Harakatuna.com – Perbincangan mengenai penolakan oleh penerbit bukanlah hal yang bersifat rahasia. Setiap penulis adakalanya mengalami penolakan saat berproses menjadi penulis di penerbit nasional. Penolakan tersebut bisa membuat seseorang semakin termotivasi untuk memperbaikinya atau bahkan malah menjadi sebaliknya, semangat menurun.
Bila surat penolakan itu datang kepada kita, semestinya tak perlu khawatir, karena setiap naskah akan menemui jodohnya. Mungkin, naskah yang kita tulis masih perlu banyak perbaikan, ada banyak hal yang tak sesuai dengan penerbit, atau kurang bumbu dalam menulis. Penulis perlu introspeksi diri dan bukannya mengumpat pada keadaan, sehingga bisa membuat penulis tetap bertahan dan terus berkarya.
Lalu, mengapa penerbit mayor acap kali menolak naskah kita? Berikut ini beberapa alasannya.
- Orisinalitas dan Sudut Pandang
Tulisan yang klise dan tidak menarik bagi pembaca dapat menyebabkan penolakan. Penulis sebaiknya memiliki sudut pandang yang berbeda. Harus banyak membaca referensi sehingga dapat menampilkan pandangan lain dan menyajikan orisinalitas dalam berpikir.
- Kaidah Penulisan
Sebagian besar penerbit umumnya mencari tulisan yang baik dalam segi tata bahasa. Bahasa menjadi penghubung antara penulis dengan pembacanya. Tidak bermakna ambigu, sehingga pembaca mampu memaknai tulisan dengan semestinya. Banyak kekeliruan dalam ejaan, tanda baca, efektivitas, struktur tulisan, sampai jumlah kata/halaman, mutlak jadi pertimbangan.
- Tidak Sesuai dengan Pandangan Penerbit
Setiap penerbit memiliki visi-misi tersendiri. Visi-misi tersebut yang harus diketahui oleh penulis sebelum mengirimkan naskahnya kepada penerbit. Visi-misi penerbit dapat dijadikan sebagai pedoman penulis untuk menyesuaikan jenis tulisan yang disukai penerbit. Tulisan yang kontroversial/berlawanan dengan nilai yang dipegang penerbit mungkin akan menghasilkan penolakan. Oleh sebab itu, penting bagi seorang penulis untuk mengenal penerbit yang akan dibidik.
- Gaya Penulisan yang Tidak Sesuai
Gaya selingkung yang dipakai tiap penerbit tentu sangat berbeda. Sebagai seorang penulis, kita harus paham detail gaya penulisan yang penerbit inginkan. Apakah lebih suka gaya tulisan dengan bercerita, gaya formal, nonformal, atau lainnya. Misalnya, penerbit islami tentu akan menerbitkan naskah-naskah islami. Begitu juga penerbit lainnya. Bagaimana cara mengenal gaya penulisan penerbit? Salah satunya dengan membaca buku yang diterbitkan oleh mereka.
- Kelebihan Promosi
Tulisan yang bersifat promosi atau berorientasi pada kepentingan pribadi sulit diterima oleh penerbit. Penerbit umumnya mempertahankan independensi dan integritas. Mereka memiliki idealime tersendiri dalam menerbitkan karya penulis hingga didistribusikan ke seluruh toko buku, sehingga seorang penulis perlu memahami hal ini. Menulis tanpa harus ditumpangi kepentingan ketenaran pribadi.
- Tema Sejenis Sudah Ada
Kreativitas penulis memang sangat diuji ketika ingin mengirimkan tulisannya ke penerbit. Jika naskah dengan tema yang sama sudah ada, maka kemungkinan ditolak itu sangat ada. Penerbit acap kali membutuhkan tema yang berbeda dari yang sudah ada, sehingga akan memunculkan keunikan dan kebaruan dari penulis. Tema-tema terkini dan sangat dibutuhkan oleh pasar tentunya akan dipertimbangkan oleh penerbit.
- Eksistensi Penulis
Saat ini penulis perlu membantu pekerjaan penerbit dalam bidang promosi buku. Oleh karena itu, penulis perlu eksis di media sosial maupun media lainnya. Hal ini dapat menunjang penjualan buku nantinya. Penulis bukan hanya menyelesaikan tulisan saja, tetapi juga harus bisa diajak kerja sama. Media sosial dapat dijadikan sebagai wadah promosi sekaligus menjadi portofolio bagi penulis.
Apakah kamu pernah mengalami penolakan dari penerbit? Yuk mulai saat ini perbaiki tulisan kita. Revisi lagi hal-hal yang kurang dan perlu perbaikan. Belajar lagi dan lagi. Menulis lagi dan lagi. Lalu kirimkan ke penerbit. Selamat memperbaiki tulisan, tetap semangat berkarya.







Leave a Comment