Masuk Zona Merah, NU Kota Bekasi Komitmen Perangi Radikalisme

Harakatuna

05/10/2024

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Bekasi – Intoleransi di Kota Bekasi telah masuk dalam zona merah, begitu juga dengan radikalisme harus menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama. Hal itu diungkapkan Ketua PCNU Kota Bekasi, Kiai Ayi Nurdin dalam acara dialog kebangsaan yang digelar pada Jumat (4/10/2024) malam oleh aktivis Kelompok Cipayung Unisma Bekasi.

“Peristiwa ASN yang sempat viral harus menjadi pelajaran, dan umat muslim harus menghormati hak-hak antar umat  beragama,” kata Ketua Tanfidziah NU Kota Bekasi.

Selain itu, Kiai Ayi juga menegaskan bahwa isu intoleransi yang diangkat dalam dialog kebangsaan sangat urgen. “Intoleransi dan radikalisme yang diangkat teman-teman mahasiswa sangat urgen demi keutuhan bangsa kita, khususnya di Kota Bekasi dalam pemilihan kepala daerah,” imbuh jebolan UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu.

Sementara itu Ray Rangkuti menjelaskan sikap intoleran jelang Pilkada justru meningkat. “Sikap intoleran tersebut, lebih berbahaya daripada tindakan intoleransi. Sebab tindakan intoleransi bisa dicegah atau ditanggulangi oleh aparat keamanan. Tapi sikap intoleran itu tidak kasat mata membuat masyarakat terbelah,” kata Ray Rangkuti.

Adapun salah satu upaya agar toleransi yang terjadi jelang Pilkada dapat diselesaikan, kata Ray Rangkuti konflik atau perbedaan di tengah masyarakat majemuk hanya bisa diselesaikan lewat mekanisme demokrasi. “Dan hanya kaum nasionalis yang bisa menyelesaikan konflik itu,” tukas Ray.

Sedangkan Akmal Fahmi, tokoh pemuda Bekasi mengatakan, bahwa masyarakat Kota Bekasi dalam situasi politik jelang Pilkada jangan sampai mau dieksploitasi oleh kepentingan politik praktis demi kepentingan elektoral kelompok tertentu. “Kaum minoritas harus kembali melihat rekam jejak calon kepala daerah, agar tidak masuk pada masa suram,” kata Akmal mengingatkan.

Seperti diketahui, persoalan intelorensi di Kota Bekasi, mulai mencuat pada beberapa pekan ke belakang. Dimana ASN Kota Bekasi mempersekusi umat yang akan beribadah, ketika Kota Bekasi dipimpinan Pj. Wali Kota Bekasi Gani Muhamad. Sedangkan selama kepemimpinan Rahmat Effendi maupun Tri Adhianto, tidak pernah ada aksi intoleransi. Bahkan, pada saat Tri Adhianto memimpin, Kota Bekasi masuk indeks Kota Toleran yang naik secara signifikan.

”Tahun 2022 berdasarkan penilaian NGO, IKT Kota Bekasi posisi ketiga se-Indonesia, tahun 2023 naik di posisi kedua, dan tahun 2024 ditargetkan menjadi posisi pertama,” kata Abdul Manan Ketua FKUB Kota Bekasi, beberapa pekan lalu saat berkunjung ke lingkungan rumah ASN yang arogan.

Leave a Comment

Related Post