Nasihat Gus Mus Perihal Pentingnya Memuliakan Manusia

Sam Edy Yuswanto

22/09/2024

3
Min Read
gus mus

On This Post

Judul Buku: Mereguk Mata Air Kebijaksanaan Gus Mus (Hikmah dan Nasihat), Penulis: Imam Muhtar Penerbit: Noktah, Cetakan: 2019, Tebal: 270 halaman, ISBN: 978-602-5781-49-0. Peresensi: Sam Edy Yuswanto.

Harakatuna.com – Gus Mus adalah panggilan akrab dari KH. Mustofa Bisri, sosok kiai kharismatik sekaligus budayawan dan penulis yang begitu produktif melahirkan karya. Beliau dikenal sebagai pribadi yang santun serta tampak hati-hati dalam bertutur kata. Sehingga apa yang diucapkan oleh beliau tak membuat orang lain merasa tersinggung karenanya. Maka tak berlebihan bila saya menganggap Gus Mus adalah termasuk sosok ulama yang layak diteladani nasihat-nasihat bijaknya.

Banyak hal menarik yang bisa kita lihat dari sosok Gus Mus. Salah satunya perihal begitu bijaksananya beliau dalam menggunakan media sosial seperti Facebook. Postingan-postingan yang beliau unggah, begitu meneduhkan dan mendamaikan. Beliau mampu menjadikan media sosial sebagai sarana untuk berdakwah atau menebarkan kebaikan.

Dalam buku ini diungkap, KH. Mustofa Bisri menjadikan dunia maya sebagai medium untuk belajar, menyebarkan mutiara-mutiara ilmu, berinteraksi dengan sesama manusia, dan dalam rangka memanusiakan manusia. Beliau sangat arif dalam membaca perubahan zaman. Dengan kearifannya tersebut, Gus Mus mengerti bahwa dakwah melalui mimbar-mimbar, ke depan, akan terpinggirkan dengan dakwah melalui medsos tersebut, terlebih di kalangan anak-anak muda. Melalui medsos, Gus Mus turut mewarnai pemikiran anak-anak muda, sekaligus mengajak kita semua untuk beragama dengan ilmu.

Salah satu nasihat bijak Gus Mus yang sangat penting kita renungi dalam buku ini adalah perihal pentingnya memuliakan sesama manusia. Beliau berkata, “Jangan rendahkan dirimu dengan merendahkan orang lain”. Beliau juga pernah menyampaikan, “Apakah tidak cukup dengan membuktikan kehebatan diri dan memuji diri sendiri? Mengapa harus juga merendahkan orang lain?”

Sebagai manusia, kita sering mengabaikan kepekaan hati, tak menjaga perasaan orang. Punya sedikit kelebihan, semua orang direndahkan. Ada yang kaya merendahkan yang papa. Ada yang bersekolah merendahkan yang di sawah. Kerja kantoran merendahkan nelayan. Pejabat menyepelekan rakyat. Punya pasangan, merendahkan para jomblo. Ketika lumayan pandai, yang kurang pandai di-bully (hlm. 76).

Kita mungkin pernah mendengar pepatah bijak yang mengatakan bahwa “Dengan merendahkan orang lain, tak lantas membuatmu menjadi lebih tinggi”. Kalimat ini sangatlah bijaksana dan seharusnya selalu berusaha kita resapi dan renungi bersama. Tujuannya agar kita berusaha menjadi hamba yang memanusiakan dan memuliakan manusia, tidak gemar merendahkan dan menghina orang lain. 

Orang yang hebat adalah dia yang selalu rendah hati dan tidak mau meremehkan orang lain. Dalam buku ini dipaparkan, orang-orang hebat sesungguhnya adalah orang yang tidak suka pamer kehebatan, apalagi memamerkan kehebatan dengan merendahkan orang lain. Kenapa? Sebab, ia memahami bahwa setiap manusia memiliki potensi istimewa. Orang bijak selalu berjalan dalam rel agama, menjadikan kitab suci sebagai lentera hatinya.

Terkait dengan rendah-merendahkan, hina menghinakan, cela-mencelakan, Allah Swt. tegas mengingatkan dalam Al-Qur’an surah al-Hujurat [49]: 11), “Wahai orang-orang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan orang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan, jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan, janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil gelaran yang mengandung ejekan…” (hlm. 78).

Pesan atau nasihat bijak Gus Mus dalam buku ini masih banyak dan beragam. Tak hanya berkaitan dengan pentingnya memuliakan sesama manusia saja, tetapi juga tema-tema lain yang sangat menarik untuk direnungi dan teladani bersama. Di antaranya tentang pentingnya menyelaraskan ucapan dan perbuatan, belajar tawaduk, jangan tertipu oleh dunia, sehat dan sakit adalah nasihat, perbedaan bukan jalan pertikaian, dan sebagainya.

Saya rasa, buku ini dapat menjadi salah satu bacaan yang akan membantu para pembaca semakin dewasa dan bijaksana dalam bertutur kata dan berperilaku. Wallahu al’am bi ash-shawab.

Leave a Comment

Related Post