Menutup Celah Eksklusivisme Beragama Perusak NKRI

Harakatuna

12/09/2024

4
Min Read
Transisi Pemerintahan Baru

On This Post

Harakatuna.com – Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia yang dinantikan banyak pihak tidak luput dari perhatian berbagai kalangan. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama yang menjunjung tinggi pluralisme dan toleransi, kunjungan kemarin merupakan simbol persaudaraan antarumat beragama dan kesempatan memperkuat dialog lintas agama. Tapi, apakah semua pihak beranggapan secara positif? Ternyata tidak.

Tidak semua pihak menyambut lawatan Paus Fransiskus yang hanya tiga hari itu dengan tangan terbuka. Ada pandangan kontradiktif yang menyebut bahwa memberikan penghormatan kepada tokoh agama non-Muslim, seperti yang dilakukan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasarudin Umar dengan mencium kening Paus Fransiskus, sebagai bentuk kekufuran dan haram. Siapakah yang berpandangan demikian?

Dia adalah Ustaz Idrus Romli, seorang tokoh Muslim yang cukup masyhur di tanah air. Terkenal dengan dakwahnya yang konservatif, ia mengutarakan pendapat bahwa tindakan mengelu-elukan tokoh non-Muslim adalah haram dan wujud kekufuran. Hal itu dia sampaikan saat mengisi ceramah di suatu masjid, dan videonya beredar yang kemudian memantik kontroversi di tengah masyarakat.

Tentu, pandangan semacam itu dapat berbahaya bagi keberagaman dan persatuan Indonesia. Sebagai negara yang dibangun di atas fondasi Bhinneka Tunggal Ika, ide-ide eksklusivisme beragama tidak hanya bertentangan dengan semangat kebangsaan, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi keutuhan NKRI. Alih-alih merekatkan relasi antarumat, eksklusivisme justru memantik pertikaian dan segala bentuk kemudaratan.

Perlu digarisbawahi dan menjadi kesadaran semua pihak, bahwa eksklusivisme sebagai sikap atau pandangan yang menganggap bahwa hanya agama atau keyakinannya saja yang benar dan menolak keberadaan atau rasa hormat terhadap agama lain itu menentang sunah Nabi Muhammad Saw. Nabi merupakan sosok yang inklusif dan penuh belas kasih, yang legacy-nya atas hal itu dapat dilihat melalui Piagam Madinah.

Sikap seperti yang dipertontonkan dan diajarkan Ustaz Idrus Romli bahkan dapat memicu intoleransi, diskriminasi, dan pada akhirnya memecah-belah persatuan bangsa. Jika sikap eksklusif semacam itu dibiarkan, ia bisa menjadi celah yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang selama ini memang ingin merusak kerukunan beragama yang telah lama terjaga di Indonesia. Buktinya? Silakan lihat di medsos setelah video tersebut viral; banyak narasi yang mencoba mencaci-maki Paus dan mengufurkan sesama Muslim yang toleran.

Padahal, di dalam Islam sendiri, seluruh ajarannya justru mendorong untuk menghormati sesama manusia, termasuk mereka yang berbeda agama. Nabi Muhammad Saw. dalam banyak hadis juga mempertontonkan toleransi, kasih sayang, dan penghormatan terhadap non-Muslim: Kristen, Yahudi, dan paganisme di masa itu. Interaksi Nabi tidak sesempit yang Ustaz Romli ajarkan. Nabi mempersatukan umat, bukan memecah-belahnya.

Selain itu, dalam Al-Qur’an, umat Islam diajarkan untuk menghormati dan berbuat baik kepada orang-orang yang tidak memerangi mereka karena agama (QS. Al-Mumtahanah: 8). Karena itu, mengelu-elukan atau memberikan sikap hormat kepada tokoh agama lain sama sekali bukanlah tindakan yang haram atau bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan bagian integral dari Islam itu sendiri.

Untuk melawan eksklusivisme beragama semacam itu, perlu ditegaskan kembali bahwa toleransi adalah pilar utama yang menopang persatuan dan kesatuan. Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, misalnya, harus dilihat sebagai upaya memperkuat dialog dan kerja sama lintas agama, bukan sebagai ancaman bagi agama tertentu. Menghormati tokoh agama lain artinya hormat terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal—bukan kekufuran.

Penting untuk diingat juga bahwa NKRI adalah rumah bagi berbagai agama dan kepercayaan. Kemajemukan adalah kekayaan bangsa yang harus dirawat dengan baik. Ide-ide eksklusivisme yang hanya mengakui kebenaran pada agama atau keyakinan tertentu dan menolak keberadaan agama lain adalah ancaman serius terhadap fondasi negara-bangsa. Motif eksklusivisme beragam; boleh jadi iri hati karena ia tidak dapat penghormatan serupa.

Lantas bagaimana cara menanganinya? Upaya menutup celah eksklusivisme yang dapat mengarah pada radikal-ekstremisme bisa dilakukan melalui mainstreaming moderasi beragama. Konsep Islam rahmatan lil alamin harus ditegaskan sebagai landasan utama dalam beragama. Dengan pendekatan moderat, umat dapat menjalankan ajarannya tanpa harus menebar permusuhan kepada mereka yang berbeda keyakinan.

Di tengah gempuran ideologi transnasional yang sering kali membawa pesan intoleransi dan radikalisme, penting bagi para tokoh agama dan masyarakat untuk memperkuat narasi yang mendorong sikap inklusif, toleran, dan damai. Hal itu tidak berarti kita akan kehilangan identitas agama, tetapi semakin memperkuat jati diri sebagai umat yang berkontribusi positif dalam menjaga harmoni di tengah pluralitas bangsa.

Sekali lagi, kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia mesti dipandang sebagai simbol persaudaraan antarumat beragama, sebuah pengingat bahwa kita bisa berbeda dalam keyakinan tetapi tetap bersatu dalam kemanusiaan. Upaya menghormati tokoh agama lain dan menyambut mereka dengan tangan terbuka menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia tetap teguh memegang spirit Piagam Madinah ala Rasulullah.

Pada saat yang sama, eksklusivisme harus dilawan sekuat tenaga. Dengan menutup celah eksklusivisme beragama, kita tidak hanya mempertahankan keutuhan NKRI tetapi juga menegaskan kembali posisi negara ini sebagai negara dengan mayoritas Muslim yang toleran—role model moderasi beragama global: menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan sosial, sesuai amanat Pancasila. Mari rawat toleransi dan lawan eksklusivisme!

Leave a Comment

Related Post