Harakatuna.com – Momen hangat antara Paus Fransiskus dan Nasaruddin Umar, dari jabat tangan hingga cium kening, memperlihatkan toleransi yang sesungguhnya. Momen ini menyampaikan pesan bahwa toleransi masih hidup dan kuat di Indonesia, sekaligus membantah klaim sebagian pihak yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara agama karena mayoritas penduduknya beragama Islam.
Masuknya radikalisme di Indonesia menjadi bumerang bagi keharmonisan di antara pemeluk agama yang berbeda. Radikalisme muncul sebagai ancaman nyata, yang memecah belah persatuan. Banyak pemeluk agama di luar Islam yang dikafirkan, bahkan Indonesia sendiri diklaim sebagai negara kafir hanya karena tidak menerapkan sistem syariat. Hal ini jelas mengganggu kehangatan dan kebersamaan sebagai warga negara yang menjunjung tinggi pluralisme.
Kehadiran Paus kemarin secara tidak langsung mengajak warga Indonesia untuk tidak sibuk berpolemik soal perbedaan agama dan pemikiran. Masih ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan perbedaan, yaitu menegakkan perdamaian. Dengan perdamaian, hidup akan lebih sejahtera. Bukankah Islam yang sejati adalah agama yang mencintai perdamaian?
Islam sendiri bermakna keselamatan dan perdamaian. Makna ini memberikan pemahaman bahwa agama Semitik ini membawa nilai-nilai keselamatan dan kedamaian di tengah umat manusia, meskipun agamanya berbeda-beda. Perdamaian ini bisa tercapai jika sikap saling menghormati antar sesama tetap dijaga dan dijunjung tinggi. Tidak ada kebencian di antara sesama, melainkan cinta yang dihadirkan.
Makna perdamaian dalam Islam juga menolak sikap radikalis yang sempit dalam melihat kebenaran. Biasanya, orang yang radikal hanya melihat kebenaran terbatas pada apa yang mereka yakini dan ketahui, sementara keyakinan dan pengetahuan orang lain dianggap salah dan sesat. Sikap seperti ini sangat berbahaya dan jelas dapat menghilangkan perdamaian di antara sesama.
Kelompok radikalis seharusnya merasa malu melihat keharmonisan antara Paus dan Imam Besar Masjid Istiqlal. Perbedaan bukanlah alasan bagi tokoh-tokoh ini untuk tidak menyatukan cinta. Bahkan, perbedaan ini menghadirkan sinyal bahwa cinta dapat menjadi semakin kuat. Lalu, apa lagi alasan yang akan diutarakan oleh kelompok radikal untuk menolak perbedaan agama, apalagi perbedaan pemikiran di Indonesia?
Kehangatan antara Paus dan Imam Besar Masjid Istiqlal mengingatkan pada keharmonisan antara Nabi di masa kecil dan tokoh Nasrani, Bahira. Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengucapkan kata-kata yang menyesatkan ketika bertemu dengan Bahira. Justru, Nabi sangat senang bisa berjumpa dengan tokoh Nasrani yang bersih hatinya. Bahira pun merasa bahagia bertemu dengan Nabi, sampai-sampai ia berusaha menyelamatkan Nabi dari orang-orang yang hendak mencelakai beliau.
Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang menyakiti seorang dzimmi (non-Muslim yang hidup di bawah perlindungan umat Islam), maka aku adalah lawannya, dan aku akan melawan dia pada Hari Kiamat. (HR. Abu Dawud). Hadis ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap hak-hak non-Muslim yang hidup dalam masyarakat Islam.
Tidak ada alasan lagi bagi kelompok radikal untuk melihat perbedaan sebagai petaka. Justru, perbedaan seharusnya dilihat sebagai kekayaan yang memperkaya kehidupan bersama. Jika kelompok radikal masih risih dengan perbedaan ini, sebaiknya mereka tidak tinggal di Indonesia. Mereka bisa membentuk negara sendiri atau bergabung dengan simpatisan ISIS yang mengimpikan hidup penuh dengan perang.
Namun, tawaran ini mungkin tidak akan diterima karena mereka sebenarnya takut hidup dalam kesulitan. Mereka lebih memilih memanfaatkan kemudahan hidup di Indonesia sambil terus menyebarkan ide-ide radikal yang justru merusak persatuan. Karena itu, sangat penting untuk terus mempromosikan nilai-nilai toleransi dan saling menghormati.
Maka, jika ingin meniru Nabi Muhammad SAW, ikutilah sikap beliau yang sangat toleran terhadap perbedaan agama. Nabi mengajarkan kita untuk menghindari sikap yang menyakiti sesama, meskipun berbeda keyakinan dan pemikiran. Rasulullah SAW pernah bersabda: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Ahmad).
Bangunlah keharmonisan dan cinta di tengah umat beragama, sebagaimana Nabi Muhammad SAW menunjukkan keharmonisan saat bertemu dengan pendeta Nasrani, Bahira. Kehadiran Paus Fransiskus dan Nasaruddin Umar menunjukkan bahwa meskipun berbeda, kita bisa tetap saling menghormati dan mencintai. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua.
Semoga warga Indonesia mampu mengimplementasikan toleransi yang sesungguhnya, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi perdamaian. Karena, pada akhirnya, perdamaian dan cinta adalah jalan yang diajarkan oleh semua agama, terutama Islam. Semoga kita semua terus berupaya menciptakan dunia yang lebih harmonis.[] Shallallahu ala Muhammad.








Leave a Comment