Hukum Jual Beli Ular Dalam Syariat Islam

Ahmad Khalwani, M.Hum

08/10/2024

2
Min Read
jual beli ular

On This Post

Harakatuna.comIslam adalah agama yang sangat menganjurkan praktek jual-beli untuk mendapatkan keuntungan serta mengharamkan riba. Dalam melakukan praktek jual-beli, tentu syariat Islam mengatur dengan detail, mana-mana yang boleh diperjual-belikan dan mana-mana barang yang haram diperjual-belikan. Lantas bagaimanakah hukum jual-beli ular dalam pandangan syariat Islam?

Bagi masyarakat awam tentu jual-beli ular terlihat sangat tabu, namun demikian bagi pecipta reptil, memelihara ular merupakan sebuah hobi dan kesenangan. Lantas bagaimana syariat Islam memandang hal yang demikian.

Para ulama sendiri seperti Imam Nawawi melarang memperjual-belikan hewan yang tiada manfaatnya. 

القسم الثاني من الحيوان : ما لا ينتفع به فلا يصح بيعه ، وذلك كالخنافس والعقارب والحيات والديدان والفأرة والنمل وسائر الحشرات ونحوها .

Artinya: “Bagian kedua dari binatang adalah binatang yang tidak dapat diambil manfaatnya, maka tidak sah menjualnya. Contohnya kumbang, kalajengking, ular, ulat, tikus, semut, dan semua binatang melata”. (Majmu 9/286)

Dan sebaliknya menurut kitab Asnal Matalib memperjualbelikan binatang yang memiliki manfaat itu diperbolehkan, seperti membeli kucing untuk mengusir tikus, membeli anjing untuk menjaga rumah atau berburu. 

وَيَصِحُّ بَيْعُ ما يُنْتَفَعُ بِهِ من الْجَوَارِحِ وَغَيْرِهَا كَالْفَهْدِ لِلصَّيْدِ وَالْفِيلِ لِلْقِتَالِ وَالْقِرْدِ لِلْحِرَاسَةِ وَالنَّحْلِ لِلْعَسَلِ وَالْعَنْدَلِيبِ وَالطَّاوُسِ لِلْأُنْسِ بِصَوْتِهِ

Artinya: “Sah memperjualbelikan binatang yang memiliki manfaat, seperti burung pemangsa untuk berburu, gajah untuk bertempur, anjing untuk menjaga, lebah untuk diambil madunya, dan burung bulbul, burung merak yang merdu suaranya”. (Asnal Matalib, Juz 2, No. 9)

Dari keterangan ini menjadi jelas bahwa memperjualbelikan hewan itu dilihat dari segi manfaatnya. Apabila mendatangkan manfaat maka diperbolehkan dan apabila tidak mendatangkan manfaat maka dilarang.

Melihat pendapat Imam Nawawi di atas yang merupakan begawan madzhab Syafi’i menjadi jelas bahwa memperjual-belikan ular tidak diperbolehkan dalam Islam. Namun demikian, dalam madzhab Hanafi dan Maliki diperbolehkan melakukan jual-beli ular.

وكذلك يصح بيع الحشرات والهوام كالحيات والعقارب اذا كان ينـتفع بها. والضابط فى ذلك ان كل مافيه منفعة تحل شـرعا فإن بيعه يجوز

Artinya: “Dan demikian juga sah jual-beli serangga dan binatang melata seperti ular dan kalajengking ketika ada manfaatnya. Batasan manfaat adalah semua yang bermanfaat dan halal menurut syara, maka boleh menjualnya.”

Walhasil, dari pendapat ini, bagi masyarakat pada umumnya yang menganggap ular tidak ada manfaatnya maka ambillah pendapat yang yang melarang jual-beli ular. Dan sebaliknya bagi pecinta reptil maka ambillah pendapat yang membolehkan. Wallahu A’lam Bishowab. 

Leave a Comment

Related Post