Harakatuna.com – Sudah menjadi hukum alam, bahwa untuk bisa bertahan hidup manusia membutuhkan makan. Dan sudah sewajarnya dalam kehidupan, manusia makan sehari 3 kali. Tanpa makanan, tentu manusia akan merasa lemas dan lunglai karena kurangnya asupan yang masuk ke dalam tubuh. Makanan tentu berbagai macam rasanya, namun demikian dalam Islam ada ajaran larangan untuk mencela makanan.
Nabi Muhammad sebagai suri teladan kehidupan dalam hidupnya tidak pernah mencela makanan sama sekali. Rasulullah apabila suka terhadap makanan maka ia akan memakan dan apabila tidak suka maka ia membiarkannya.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ طَعَامًا قَطُّ، كَانَ إِذَا اشْتَهَى شَيْئًا أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْه).
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA., beliau berkata: Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika tertarik (suka) dengan suatu makanan, maka beliau akan memakannya, dan bila tidak suka dengannya, beliau meninggalkannya.” (HR. Muttafaq Alaih).
Hadis ini jelas mengajari umat Islam bahwa ketika suka makanan maka makanlah dan ketika tidak suka maka tinggalkanlah. Namun demikian ketidak sukaan Rasulullah terhadap suatu maka bukan berarti makan tersebut haram untuk dimakan. Imam Ash-Shon’aniy dalam kitab Subulus Salam Syarah Bulugh Al-Maram, (3/235) menjelaskan dengan detail hal ini.
(وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: «مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ طَعَامًا قَطُّ كَانَ إذَا اشْتَهَى شَيْئًا أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ». مُتَّفِق عَلَيْهِ) فِيهِ إخْبَارٌ بِعَدَمِ عَيْبِهِ ﷺ لِلطَّعَامِ وَذَمِّهِ لَهُ فَلَا يَقُولُ هُوَ مَالِحٌ أَوْ حَامِضٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ، وَحَاصِلُهُ أَنَّهُ دَلَّ عَلَى عَدَمِ عِنَايَتِهِ ﷺ بِالْأَكْلِ بَلْ مَا اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَمَا لَمْ يَشْتَهِهِ تَرَكَهُ، وَلَيْسَ فِي تَرْكِهِ ذَلِكَ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ عَيْب الطَّعَامِ.
Artinya: “Dalam Hadits ini terdapat informasi tentang ketidakpernahan Nabi SAW mencela makanan dan menjelek-jelekkannya. Beliau tidak pernah mengatakan “makanan ini terlalu asin”, “makanan ini terlalu masam”, atau sejenisnya. Walhasil, Hadits ini menjadi dalil tentang ketiadaan sikap penjagaan Nabi SAW terhadap makanan tertentu. Melainkan beliau akan memakan makanan yang beliau suka, dan beliau akan meninggalkan makanan yang tidak beliau suka. Dan sikap beliau meninggalkan suatu makanan tertentu (yang tidak disukai) tidaklah menjadi dalil akan keharaman memakan makanan tersebut.”
Dari keterangan ini menjadi jelas bahwa ada larangan mencela makanan dalam Islam. Walaupun demikian Islam memperbolehkan seseorang untuk memperbaiki masakan yang dirasa kurang enak namun harus disampaikan dengan perkataan yang baik dan bijak. Wallahu A’lam Bishowab.








Leave a Comment