Harakatuna.com – Radikalisme memang menjadi momok yang riskan bagi Indonesia, yang dengan berkembangnya teknologi digital hari ini, remaja-remaja Indonesia menjadi kelompok paling rentan terpapar. Seperti yang terjadi pada kasus HOK di Jawa Timur beberapa waktu lalu, tentu saja, menjadi refleksi besar-besaran bagi upaya pemerintah melakukan pencegahan bahaya tersebut.
Tak ayal, upaya-upaya terus dilakukan, sebagaimana dilakukan beberapa waktu lalu di Jogja, di mana BNPT gencar melakukan kampanye pencegahan yang sasarannya dikhususkan kepada para mahasiswa dan anak-anak SMA.
Ada banyak riset yang telah dilakukan menunjukkan bagaimana kelompok mahasiswa dan anak SMA menjadi sasaran paling empuk untuk dimasuki indoktrinasi radikalisme. Mengapa demikian?
Pertama, tentu, adanya pengaruh teknologi digital itu sendiri yang memang usia-usia mahasiswa dan SMA menjadi usia paling familiar dengan teknologi digital, media sosial, misalnya. Kedua, adalah soal pencarian identitas diri. Artinya, pada usia perkembangan menuju dewasa, manusia memang akan selalu mencari identitas dirinya.
Dalam hal ini, ada semacam tarikan untuk mengisi kekosongan-kekosongan nilai dalam diri manusia yang meminta untuk diisi. Masalah-masalah dalam hidup yang dialami manusia pada usia-usia pencarian identitas diri akan selalu meminta ongkos untuk bisa ditambal-sulami dengan nilai-nilai yang dirasa dapat mengisi kekosongan tersebut.
Kondisi semacam itu, jelas sekali akan mendorong seseorang lantas berusaha membangun identitas dirinya. Misalnya, dengan ikut kelompok-kelompok lain, berbentuk organisasi maupun komunitas yang dianggapnya dapat memenuhi kebutuhan dirinya.
Narasi Radikal dan Ilusi Identitas
Mari kita mencoba memahami fenomena tersebut melalui perspektif psikoanalisis model Lacanian. Jacques Lacan (1901-1981) sendiri adalah seorang psikoanalis Prancis yang terkenal karena memperbarui dan memperluas teori-teori Freud dengan memfokuskan pada peran bahasa, struktur simbolik, dan hubungan antara identitas manusia dan dunia luar.
Ia dikenal melalui teorinya tentang the mirror stage (fase cermin), struktur bahasa dalam pembentukan subjek, serta konsep tentang the real, the imaginary, dan the symbolic.
Untuk memahami fenomena radikalisme di kalangan remaja, beberapa aspek pemikiran Lacan, saya pikir sangat relevan, terutama dalam melihat bagaimana identitas itu terbentuk melalui bahasa dan simbol, serta bagaimana subjek berhadap-hadapan dengan kondisi kekosongan (lack) dalam dirinya sendiri.
Pada masa remaja, terutama mahasiswa dan anak SMA, di mana individu berada dalam fase pencarian jati diri dan identitas. Menurut Lacan, kondisi tersebut menuntut adanya proses identifikasi ketika subjek berusaha memahami dirinya melalui bahasa dan pengaruh lingkungan.
Saat individu mengalami “lack” (baca: kekosongan) dalam identitas mereka—karena ketidakpastian, keterasingan, atau tekanan sosial—mereka menjadi rentan terhadap narasi yang menawarkan kepastian, yang dalam konteks ini sering kali hadir dalam bentuk narasi-narasi radikalisme.
Dalam banyak riset, misalnya, fase transisi semacam ini ditandai dengan ketidakstabilan emosional dan kognitif, yang akhirnya menjadi “pintu masuk” ideologi ekstrem memberikan makna tunggal atau jawaban definitif terhadap pertanyaan besar tentang kehidupan, agama, atau politik. Akhirnya, narasi radikal berhasil memberikan ilusi “kepenuhan” atau pemenuhan identitas yang sangat dicari oleh remaja yang merasa kosong itu.
Dalam mirror stage atau fase cermin dengan hubungannya pembentukan identitas, Lacan menjelaskan bahwa pada usia bayi, individu pertama kali akan mengenali dirinya melalui cermin atau representasi eksternal. Di sini, bayi mulai membangun identitasnya sebagai sebuah ego, namun identitas yang didapati selalu terfragmentasi dan tidak stabil. Ini persis sekali tatkala remaja, yang berada dalam fase pencarian identitas, sering mengalami kesulitan dalam memahami siapa diri mereka di dalam masyarakat.
Karena itu, mereka membutuhkan cermin atau representasi luar untuk membangun identitas mereka. Dalam konteks radikalisme, narasi ekstremis atau kelompok radikal hadir dan bertindak sebagai cermin yang menawarkan versi ideal dari diri mereka, misalnya, sebagai seorang pejuang kebenaran, pelindung agama, atau penyelamat bangsa—padahal yang sesungguhnya sedang diberikan adalah “ilusi-ilusi” kepenuhan.
Kemudian, analisa selanjutnya, dalam hubungan bahasa dan identitas. Terminologi “subjek yang terbentuk oleh bahasa”, menjadi salah satu pandangan Lacan yang penting juga, untuk menunjukkan posisi bahasa yang memainkan peran fundamental dalam pembentukan identitas. Lacan berpandangan bahwa individu hanya dapat mengenali dirinya dalam dunia sosial melalui bahasa, karena bahasa menciptakan jembatan antara subjek dan dunia luar di sekelilingnya. Bahasa lalu berfungsi sebagai the symbolic order—struktur simbol yang menentukan bagaimana subjek memahami dirinya dan dunia luarnya.
Akan tetapi, karena bahasa bersifat terbatas dan tidak dapat sepenuhnya merepresentasikan realitas yang dialami individu. Maka, identitas yang terbentuk melalui bahasa juga selalu tidak lengkap. Sehingga, subjek akan juga selalu merasa ada sesuatu yang hilang atau tidak tercakup oleh bahasa, yang Lacan sebut sebagai lack itu. Hal ini bisa terlihat, tatkala remaja terpapar narasi radikalisme, yang diawali (mungkin) mereka merasa bahwa kehidupan mereka kekurangan makna atau tujuan hidupnya.
Di mana dalam keadaan tersebut, ideologi radikal lantas menyediakan bahasa yang memberikan makna yang boleh jadi bersifat “totalitas” kepada mereka—baik itu dalam bentuk kebenaran absolut, misi suci, atau penyelamatan spiritual. Bahasa radikal, dalam hal ini, seolah menawarkan jawaban final, seakan dapat menutup kekosongan (lack) yang mereka rasakan. Dengan demikian, mereka tertarik pada narasi yang tampaknya memberikan struktur yang lengkap untuk identitas mereka sebagaimana ditawarkan oleh narasi-narasi radikalisme—yang sesungguhnya adalah juga memuat “ilusi” kepenuhan berlebih.
Mari Menuju Indonesia ‘Bebas Radikalisme’!
Dari paparan di atas, kita mendapati gambaran psikoanalisis Lacanian menawarkan kerangka menarik untuk memahami fenomena radikalisme karena fokusnya pada bagaimana identitas terbentuk dalam hubungan dengan bahasa, kekuasaan, dan simbol-simbol sosial.
Remaja, yang sering kali berada dalam fase pencarian identitas, memang sangat rentan terhadap bahasa dan narasi yang menawarkan kepastian dan kepenuhan. Saat mereka merasa tersesat atau mengalami lack—baik secara sosial, emosional, maupun psikologis—mereka bisa sangat berkemungkinan tertarik pada narasi radikal yang menjanjikan penutupan kekosongan tersebut.
Hal ini terjadi karena memang dalam indoktrinasinya, radikalisme menawarkan imaji-imanji identitas yang seakan utuh dan penuh makna hidup yang absolut. Namun, dari perspektif Lacanian, hal tersebut hanyalah ilusi. Karena identitas (subjek) manusia selalu ditandai oleh kekosongan dan ketidakpenuhan. Ini yang penting disadari.
Maka, dengan memahami bagaimana remaja menginternalisasi narasi radikal melalui bahasa dan simbol, kita bisa lebih memahami mengapa mereka begitu rentan terhadap ideologi ekstremis dan bagaimana pendekatan ini bisa membantu kita mengembangkan strategi untuk mencegah radikalisasi.
Akhirnya, kita bisa juga memahami, bahwa radikalisme di kalangan remaja setidak-tidaknya dapat dicegah dengan pendekatan yang berfokus pada penguatan identitas mereka melalui pendidikan kritis, ruang publik yang inklusif, dan dukungan psikologis yang lebih moderat.
Dengan memahami radikalisme melalui perspektif Lacanian—di mana identitas subjek selalu berada dalam kondisi lack dan pencarian makna melalui bahasa dan simbol—kita bisa merancang strategi pencegahan yang lebih efektif dan moderat, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Misalnya, dengan memberikan ruang-ruang kolektif yang sesuai dengan kearifan budaya dan bangsa, sambil sekaligus mengembangkan counter-narrative yang relevan serta melibatkan remaja dalam kegiatan positif untuk membantu mengurangi daya tariknya pada narasi-narasi radikal. Mari kita lakukan bersama-sama untuk Indonesia ‘bebas radikalisme’. []








Leave a Comment