Harakatuna.com – Salah satu fenomena yang sampai hari ini cukup membuat masyarakat tertawa adalah, komentar pada sebuah akun yang menayangkan prestasi seseorang, karena ia masih muda memiliki prestasi, bisa melanjutkan studi magister yang, bisa dikatakan belum saatnya, yakni umurnya belum cukup.
Sebuah prestasi besar yang amat diraihnya karena bisa berhasil menjalankan akademik dengan cepat dan nilai memuaskan. Hal ini karena tidak semua orang mampu meraih prestasi demikian. Di balik dari konten yang menyajikan sebuah prestasi tersebut, ada komentar netizen yang membuat gagal fokus. “Percuma prestasi, kalau gak shalat,” begitu bunyinya.
Komentar tersebut membuat netizen geram karena tidak ada hubungannya antara konten prestasi dengan shalat. Sekalipun menjadi seorang Muslim, komentar tentang ekspresi kemusliman seseorang, tidak layak dijadikan perbandingan dalam konteks kehidupan yang berbeda. Artinya, prestasi adalah satu hal dan shalat merupakan hal yang lain.
Meski begitu, dari fenomena ini kita melihat bahwa, identitas ke-Muslim-an sudah terbangun dalam diri sebagian masyarakat. Pendidikan formal tidaklah menjadi patokan kesuksesan seseorang. Sebagian masyarakat, yang menjadi orang tua lebih senang jika anaknya pandai shalat, membaca Alquran, daripada pintar matematika atau ilmu umum lainnya.
Demikian pula mereka lebih bangga anaknya masuk pesantren atau sekolah Islam lainnya daripada masuk sekolah umum. Terdapat pemisahan yang cukup jauh antara ilmu umum dan ilmu agama, padahal keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sebab untuk hidup di dunia, kita dituntut untuk memahami ilmu umum yang digunakan untuk bekerja, bertahan hidup dan melangsungkan kehidupannya.
Begitu pula kita butuh ilmu agama untuk mempersiapkan kehidupan di masa yang akan datang. Ini juga sejalan dengan hadits Rasulullah Saw, yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”
Dunia dan akhirat merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebab untuk menggapai kebahagiaan akhirat, kita menjalani hidup di dunia dengan berbagai hiruk pikuk perjalanan yang ada di dalamnya.
Identitas Muslim dan Ekspresi Keislaman Seseorang
Simbol keislaman yang dimiliki oleh seseorang, melambangkan keberislaman seseorang. Misal dalam konteks perempuan Muslim, ia dikatakan sebagai muslimah karena menggunakan jilbab ataupun pada laki-laki menggunakan sarung, kopyah dan simbol-simbol lainnya. Terlepas dari aturan wajib yang disematkan kepada perempuan Muslim untuk berjilbab, kita harus mengakui bahwa semua itu adalah simbol seseorang dianggap Muslim.
Masalahnya justru, pemujaan terhadap simbol berdampak terhadap sikap fanatik terhadap Islam. Fanatisme ini berdampak terhadap pemujaan berlebihan dan menganggap bahwa orang yang tidak sama dengan dirinya atau orang lain yang tidak melakukan ritual seperti dirinya adalah orang yang salah, yakni jauh dari Islam.
Fenomena ini semakin mengakar apabila ditambah dengan para penceramah agama yang kerapkali berdakwah tentang halal-haram, kafir-Muslim, atau kata-kata sejenis yang membuat mindset masyarakat semakin merasa paling benar dalam pelaksanaan ritual keagamaan yang dilakukan. Penyakit merasa benar ini, berdampak terhadap sikap tidak menghargai orang lain, seperti prestasi atau hal-hal baik yang dilakukan oleh seseorang.
Atas dasar itu, perlunya narasi keislaman yang toleran dan saling menghargai pilihan setiap orang, untuk diperbanyak di media sosial. Konsumsi informasi keagamaan di media sosial yang dilakukan oleh masyarakat, mengharuskan untuk kita memproduksi konten keislaman yang ramah, tidak menghakimi dan tidak saling menyalahkan satu sama lain. Dengan begitu, sikap saling menghargai setiap pilihan seseorang, menjadi dasar kehidupan masyarakat dalam bermedia sosial. Wallahu A’lam.








Leave a Comment