Harakatuna.com – Tahukan Anda bahwa siasat kelompok transnasional hari ini untuk melakukan radikalisasi semakin canggih? Boleh jadi, sebagian masyarakat tidak akan menyangka kebenaran tersebut. Tetapi itu fakta. Mereka telah bertransformasi ke cara-cara baru untuk menyusupkan ideologi radikal pada generasi muda, yaitu dengan memasuki dunia hiburan anak muda, seperti anime dan game online.
Melalui interaksi yang bersifat emosional, mereka membangun kedekatan, lalu secara bertahap menyematkan doktrin ideologis yang fungsinya tidak lain adalah meradikalisasi anak-anak tanpa mereka sadari. Fenomena tersebut jelas memperlihatkan betapa gentingnya situasi saat ini, dan semakin urgennya keluarga sebagai benteng utama ambil peran melindungi anak-anak dari ancaman radikalisasi itu sendiri.
Akomodasi subversif, itu istilah yang Asef Bayat (2010) gunakan untuk mendeskripsikan fenomena tersebut. Sejumlah judul anime seperti Onepiece, Sword at Online, Naruto, dan Fairy Tail yang notabene sangat populer di kalagan anak muda kini diinfiltrasi propaganda transnasionalisme. Artinya, anime ataupun game online jadi ladang subur dalam menargetkan anak-anak muda menjadi bagian dari kaum radikal.




Hubungan emosional yang dibangun melalui komunikasi di ruang-ruang digital itulah yang kemudian menjadi pintu masuk diseminasi doktrin-doktrin radikal. Sementara anak-anak muda mengira hanya bermain atau berdiskusi santai, pesan-pesan ideologis mulai menyelinap dan membentuk pola pikir yang ekstrem. Para radikalis dengan cerdik menyeret mereka ke self-radicalization, yakni menjadi radikal tanpa disadari.
Di tengah maraknya fenomena radikalisasi semacam itulah, keluarga memainkan peran strategis sebagai benteng utama dalam mencegah penyebaran ideologi ekstremis kepada anak-anak. Jadi ternyata ancaman radikalisasi tidak hadir di ranah publik belaka, tetapi juga menyusup hingga ke dalam ruang-ruang digital yang akrab dengan kehidupan sehari-hari anak. Karenanya, saat ini, kontra-radikalisasi jadi keniscayaan bagi setiap keluarga.
Fenomena Radikalisasi Anak
Data yang menunjukkan bahwa radikalisasi di Indonesia tidak hanya menyasar kalangan dewasa melainkan juga anak-anak dan remaja itu banyak sekali. BNPT, misalnya, pernah melaporkan adanya kasus anak-anak yang sukarela menjadi simpatisan kelompok transnasional atau bahkan direkrut jaringan teroris melalui berbagai jalur, terutama game dan medsos. Fenomenanya jelas, faktual, dan tentu meresahkan.
Pada saat yang sama, keluarga memiliki peran penting dalam membangun karakter, nilai, dan pandangan dunia anak—karena mereka adalah lawan interaksi sejak dini. Artinya, dalam konteks pencegahan radikalisasi, keluarga bisa berfungsi sebagai benteng pertama guna mencegah anak dari terpapar ideologi transnasional dan ekstremis. Caranya beragam, mulai dari pendidikan, monitoring, hingga keteladanan.
Sejak awal, sebagai contoh realisasi, anak dididik—terutama bapak dan ibu—bahwa Islam yang ia anut merupakan agama rahmat bagi semesta. Orang tua mesti menanamkan wasatiah Islam, sehingga anak-anak tidak suka dan sangat antipati kekerasan, apalagi terorisme. Apa yang keluarga didikkan kepada anak, itulah gambaran mereka ketika dewasa. Kalau sejak dini diajarkan kekerasan, maka kelak mereka berpotensi jadi radikal-teroris.
Selain dididik, mereka juga perlu dipantau atau dimonitoring. Sekalipun main game atau nonton anime belaka, anak-anak muda tidak boleh dilepas begitu saja—yang biasanya karena keluarga sibuk bekerja. Mereka harus dimonitor rutin; apa yang mereka tonton; apa yang mereka mainkan; dan dengan siapa mereka berinteraksi. Awasi jangan sampai tontonan dan game mereka ternyata dirasuki propaganda transnasional-ekstremisme.
Pada saat yang sama, sepanjang waktu, orang tua juga mesti jadi teladan anak dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai wasatiah yang diajarkan kepada anak-anak lebih mudah tertanam jika orang tua menunjukkan keteladanan itu sendiri. Fun fact-nya, orang-orang HTI dan kaum jihadi-teroris melestarikan iklim radikal dengan menjadi contoh radikal kepada anak mereka, juga menyekolahkannya di lembaga pendidikan yang terafiliasi.
Tantangan Aktualisasi Peran Keluarga
Di situlah peran keluarga bersifat sentral. Tetapi, meskipun sangat krusial, keluarga memiliki sejumlah tantangan yang harus dihadapi dalam mengaktualisasi peran mereka. Salah satu tantangan terbesar adalah minimnya pemahaman sebagian orang tua tentang wasatiah itu sendiri. Tak jarang, ada orang tua yang justru secara tidak sadar membiarkan anak mereka terjangkit radikalisasi akibat ketidaktahuannya ihwal edukasi keislaman.
Selain itu, dinamika sosial-ekonomi juga memengaruhi bagaimana keluarga menjalankan peran tersebut. Di keluarga dengan tekanan ekonomi yang tinggi, perhatian terhadap pendidikan anak dan nilai-nilai yang mereka terima mungkin tidak pernah jadi prioritas. Dalam kondisi seperti itu, anak-anak lebih rentan untuk mencari dukungan dan pemahaman dari luar keluarga, dan kemudian terjerembab radikalisasi.
Lantas, bagaimana mengatasinya? Diperlukan sinergisitas pemerintah, lembaga pendidikan, dan keluarga dalam memberikan edukasi kepada anak. Apa yang orang tua didikkan harus mendapat perluasannya di sekolah, dan apa yang diajarkan di sekolah harus di-support oleh pemerintah. Selama ini, yang terjadi kerap sebaliknya. Di sekolah diajarkan wasatiah, di rumah malah dicetak jadi radikalis—atau sebaliknya.
Sebab, sekali lagi, keluarga adalah benteng pertama dan utama dalam kontra-radikalisasi bagi anak. Dengan mengaktualisasikan peran keluarga sebagai tempat pertama untuk menanamkan nilai-nilai wasatiah, memonitor aktivitas digital anak, serta memberi teladan kontra-radikalisme, radikalisasi yang berseliweran di berbagai platform tidak akan lagi bisa merusak generasi muda. Kuncinya di resiliensi yang ditanamkan dalam keluarga.
Kalau bukan keluarga yang menjadi sentral kontra-radikalisasi, siapa lagi? Kelompok transnasional dan kaum jihadis tidak akan pernah berhenti bergerilya dan memperbarui siasat-siasat mereka. Membentengi diri bagi setiap keluarga adalah jurus paling niscaya.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…








Leave a Comment