Harakatuna.com – Term ‘dakwah’ santer menjadi pembicaraan publik hari-hari ini. Pasalnya, banyak dai, baik dari kalangan Muslim maupun Kristiani, yang ternyata membawa misi terselubung dalam dakwah mereka. Dai Kristen, umpamanya, membawa misi kristenisasi yang menekankan posisi mereka sebagai misionaris. Sementara itu, dai Muslim, justru membawa misi ideologis mulai dari islamisasi hingga indoktrinasi paham transnasional.
Penting digarisbawahi bahwa saat ini, dakwah—baik dalam Islam, Kristen, maupun agama-agama lainnya—memegang tanggung jawab besar dalam membangun peradaban yang berkeadaban. Ia bukanlah pengejawantahan tablīgh ajaran agama an sich, tetapi juga upaya mewujudkan nilai keagamaan dalam kehidupan itu sendiri. Dalam konteks itulah, muncul kebutuhan mendesak ihwal moderatisasi dakwah.
Moderatisasi, untuk diketahui, bertujuan agar dakwah tidak terjebak dalam agenda religio-sentris yang berfokus hanya pada doktrin dan ritual keagamaan belaka, tetapi berorientasi pada esensi ajaran agama yang hakiki: kemanusiaan. Moderatisasi dakwah jadi semakin urgen ketika gejolak sosial-politik hari-hari berpotensi membengkak menjadi polarisasi. Dengan moderatisasi, dakwah akan jadi agenda universal merawat peradaban.
Dakwah moderat bisa menjadi jembatan bagi kerukunan antaragama; mengedepankan nilai-nilai universal ihwal cinta-kasih, keadilan, dan persaudaraan. Tentu, hal itu berlaku tidak hanya untuk dakwah Islam, tetapi juga bagi agama lainnya seperti Kristen dan Hindu-Buddha. Penting bagi setiap dai untuk berfokus pada kemanusiaan sebagai inti ajaran—ketimbang mempromosikan superioritas agamanya sendiri.
Dengan kata lain, moderatisasi berusaha membangun nuansa baru dakwah dengan kembali pada misi universal agama, yaitu menjadi pedoman seluruh aspek kehidupan, termasuk hubungan antarsesama. Dengan demikian, agama akan memantik perubahan sosial yang besar, mulai dari keadilan sosial hingga manifestasi tatanan masyarakat yang madani. Dakwah tak lagi soal pemaksaan keyakinan, melainkan penguatan terhadapnya.
Moderatisasi Dakwah untuk Misi Kemanusiaan
Dalam Kristen, dakwah dilambangkan dengan kasih. Yesus mengajarkan pentingnya cinta kasih tanpa batas, termasuk kepada mereka yang berbeda keyakinan. Ajaran “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22: 39), umpamanya, menegaskan misi dai Kristen tak sekadar menjadi misionaris, tetapi membangun relasi harmonis antarumat: perdamaian, kesejahteraan sosial, dan cinta kasih universal.
Begitu pula dalam agama-agama lain, seperti Hindu dan Buddha, dakwah juga berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan seperti ahimsa ala Mahatma Gandhi, yang menuntut welas asih serta kebijaksanaan dalam memperlakukan semua makhluk hidup. Semua itu mengindikasikan bahwa dakwah yang concern pada misi kemanusiaan adalah esensi fundamental dari agama-agama itu sendiri.
Karena itu, moderatisasi dakwah tidak berarti melemahkan identitas keagamaan atau menurunkan derajat keyakinan seseorang. Moderatisasi justru menguatkan misi sejati agama: membangun harmoni dan kemajuan. Lantas, bagaimana agar dakwah saat ini dan ke depan dimoderatisasi untuk kemanusiaan dan tidak jatuh dalam jebakan religio-sentris yang ideologis? Jawabannya: menekankan persamaan dan menghindari narasi kebencian.
Dakwah moderat harus berfokus pada nilai universal agama ketimbang mempromosikan eksklusivitas agama. Tujuannya, untuk mengurangi ketegangan antaragama dan memperkuat kerja sama lintas iman dalam menghadapi tantangan-tantangan global, seperti krisis lingkungan, kemiskinan, dan konflik sosial-politik. Moderatisasi membawa dakwah pada misi persaudaraan dan kebebasan ihwal keimanan.
Dakwah yang moderat juga tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan suatu ajaran agama, tetapi membuka ruang dialog antaragama untuk saling memahami, menghapus prasangka, dan menemukan solusi bersama atas masalah-masalah kemanusiaan—misalnya menyelesaikan konflik pembantaian zionis Israel atas rakyat Palestina. Dialog menjadikan perbedaan tidak sebagai penghalang, melainkan sumber kekayaan bagi kemanusiaan.
Ihwal Tantangan Moderatisasi
Negara-negara hari ini menghadapi tantangan besar seperti radikal-terorisme dan konflik sosial-politik yang menegangkan. Maka, dakwah selaiknya relevan dengan konteks tersebut dan memberikan solusi riil; pemahaman keagamaan yang menyejukkan dan dan toleran. Begitu pula dakwah agama lainnya, terlibat aktif dalam isu-isu sosial seperti penanggulangan kemiskinan, ketidakadilan, dan pelestarian lingkungan merupakan sesuatu yang niscaya.
Pada saat yang sama, moderatisasi dakwah juga harus mencakup edukasi hal-ihwal kemanusiaan—khususnya dalam konteks agama. Dakwah tak sekadar mengajarkan ritual, tetapi juga nilai-nilai moral yang memantik kepekaan sosial. Melalui pendidikan tersebut, umat beragama akan mampu memahami bahwa penghambaan kepada Tuhan tidak bisa dilepaskan dari pengabdian kepada sesama manusia.
Sungguhpun demikian, moderatisasi dakwah memiliki sejumlah tantangan yang tidak bisa diabaikan. Sebagai contoh, bagaimana mengalahkan narasi-narasi ekstrem yang menghalalkan kekerasan atau eksklusivisme agama. Karenanya, dibutuhkan sinergi erat antara pemuka agama, pemerintah, dan masyarakat untuk mengembangkan narasi dakwah inklusif dan berorientasi pada kemanusiaan itu sendiri.
Ke depan, dakwah moderat diharapkan mampu mendorong terciptanya harmoni masyarakat. Perbedaan agama tidak boleh menjadi sumber konflik, melainkan ladang bagi kerja sama dan saling pengertian antarumat. Islam, Kristen, atau apa pun agamanya, para dai masing-masing tidak lagi boleh me-mainstreaming eksklusivisme. Dakwah mesti dimoderatisasi menjadi agenda-agenda humanisasi.
Dengan memfokuskan dakwah terhadap nilai-nilai kemanusiaan, bukan hanya doktrin agama semata, kerukunan antarumat tidak akan lagi menemukan jalan terjal kebangsaan. Lewat moderatisasi, dakwah akan menyemarakkan dialog antaragama, menghilangkan narasi kebencian, dan mendorong gotong-royong untuk negara-bangsa. Moderatisasi itulah esensi dakwah yang mesti diarusutamakan, yang berlandaskan kasih, keadilan, dan kemanusiaan.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…








Leave a Comment