Melirik Sinkretis-Etis ala Kartini di Tengah Kasus Intoleransi di Indonesia

Jefri Andri Saputra

08/10/2024

5
Min Read
Kartini

On This Post

Harakatuna.com – Nama R. A. Kartini dalam gerakan feminis di Indonesia bukanlah nama yang asing. Kumpulan tulisannya yang diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” menginspirasi berbagai gerakan pemberdayaan perempuan dalam perkembangan sejarah Indonesia. Namun, pernahkah masyarakat Indonesia mendengar Kartini sebagai salah seorang penggerak cara beragama yang moderat?

Hal itu terbilang sangat jarang disorot dalam sejarah hidup Kartini. Kartini dikenal sebagai sosok yang bergaul secara intens dengan beberapa perempuan dari Eropa yang notabene beragama Kristen. Mereka kerap melakukan dialog mengenai agama termasuk dogma yang selama ini dikenal sebagai perbedaan fundamental agama-agama. 

Salah satu gagasan yang muncul dari refleksi Kartini ketika berdialog dengan rekan-rekannya adalah ketika dia “mengadaptasi” terminologi teologi Kristen yakni menyebut Tuhan sebagai “Bapa Cinta Kasih”. Kartini sebagai seorang Islam mengadaptasikan terminologi yang identik dengan umat Kristen, kemudian tiba pada kesimpulan bahwa Tuhan sangat dekat dengan semua umat beragama serta menyebut semua umat beragama adalah anak-anak Tuhan.

Th. Sumartana dalam bukunya Tuhan dan Agama dalam Pergumulan Batin Kartini menyebut “keberanian” Kartini dalam dialog dan interaksinya dengan agama Kristen sebagai model “sinkretis-etis”. Sinkretis etis memperlihatkan sebuah usaha untuk menerima dan terbuka kepada agama lain, bahkan menjalin relasi dan dialog yang intens.

Akan tetapi, tidak ada ketakutan sama sekali untuk kehilangan identitas keagamaan, sekalipun menggunakan terminologi agama lain untuk memperkaya khazanah teologisnya. Model inilah yang membuat Kartini dapat hidup bersahabat dengan teman-temannya dari Eropa yang beragama Kristen, tanpa harus dibebani dengan fanatisme beragama.

Tentu beban beragama Kartini tidak sekompleks masyarakat Indonesia masa kini. Kartini lahir dalam konteks kolonialisme, di mana konflik lintas agama dan isu radikalisme belum menjadi pergumulan besar di ruang publik. Kartini dan orang-orang sezamannya bergumul dengan penjajahan dari Barat, sehingga kemerdekaan atau kebebasan menjadi isu krusial yang ditanggung bersama oleh semua masyarakat Nusantara. Tidak sedikit dari upaya itu memperlihatkan kerja sama di antara tokoh-tokoh dengan latar belakang suku maupun agama yang berbeda. 

Kondisi di atas kontras dengan masyarakat Indonesia masa kini, di mana pluralitas, termasuk perbedaan agama, menjadi masalah serius di ruang publik. Hal ini dapat dilihat dalam berbagai bentuk konflik seperti perang antarumat beragama, stereotipe yang berkembang pasca-konflik atau perang agama, larangan beribadah kepada umat beragama tertentu, pembakaran rumah ibadah, aksi terorisme atas nama agama, eksklusivisme dan fanatisme yang terus dipropagandakan, hingga praktik penistaan agama gencar di media sosial.

Contoh ini adalah berbagai bentuk konflik agama yang terjadi di Indonesia. Hal ini belum termasuk berbagai konflik kecil yang bermotif agama yang terjadi di tingkat lokal dan tidak dimunculkan ke permukaan. 

Di tengah pergolakan hidup beragama di atas, sejarah hidup Kartini tentu menjadi “cambuk” bagi umat beragama masa kini. Mungkinkah keberanian Kartini untuk duduk bersama, berdialog, berinteraksi secara intens dapat direvitalisasi oleh umat beragama di Indonesia saat ini? Adakah keberanian dalam diri cendekiawan maupun tokoh agama untuk ikut mengadaptasi terminologi beragama dari kelompok agama lain untuk memperkaya khazanah berteologinya? Ruang dan waktu untuk berbicara agama dan beragama layaknya Kartini dalam konteks baru adalah sebuah panggilan sekaligus tantangan beragama masa kini.

Meskipun Kartini bukan seorang teolog yang memiliki kompetensi atau pengetahuan teologis yang mumpuni, namun praksis dan pandangannya sangat menginspirasi dalam mengusahakan keharmonisan agama-agama masa kini. Sikap dan pergaulan Kartini yang sangat intens dengan sesama penganut agama lain memberikan penawaran keharmonisan dalam praksis relasi umat beragama di Indonesia masa kini.

Praktik sinkretis-etis tidak sekadar menghilangkan paradigma eksklusif dan berbagai pandangan yang mendiskreditkan penganut agama lain. Model beragama ini juga memberikan ruang untuk mempercakapkan perbedaan terminologi hingga doktrin-doktrin teologis dengan agama-agama lain.

Perbedaan yang dimiliki setiap agama tidak hanya diterima tetapi juga dihargai, dihormati, bahkan dalam keadaan tertentu, konsep teologi agama lain, misalnya Islam, dapat digunakan untuk memperkaya khazanah berteologi dalam agama Kristen. Begitu pun sebaliknya, terminologi teologi Kristen dapat memperkaya khazanah berteologi umat Islam. 

Usaha Kartini yang mengadaptasi terminologi Kristen dengan menyebut Tuhan sebagai Bapa Cinta Kasih, dilihat sebagai usaha untuk melukiskan keintiman Tuhan dengan umat-Nya, serta status umat beragama sebagai sesama anak Tuhan. Gagasan ini tidak sekadar sebagai salah satu teladan relasi lintas iman untuk saling memperkaya khazanah berteologi masing-masing agama.

Ide Kartini dalam pandangan ini juga menjadi bahan reflektif bagi ketidakharmonisan yang diperlihatkan oleh agama di Indonesia. Terminologi “anak-anak Tuhan” memberikan gambaran mengenai relasi persaudaraan antarumat beragama yang semestinya terjalin. Perseteruan yang terjadi adalah sikap ketidakdewasaan dalam relasi orang yang dianggap bersaudara.

Terminologi tersebut juga akan menjadikan konflik agama sebagai tontonan yang menyedihkan bagi “Sang Bapa”, ketika melihat anak-anak-Nya yang lahir sebagai saudara saling membunuh dan berselisih. Gagasan mengenai “anak-anak Tuhan” kemudian berimplikasi pada relasi yang harmonis di antara agama-agama.

Baik cara beragama maupun pandangan reflektif dari Kartini merupakan sebuah sumbangsih pemikiran terhadap kehidupan beragama di Indonesia saat ini. Meskipun kompleksitas masalah agama dalam konteks Kartini berbeda dengan konteks beragama bangsa Indonesia saat ini, namun pemikirannya sangat konstruktif dan dibutuhkan dalam upaya membangun konsep moderasi beragama saat ini.

Gagasan dan cara beragama Kartini adalah “mutiara” yang tidak kalah berharga untuk dilirik dan direvitalisasi dalam relasi serta model dialog agama-agama di Indonesia.

Leave a Comment

Related Post