: 107). Seharusnya dakwah Islam sungguh-sungguh diaktualisasikan secara inklusif, penuh kemanusiaan, dan membawa kedamaian dalam batin. Kalau dakwah dilakukan dengan ngotot-ngotot, penuh paksaan, saya jadi teringat kata-kata Habib Ja’far, kurang lebih intinya begini: “kalau kamu mendatangi tausiyah agama Islam, terus kamu merasakan ketidaknyamanan di situ. Maka, pergilah. Karena, Islam tidak seperti itu.”
Entahlah, sulit memang. Persis disampaikan Cak Nun, yang ditulis dalam buku Islam itu Rahmatan Lil ‘Alamin Bukan untuk Kamu Sendiri (2019), demikian: “hidup itu sulit tapi mudah, sekaligus mudah tapi sulit. Beragama juga begitu. Kadang-kadang kelihatannya sulit, tapi sebenarnya mudah. Begitu pula sebaliknya, kelihatannya mudah tapi sebenarnya sulit.” Kalau sudah demikian, bagaimana kita menyikapinya? Tentu saja, kita mesti bijak, bijak, dan bijak.
Karena itu, marilah kita memahami Islam sekaligus bagaimana dakwah Islam itu mesti kita artikulasikan dengan penuh kebaikan dan keindahan, bukan dengan penuh ancaman. Setuju, bukan? Saya kira buku terbitan Noura itu bisa jadi bahan bacaan awal, khususnya bagi kita yang memang tidak cukup memiliki basic pendidikan agama yang advance. Setidak-tidaknya untuk memahami wajah (dakwah) Islam yang cair dan penuh kearifan.
Sebagaimana dituliskan dalam sampul belakang, bahwa buku Islam itu Rahmatan Lil ‘Alamin Bukan untuk Kamu Sendiri (2019), merupakan kumpulan ceramah Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Tema-tema ceramah yang dikumpulkan secara khusus ditujukan untuk mengajak para pembaca kembali memahami dan menghayati hakikat Islam bagi kemaslahatan semesta—bukan sebagai alat pemuas nafsu-nafsu dunia, atau ego-ego yang mengklaim sebagai pemilik surga. Apalagi, menjadikan Islam sebagai legitimasi otoritarianisme politik.
Bahasa yang sederhana, yakni bahasa keseharian yang dituliskan dalam buku tersebut persis sebagaimana saat Cak Nun berceramah menjadikan buku itu mudah dipahami. Bahkan, buku tersebut secara telaten memberikan kutipan-kutipan penting dari pesan-pesan ceramah Cak Nun. Sehingga, buku tersebut menjadi sangat cocok untuk para pembaca awam, seperti kita-kita ini, guna memahami hakikat Islam itu sendiri—khususnya, sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.
Dakwah itu Mengajak Bukan Memaksa
Kita patut khawatir, sekarang ini di mata masyarakat non-Muslim, bahkan belakangan juga di mata kaum remaja Muslim sendiri, ada geliat bahwa Islam justru dipandang sebagai agama yang menakutkan. Tidak usah jauh-jauh menengok ke belahan dunia seberang. Di negara kita sendiri, Indonesia, framing Islam tampak pula mengerikan. Ketegangan terus saja terjadi dalam tubuh ormas-ormas Islam kita.
Mungkin klaim atau tuding-menuding kafir, bid’ah, neraka, jahanam, dan lain-lain sudah tidak begitu mencuat lagi sebagaimana beberapa tahun berlalu. Namun, model-model dakwah yang memaksa dan penuh provokasi masih saja dapat kita temui di mana-mana, baik di ruang virtual maupun dunia nyata. Banyak aliran-aliran keislaman yang tidak hanya membingungkan kepala, tapi juga meresahkan hati.
Biasanya, sebagai contoh, soal perdebatan ini sunnah Nabi dan harus dikerjakan, apabila tidak dikerjakan, berarti mengkhianati Nabi. Menurut saya ini agak sembrono. Tentu saja, semua ada dasar tafsirnya. Tapi, saya kira, juga tidak lantas jadi tafsir tunggal semacam itu. Islam tentu tidak sepicik itu untuk dipahami, bukan? Jadi, soal apa pun, monggo-monggo saja menafsiri hal-hal yang memang tidak berkemungkinan menyalahi aturan ibadah mahdhah.
Pernyataan baliknya, mengapa kemudian orang-orang yang ingin mengajarkan sunnah Nabi justru dilakukan dengan cara tidak arif dan malah terkesan memaksa? Bukankah kearifan juga adalah sunnah Nabi yang jauh lebih penting untuk diajarkan? Karena itu, seperti dibilang Cak Nun, soal sunnah Nabi. “Kalau ada orang yang memilih menghindari apa saja yang tidak dilakukan Rasulullah, itu bagus. Tapi, jangan memaksakan pada orang lain.” (h. 153)
Belum lagi perdebatan soal khilafah, persis ketika agenda itu mulai digencar-propagandakan. Para pengusung khilafah, misalnya, lantas menentangkannya dengan Pancasila. Lagi-lagi, menjadi sesuatu yang sangat tidak arif dan terkesan tidak cukup berilmu. Soal ini, Cak Nun berkata demikian,
“Kelemahan kita sebagai orang Islam itu tidak ngerti gradasi dan skala prioritas. Misalnya, khilafah, kok, dipertentangkan dengan Pancasila atau Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Padahal, NKRI itu adalah salah satu versi ijtihad, pemahaman, atau penafsiran terhadap khilafah. Khilafah itu tidak ada skalanya. Dia bisa kecil, sedang, besar, juga bisa sangat besar. PBB itu juga sebuah metode khilafah untuk mengatur hubungan semua bangsa-bangsa di dunia. Jadi, kalau bisa, kata ‘khilafah’ jangan hanya dipakai oleh satu golongan. Karena, arti ‘khilafah’ itu sebenarnya sederhana: bahwa segala sesuatu harus dikelola.” (h. 182)
Tentu, bagi saya, penting untuk mem-framing persoalan ini, sebab kegaduhan keagamaan Islam di kalangan kita kian tambah tidak karuan setelah adanya agenda-agenda khilafah yang cukup bias semacam itu masuk ke dalam kosakata dakwah keislaman masyarakat kita lewat aliran-aliran baru yang sungguh membingungkan cara pikirnya. Apalagi, di buku tersebut juga dikutipkan pesan Cak Nun, begini, “saya ingin kita semua berusaha ikut menyembuhkan aliran-aliran dan kelompok-kelompok Islam yang memahami Islam secara sempit dan berpikiran dangkal.” (h. 150)
Oleh karenanya, marilah kita sama-sama mendakwahkan Islam sebagaimana hakikat Islam itu sendiri. Rahmatan lil ‘alamin. Islam yang penuh kebaikan dan keindahan. Sehingga, dalam dakwah Islam kita, seperti pesan Cak Nun, mari selalu cari cara agar maslahatnya bisa teraih setinggi mungkin, sementara mudharatnya serendah mungkin. Supaya maksud rahmat itu benar-benar sampai ke seluruh penjuru alam (lil ‘alamin), tanpa arogansi yang mendiskriminasi.
Artinya, dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin adalah berarti bahwa tidak ada yang luput dari rahmat Allah, apa pun dan siapa pun itu. Sehingga, tidak ada lagi, orang-orang yang mau menang sendiri, mau kaya sendiri, mau masuk surga sendiri dengan menerakakan orang lain, mau unggul sendiri sambil merendah-rendahkan orang lain, mau hebat sendiri dengan menghinakan orang lain. Ingat, Islam adalah rahmatan lil ‘alamin bukan untuk golongan pribadi maupun kelompok tertentu. []








Leave a Comment