Harakatuna.com – Pernahkah mendengar dari sekitar kita ketika ada seorang suami yang selingkuh dengan perempuan lain, lalu sang istri yang disalahkan oleh masyarakat? Misal karena si istri tidak pandai mengurus suami, maka wajar suaminya berselingkuh. Karena si istri sibuk bekerja, wajar suaminya berselingkuh. Parahnya lagi, dalam kasus pelecehan seksual, perempuan sebagai korban kerapkali masih menjadi sasaran kesalahan oleh masyarakat. Wajar saja dilecehkan, karena perempuan genit. Pantas saja diperkosa, sebab ia sering berpakaian terbuka.
Fenomena di atas, kerap kali ditemukan di tengah-tengah masyarakat yang kemudian disebut blame the woman syndrom menyalahkan perempuan. Sindrom tersebut masih mengakar pada kehidupan masyarakat, sebab berkaitan erat dengan pandangan masyarakat tentang anggapan karakter perempuan yang dianggap licik dan provokatif.
Anggapan semacam ini diperkuat oleh tafsiran teologis yang sejak kecil kita dapatkan bahwa, Adam dibuang atau dihukum ke bumi karena memakan apel/buah khuldi setelah digoda oleh Hawa. Redaksi kata “digoda” memiliki makna yang cukup jelas, penggambaran perempuan sebagai makhluk yang bisa menjerumuskan seorang laki-laki dalam hal keburukan.
Secara norma agama, perempuan juga sering disalahkan apabila menggunakan pakaian terbuka karena memicu terjadinya kekerasan seksual. Didikan paling keras, selalu dilontarkan oleh masyarakat apabila orang tua memiliki anak perempuan. Absennya masyarakat sebagai polisi moral untuk mendidik anak laki-laki agar bisa bersikap baik dalam menjaga diri untuk tidak melecehkan perempuan, membuktikan minimnya kesadaran masyarakat untuk sama-sama mendidik anak laki-laki ataupun perempuan, agar tidak melakukan tindak pelecehan atau perbuatan menyimpang lainnya.
Oleh karena itu, tidak heran apabila masyarakat masih terus mengincar perempuan sekalipun sebagai korban untuk disalahkan, apabila ada kasus pelecehan seksual, KDRT ataupun kasus perselingkuhan. Jika sindrom blame the woman ini dimiliki oleh kelompok perempuan, maka rivalitas antar perempuan terus terjadi dan menjadi lingkaran setan yang tidak akan ada habisnya. Sejauh ini, sindrom blame the woman sangat merugikan perempuan karena dianggap sumber masalah yang terjadi. Terjadinya kasus pelecehan seksual, perselingkuhan ataupun kasus serupa lainnya, sangat jelas yang perlu disalahkan dan dihukum adalah pelaku.
Namun, karena sindrom ini terus mengakar pada diri masyarakat, yang terjadi justru masyarakat sibuk menghukum secara sosial, pada perempuan yang menjadi korban tindak kekerasan atau perselingkuhan.
Mengedepankan Berpikir Kritis
Perspektif gender menjadi pondasi dasar pemikiran manusia untuk terbuka melihat fenomena sosial yang berhubungan dengan jenis kelamin. Sebagai anak kandung patriarki, kita seringkali memiliki bias dalam memandang perempuan ataupun laki-laki, termasuk juga bagaimana perempuan memandang dirinya sendiri dan perempuan lain. Dalam konteks perempuan melihat perempuan lain, ini juga hasil didikan patriarki yang tanpa disadari, menciptakan rivalitas cukup besar antar perempuan, sehingga sindrom blame the woman terus dimiliki oleh masyarakat, termasuk kelompok perempuan.
Selain perspektif gender, critical thinking atau berpikir kritis harus juga menjadi pondasi dasar dalam melihat fenomena sosial yang terjadi. Dengan banyaknya informasi yang bertebaran di media sosial dengan perspektif yang tidak sama, berpikir kritis membuat kita bijak dalam menggunakan media sosial, sekaligus ketika ingin bersuara dalam suatu fenomena. Berpikir kritis juga menjadikan kita tidak gampang untuk percaya kepada informasi yang belum terbukti kebenarannya, sehingga akan menuntut seseorang untuk terus mencari tahu sumber valid dari informasi yang didapat.
Dalam konteks sindrom blame the woman, seseorang yang berpikir kritis tidak akan menyalahkan korban pelecehan seksual. Sebab tindakan tersebut adalah tindakan salah yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun. Pentingnya berpikir kritis yang seharusnya kita miliki bertujuan agar kita tidak gampang menyalahkan orang lain, termasuk menyalahkan korban, yakni perempuan. Wallahu A’lam.








Leave a Comment